Kesembuhan

Karena virus Corona, hari raya Nyepi jadi mendunia

Ditulis oleh Gede Prama

Sudah puluhan tahun sejumlah sahabat di Bali berjuang ke sana ke mari agar hari raya Nyepi bisa dilakukan lebih luas dari sekadar di Bali saja. Dan ternyata belum berhasil. Anehnya, begitu dunia dibikin super takut oleh virus corona, banyak kota-kota besar dunia jadi sepi. Persis sama dengan suasana jalanan di Bali ketika hari raya Nyepi.

Jauh sebelum bumi dibikin sangat takut oleh virus corona, antropolog sosial Carlos Castaneda sudah lama mengingatkan: “Semakin keras manusia menggunakan kepala, semakin gelap dunia”. Pertumbuhan ekonomi yang tertinggi di sepanjang sejarah yang dicapai oleh zaman ini tentu saja berkah. Namun ia meninggalkan ongkos ekologi yang melahirkan musibah.

Jika ditarik ke akarnya, manusia bertumbuh terlalu banyak menggunakan kepala. Di tengah kegelapan zaman seperti ini, inilah saatnya bertumbuh dari head (kepala) menuju heart (hati). Setelah sampai di heart, kemudian ada kemungkinan manusia mencapai hara (titik pusat di dalam, letaknya 3 jari di bawah pusar).

Jika bahasa head adalah kepintaran, bahasa heart adalah kebaikan, bahasanya hara adalah keheningan. Tidak mudah bagi orang biasa untuk melewati tangga-tangga ini. Namun melihat begitu gelapnya dunia oleh ketakutan, sepertinya tidak ada pilihan lain selain harus bertransformasi ke sana. Pilihannya tidak mudah: “Berubah atau mati”.

Untuk melangkah dari kepintaran menuju kebaikan, layak direnungkan untuk melakukan media diet (secukupnya saja berinteraksi di media yang menebar ketakutan), kemudian fokus pada melaksanakan kebaikan. Setidaknya di keluarga. Peneliti energi sudah lama menyebutkan, vibrasi hati jauh lebih tinggi dari vibrasi kepala.

Jika seseorang telah sampai di hati saja, kemungkinan selamatnya sudah tinggi sekali. Terutama karena virus bervibrasi di tingkat energi di bawah 100, sedangkan kebaikan bervibrasi di atas 550. Jauh sekali bedanya. Lebih-lebih jika para sahabat bisa sampai di tingkat keheningan (hara), kondisi sepenuhnya damai (Shanti) membuat seseorang bervibrasi di tingkat 1.000.

Dan virus corona rupanya bukan sembarang virus, ia tangan rahasia yang menyamar. Yang memaksa umat manusia bertransformasi dari kepala menuju hati. Kemudian belajar “istirahat” di titik pusat di dalam (hara). Dalam bahasa tetua Bali: “Rwa bhinedane tampi”. Bila mau hening, belajar bersahabat dengan dualitas seperti baik-buruk. Di keluarga Compassion, ia disederhanakan menjadi: “terima, mengalir, senyum”.

Siapa saja yang bisa sampai di tingkat ini, dia akan mengerti melalui pencapaian – bukan melalui perdebatan – apa yang disebut tetua Bali dengan “Magentha suaraning sepi”. Doa tidak lagi dihantar oleh suara yang riuh, tapi dihantar oleh jiwa yang utuh dan penuh. Jiwa jenis ini sudah sampai di rumah indah ke-u-Tuhan. Di keluarga Compassion, orang jenis ini diberi gelar S3 (senyum senyum saja).

Selamat hari raya Nyepi. Semoga semua mahluk tumbuh dalam harmoni.

Penulis: Guruji Gede Prama
Foto: Suasana kota London beberapa hari terakhir, foto diambil dari BBC World

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.