Kesembuhan

Matahari Terbit dari Bali

Ditulis oleh Gede Prama

“Science is the contemporary language of mysticism”, begitu pernah terdengar. Artinya, pengetahuan adalah bahasa kontemporer kaum mistikus di zaman ini. Jika generasi baru diberi dogma tentang pengetahuan dari masa lalu, mereka dijamin lari. Tapi jika kearifan tua “dibahasakan” dengan pengetahuan kontemporer, ada kemungkinan kearifan tua bisa berbagi Cahaya.

Fisikawan bernas Fritjof Capra dari Wina Austria telah lama menulis di maha karyanya “The Tao of Physics”, pengamat ikut mempengaruhi perilaku atom. Ilmuwan menyentuh dari Jepang Dr. Masaru Emoto menghasilkan maha karya berpengaruh. Intinya, bentuk partikel air berubah ketika kata-kata yang diucapkan di depan air berbeda. Berlimpah jumlah ilmuwan yang menyebut “mind over matter”. Pikiran manusia bisa mempengaruhi alam sekitar. Termasuk bisa menyembuhkan tubuh.

Itu bahasa pengetahuan kontemporer yang umurnya belum 100 tahun. Sejalan dengan temuan kontemporer ini, tetua Bali sudah sejak ribuan tahun lalu “melaksanakan” (tidak saja mengucapkan) prinsip sederhana namun mendalam: “Manusia bisa ikut menjaga keselamatan dan keseimbangan alam melalui pikiran, ucapan dan tindakan”.

Perhatikan apa yang dilakukan tetua Bali berikut ini. Di mana ada hutan yang dirasakan suci dan sakral, di sana tetua mendirikan tempat suci. Di beberapa tempat bahkan disebarkan monyet. Dari salah satu segi, itu cara tetua Bali tidak saja menjaga alam, tapi juga menjaga generasi berikutnya agar selalu dekat dengan alam sekitar. Bahasa kontemporernya adalah keterhubungan spiritual.

Di semua desa di Bali ada Pura Merajan sebagai ungkapan rasa cinta yang mendalam pada orang tua dan leluhur. Ia tidak saja bercerita tentang penghormatan tetua pada leluhur, tapi media pengingat pada generasi berikutnya, rasa cinta dan bhakti yang mendalam adalah kekuatan yang sangat menyelamatkan di alam ini. Bahasa kontemporernya love heals (cinta kasih menyembuhkan).

Warisan kearifan tetua Bali yang masih terdengar nyaring sampai sekarang adalah Tri Hita Karana. Generasi berikutnya diminta dengan hormat untuk menjaga keseimbangan antara alam, manusia dan Tuhan. Bahasa kontemporernya disebut epygenetics. Gaya hidup manusia tidak saja bisa mengubah alam sekitar, tapi juga mengubah gen di dalam dirinya.

Ringkasnya, di zaman yang dibikin sangat takut oleh virus corona ini, inilah saatnya memadukan antara pengetahuan kontemporer dengan kearifan tua. Dunia boleh panik, di AS orang bahkan antre membeli senjata api, mari tunjukkan ke dunia, Bali tidak saja mengerti bahasa kontemporer, tapi juga tetap memiliki akar kesejarahan yang kuat dengan masa lalu.

Penyair besar India Rabin Dranath Tagore pernah datang ke Bali puluhan tahun yang lalu, kemudian menyebut Bali “morning of the world”. Ini saatnya bercerita ke dunia, ada matahari sangat indah yang terbit di pulau cinta kasih Bali.

Penulis: Guruji Gede Prama
Photo by Dan the Drone on Unsplash

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.