Kesembuhan

Senyuman indah dari Bali

Ditulis oleh Gede Prama

Dunia kekerasan dan ketakutan memasuki bab baru. Di bab sebelumnya, sumber ketakutan dan kekerasan adalah bom teroris. Sekarang sumbernya virus corona. Dan di putaran waktu ketika teroris sangat ditakuti, hanya di Bali bom teroris tidak diikuti oleh kemarahan berlebihan. Sebaliknya, diikuti oleh semakin banyaknya suara Genta Perdamaian dari Bali. Tidak sedikit konferensi tingkat tinggi untuk tujuan kedamaian dilakukan di Bali pasca bom Bali.

Di bab kali ini, bukan tidak mungkin sejarah akan terulang kembali. Kendati ada wisatawan yang wafat di Denpasar karena virus corona, tidak ada tanda-tanda kepanikan di Bali. Bagi sahabat yang mendalami jejak-jejak sejarah, ketenangan ala orang Bali sebenarnya telah berumur sangat tua.

Perhatikan nama-nama orang Bali zaman dulu: “Wayan Sabar, Nengah Tenang, Nyoman Terima, Ketut Polos”. Ia bercerita tentang akar-akar kesabaran dan ketenangan dalam budaya Bali. Kawan-kawan yang sering terlibat pembangunan tempat suci di Bali mengerti, daya magis tempat suci di Bali akan lebih tinggi jika tukangnya diizinkan bekerja dengan penuh ketenangan.

Dibekali akar kesejarahan yang demikian kuat, sangat disarankan pada semua sahabat untuk berespon penuh ketenangan di tengah dunia yang sangat tidak tenang. Sahabat pemimpin khususnya, dunia memang sangat tidak tenang, tapi ini saatnya untuk berevolusi dari Bali sebagai “tontonan” menjadi Bali sebagai “tuntunan” dunia. Tentu saja menuntun dunia dengan penuh ketenangan.

Dan yang berada di barisan depan dalam proses evolusi ini tentu saja pemimpin. Dalam sejarah kepemimpinan di Timur umumnya dan Bali khususnya, pernah dipahat dengan tinta emas pesan seperti ini: “Seorang pemimpin akan mengambil piring terakhir ketika semua orang makan, namun akan berada di barisan paling depan ketika negara sedang berperang”.

Kawan-kawan di dunia pariwisata yang sudah berjumpa banyak wisatawan pasti sering mendengar pendapat seperti ini dari wisatawan. Yang paling menarik di Bali adalah senyuman orang Bali. Dan di putaran waktu ini, mari kita tunjukkan ke dunia senyuman orang Bali tidak saja di permukaan. Tapi juga mengakar pada ketenangan sikap dalam menghadapi keadaan.

Penulis: Guruji Gede Prama
Photo courtesy: Unsplash

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.