Kesembuhan

Malaikat penyelamat di dalam

Ditulis oleh Gede Prama

Kehidupan adalah sebuah totalitas besar yang saling berhubungan. Pengandaian paling sederhana, setiap puncak gunung bersandingan penuh harmoni dengan jurang di sebelahnya. Setiap kesenangan juga bersandingan penuh harmoni dengan kesedihan. Penderitaan terjadi ketika manusia hanya mau kesenangan, tidak mau kesedihan.

Jika diteliti lebih dalam, tubuh hanya mengalami rasa sakit paling beberapa hari dalam setahun, tapi banyak manusia bercerita rasa sakit jauh lebih panjang dan lebih dalam dari ia bercerita kesenangan. Padahal ratusan hari dalam setahun manusia mengalami kesenangan. Hal yang serupa juga terjadi dengan virus corona.

Sudah lebih dari sepuluh tahun manusia mengalami pertumbuhan ekonomi tertinggi di sepanjang sejarah. Ia membawa berlimpah kesenangan. Sampai-sampai karbon dioksida di udara juga paling parah di sepanjang sejarah. Dan tentu saja alami jika puncak gunung pertumbuhan ekonomi bersandingan dengan virus corona. Ia sebuah ke-u-Tuhan yang tidak bisa ditolak.

Agar para sahabat menemukan rumah ke-u-Tuhan, virus corona mirip cahaya matahari panas yang mengambil banyak kelembaban. “Kelembaban” yang sedang diambil oleh virus corona adalah hidup yang dangkal di dunia material. Ancaman kematian yang dibawa virus corona memaksa banyak manusia untuk memasuki dunia spiritual yang jauh lebih dalam.

Dengan cara pandang seperti ini, lebih sedikit energi yang bocor di dalam, lebih sedikit ketakutan yang menghantui di dalam. Pada saat yang sama, benih-benih kedamaian mulai muncul di dalam. Perpaduan antara energi yang tidak lagi bocor, ketakutan yang menurun, kedamaian yang menaik, itulah yang malaikat penyelamat di dalam diri Anda.

Penulis: Guruji Gede Prama
Photo courtesy: Unsplash

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.