Kesembuhan

Diri sejati yang sangat menerangi

Ditulis oleh Gede Prama

Science is the contemporary language of mysticism. Ilmu pengetahuan adalah bahasa kontemporer kaum mistikus di zaman ini. Untuk itu, mari menemukan diri sejati yang menerangi melalui pengetahuan kontemporer. Menyegarkan ingatan apa yang diceritakan di FB live siang ini senen 6/4 2020. Bimbing diri Anda dengan pertanyaan: “Siapa sesungguhnya diri Anda yang sejati?”

  1. Di hari-hari pertama akan muncul diri historis (tempat, tanggal, waktu lahir, sekolah di mana). Begitu habis, muncul rasa takut menulis diri yang lebih dalam. Takut dibaca orang
  2. Kendati demikian, lampaui ketakutan, tulis hal-hal yang membuat Anda takut dan malu (pernah mencuri uang ketika kecil, melakukan aborsi saat remaja, motor ditangkap polisi)
  3. Tulis hal-hal yang membuat Anda terluka (tersinggung, terlukai, tidak bisa tidur, diikuti memori buruk). Tulis, tulis dan tulis
  4. Tulis hal-hal yang membuat Anda marah dan dendam (harga diri, status sosial lebih tinggi, kasta lebih tinggi, kelahiran roh tua, merasa lebih pintar)
  5. Tulis hal-hal yang membuat Anda sakit fisik dan mental (lelah, kerja berlebihan, luka jiwa dari masa kecil, dendam yang tidak sembuh-sembuh)

Setelah mencapai daftar setidaknya 2.000 daftar tentang diri Anda, kemudian dikelompokkan ke dalam diri historis, diri emosi, diri Anda secara fisik, diri sosial, diri yang terluka, sampai diri Anda secara spiritual (melihat Cahaya, meditasi yang damai, melihat penampakan ini itu). Yang perlu diwaspadai secara ekstra adalah diri yang terluka (tersinggung, dendam, diikuti memori buruk, tidak bisa tidur, dll).

Sekarang belajar melihat diri yang terluka dari berbagai sudut pandang. Dari segi Anda, itu cara jiwa untuk tumbuh semakin dewasa. Ingat, tanpa angin menerjang, layang-layang tidak terbang. Tanpa pisau yang melukai, bambu tidak menjadi seruling bersuara indah. Dari segi orang yang melukai, mereka melukai karena luka jiwa mereka yang sangat dalam (bukan karena kejahatan). Sehingga mawar memaafkan mekar indah di dalam. Dari segi kedua belah pihak, itu cara Anda membayar kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan di masa lalu. Sehingga hutangnya LUNAS.

Jika tekun dan tulus melihat diri yang terluka dari berbagai segi, suatu hari cengkeraman diri yang terluka mulai melonggar. Tandanya, tidak lagi sering dikunjungi memori buruk. Saat ingat orang yang melukai, marah dan dendam tidak muncul. Ketika ada orang bercerita bahwa orang melukai hidupnya bahagia, Anda tidak iri. Yang paling bagus jika bisa berbuat baik pada orang melukai sampai di alam mimpi.

Begitu semua ini terjadi, di sana terbit matahari diri yang sejati. Yakni the witnessing self (Anda adalah seorang saksi yang penuh harmoni). Di tingkatan ini, kebanyakan emosi negatif seperti marah dan dendam sembuh. Pikiran Anda akan sangat positif. Karena pikiran serba positif, otak tidak lagi mengirim hormon-hormon stres seperti cortisol yang merusak tubuh.

Sebaliknya, otak lebih banyak mengirim hormon bersahabat seperti dophamin dan serotonim yang membuat semua sistim di dalam tubuh (kekebalan tubuh, pencernaan, dll) membaik. Itu secara fisik. Secara mental, karena Anda lebih jarang marah, Anda akan dikelilingi oleh orang-orang yang berhati indah. Sehingga energi di sekeliling Anda sangat sehat.

Secara spiritual, Anda mulai bervibrasi setidaknya di tingkat energi 550 (cinta kasih). Bagus jika bisa bervibrasi di tingkat 750 (compassion). Apa lagi 1.000 (sepenuhnya damai). Semua ini membuat para sahabat terlindungi. Sekaligus tumbuh penuh harmoni.

Selamat datang di rumah sejati jiwa-jiwa yang indah. Di keluarga spiritual Compassion, Anda diberi gelar S3 (senyum senyum saja). Sekaligus Anda adalah seorang pembawa Cahaya

Penulis: Guruji Gede Prama
Foto persembahan keluarga Compassion

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.