Kesembuhan

Dialog bersama senyuman di dalam

Ditulis oleh Gede Prama

Di budaya Barat yang eksplisit, dialog ke dalam kadang disebut dialog dengan Tuhan. Makanya Neale Donald Walsch memberi judul bukunya Conversation With God. Di dunia Timur yang halus dan implisit, lain lagi cara mengungkapkan dialog di dalam. Berikut dialog pagi ini dengan senyuman di dalam (SDD).

Penanya: Ada yang berkomentar ilmu sifatnya sementara. Serta disarankan untuk ditinggalkan di belakang. Apa benar?
SDD: Pendapat itu benar dan layak dihormati. Yang perlu diendapkan lebih dalam, ajaran suci mirip obatnya dokter. Tatkala dokter menulis resep, dia tahu obat yang diresepkan hari ini tidak akan menyembuhkan beberapa puluh tahun lagi. Tapi dokter harus menyembuhkan pasien di depannya yang sedang sakit. Sehingga obat mesti diberikan. Sesuai bioritme alam saat ini

Penanya: Kalau begitu, apa motif orang yang menyebutkan bahwa segala ilmu harus ditinggalkan di belakang?
SDD: Soal niat hanya yang bersangkutan yang tahu. Ada beberapa jenis Guru yang suka melakukan pendekatan seperti ini. Mungkin ajarannya terlalu tinggi untuk konsumsi masyarakat orang kebanyakan. Mirip dengan mengajarkan fisika kuantum pada anak-anak TK. Mungkin ada murid yang bisa diangkat dengan ajaran setinggi itu. Tapi jumlahnya sangat sedikit. Serta sulit ditemukan

Penanya: Apakah mungkin ada rasa iri, atau mau menjatuhkan orang di balik pendapat seperti ini?
SDD: Lebih sedikit mengisi pikiran dan hati dengan dugaan-dugaan negatif lebih bagus. Ia belum tentu meracuni ke luar. Tapi ia pasti meracuni ke dalam

Penanya: Tapi publik bisa salah mengerti. Dibelokkan ke tempat yang kurang tepat?
SDD: Tidak perlu khawatir. Di alam ini ada hukum. Lumpur temannya cacing. Lotus indah temannya kupu-kupu indah. Belajar melatih diri agar mengalir bersama sang hukum. Hormati orang yang bertumbuh dengan cara yang berbeda. Dan cacing tidak lebih rendah dari lotus indah. Cacing juga punya tugas mulya untuk mempersubur tanah.

Penanya: Jika begitu, apa pedoman publik dalam memilih ajaran dan Guru yang tepat?
SDD: Sulit memisahkan antara air dan wadahnya. Ajaran suci mirip air bersih. Jika wadahnya kotor, sulit membayangkan airnya juga tidak kotor. Dengan demikian, ketika memilih ajaran suci dan Guru suci, lihat juga wadahnya (baca: hidup yang bersangkutan). Mahatma Gandhi adalah tokoh yang jernih dalam hal ini: “My life is my true speech”. Hidup beliau adalah ceramah beliau yang paling jujur. Dengan demikian, disamping belajar dari keindahan kata-kata seseorang. Lihat juga hidup yang bersangkutan. Belajarlah dari Guru yang hidupnya layak ditiru dan ditauladani

Penanya: Termakasih. Merunduk yang dalam
SDD: …………………………………………………………… Tidak terdengar suara. Hanya rasa syukur mendalam yang muncul di dalam hati

Penulis: Guruji Gede Prama
Photo by Hanny Naibaho on Unsplash

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.