Kesembuhan

Keajaiban rasa syukur

Ditulis oleh Gede Prama

Sejarahwan berpengaruh zaman ini Prof. Harari berkali-kali menulis dan mengemukakan: “Manusia telah menjadi Tuhan di muka bumi. Jika semua ciptaan lain seperti binatang dan tetumbuhan jumlahnya menurun karena ulah manusia, jumlah manusia malah mengalami ledakan serta terus menaik”. Boleh setuju boleh tidak, yang jelas manusia memiliki kekuatan untuk ikut memperindah alam sekitar.

Agar para sahabat dekat ikut mencipta wajah alam sekitar agar semakin indah, sebaiknya merenungkan rangkaian pikiran sederhana ini. Ketika manusia mengeluh, tanpa disadari ia sedang bercerita pada otaknya di dalam: “Hidup ini penuh masalah dan tidak memuaskan”. Otak kemudian memproduksi hormon stres seperti cortisol yang membuat sistim kekebalan tubuh melemah, sistim pencernaan terganggu. Ujungnya bisa jatuh sakit. Lebih dari itu, manusia jenis ini bervibrasi di tingkat energi yang sangat bawah. Sama dengan vibrasi virus corona dan penyakit lainnya. Ringkasnya, manusia jenis ini mengundang datangnya penyakit untuk dirinya sendiri.

Sebaliknya, ketika para sahabat dekat tekun dan tulus bersyukur, Anda sedang bercerita ke otak di dalam: “Saya sedang menerima banyak hal dari Tuhan dan kehidupan. Betapa indahnya hidup ini”. Otak kemudian memproduksi hormon-hormon bersahabat dengan kesembuhan dan kebahagiaan seperti dophamin dan serotonim. Akibatnya, tubuh tidak saja sehat, perjalanan jiwa juga selamat. Di jalan ini, para sahabat bervibrasi di tingkat energi yang lebih tinggi. Jauh lebih tinggi dari vibrasi penyakit mana pun. Pada saat yang sama, tubuh Anda mirip taman bunga indah yang mengundang datangnya kupu-kupu indah.

Tubuh manusia yang bervibrasi di tingkat inilah yang mudah mengundang datang keberlimpahan, energi berkarya yang tidak pernah habis, serta tidak terhitung keajaiban lainnya. Dan ini dibenarkan oleh disiplin ilmu epigenetics. Di mana gaya hidup manusia (llife style) berperan besar dalam mengubah tubuh dan kehidupan. Termasuk bisa mengubah gen yang bersangkutan. Itu juga sebabnya, kenapa setiap kali keluarga Compassion berbagi Cahaya, ribuan sahabat diajak bernyanyi, tepuk tangan, tertawa, sesungguhnya para sahabat sedang diangkat vibrasi energinya. Sehingga bervibrasi di tingkat yang jauh lebih tinggi dari penyakit mana pun.

Tidak semua orang bisa kami sembuhkan dan selamatkan. Yang layak disyukuri, pak Wayan Terima dari Bangli Bali datang ke kelas meditasi ditemani kursi roda. Di hari ke sekian, beliau bisa jalan kaki sampai sekarang. Pria yang berumur di atas 80 tahun ini sekarang ceria sekali. Jika ketemu sering bercanda seperti ini: “Guruji, boleh tidak menikah lagi?”. Mbok Wayan Weti dari Denpasar Bali pernah terkena kanker paru-paru stadium 4. Sampai sekarang masih suka bernyanyi. Sahabat sangat dekat di keluarga Compassion Wayan Nuraga, yang sering disebut biangnya tawa dan canda, tidak percaya dengan hasil lab di kota Denpasar. Dia kirim sampel darahnya ke Lab di Jakarta, kesimpulannya sama: “Sel-sel kanker nol”. Seorang wanita Jakarta yang telah lama pamitan mau mati karena positif hiv/aids, sampai hari ini tidak saja masih hidup tapi kesehariannya sangat ceria. Kesimpulannya: “bersyukur, bersyukur, bersyukur”

Penulis: Guruji Gede Prama
Photo courtesy: Twitter @KariJoys

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.