Kesembuhan

Pelampung yang menyelamatkan

Ditulis oleh Gede Prama

“Jangan dengarkan kata-kata Donald Trump berkaitan dengan virus corona. Yang berkuasa sekarang adalah gubernur”, begitu bunyi sebuah pesan di AS. Di Australia lain lagi: “Jumlah penduduk Australia 25,4 Juta. Yang wafat karena virus corona hanya 97 orang. Jadi hanya 0,0003 %. Buka lock down sekarang!”. Begitulah dunia dibikin riuh dan keruh karena virus corona.

Tidak banyak yang jernih berkaitan dengan hal-hal mendasar seperti ini. Pertama, pikiran kolektif manusia yang keruh dan riuh bisa mengundang datangnya banyak petaka. Di dunia fisika quantum telah lama dibagikan, pikiran (apa lagi pikiran kolektif) bisa mengubah hal-hal kecil seperti atom, bisa juga mengubah hal besar seperti aura bumi.

Kedua, di dunia neuro-science (otak manusia) sudah diceritakan lama, stres berlebihan bisa merusak kekebalan tubuh. Jika yang stres jumlahnya miliaran, yang wafat juga bisa miliaran. Ketiga, menjadi pemimpin adalah menjadi jernih di tengah lingkungan yang keruh. Saat kebanyakan pemimpin keruh, itu tanda dunia sedang tumbuh tanpa pemimpin (leaderless world).

Jika itu benar, mari belajar menjadi pemimpin bagi diri sendiri. Setidaknya pemimpin keluarga. Langkah praktisnya, dunia boleh keruh tapi pikiran Anda jangan izinkan ikut-ikutan keruh. Apa lagi panik. Jangan pernah. Kedua, jauhkan diri dari segala bentuk stres. Lepaskan harapan bahwa hidup mesti begini dan begitu. Buka pikiran lebar-lebar agar bisa mendekap apa saja yang datang.

Di atas semuanya, bimbing diri untuk selalu bersyukur di sepanjang perjalanan. Hati yang bersyukur, itulah pelampung yang sangat menyelamatkan di tengah dunia yang tenggelam oleh lautan keriuhan.

“Buku Suci” Keluarga Compassion: https://play.google.com/store/books/details?id=BMXgDwAAQBAJ
Pusat pelayanan pencegahan bunuh diri (P3B) keluarga Compassion: 0361 845 5555

Penulis: Guruji Gede Prama
Photo courtesy: Twitter

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.