Kesembuhan

Bali, My LOVE

Ditulis oleh Gede Prama

Hari ini 22 mei 2020 puncak Gunung Agung Bali dipotret oleh banyak orang. Yang unik, di puncaknya ada awan berbentuk payung yang sangat indah menawan. Para sahabat boleh punya penafsiran berbeda, tapi di Ashram Avalokiteshvara terdengar pesan begini: “Bali sedang bergeser dari tontonan dunia, menjadi tuntunan dunia”. Banyak bukti yang bisa diajukan di sini.

Persis setahun, sebulan dan sehari setelah bom teroris paling menakutkan terjadi di AS (11-9-2001), bom teroris terjadi di Bali. Tatkala itu kekuatan paling ditakuti di bumi adalah bom teroris. Dan telah dicatat rapi oleh sejarah, jika bom di AS diikuti oleh banyak tembakan peluru di Irak dan Afganistan, di Bali tidak ada batu kecil pun yang dilemparkan ke rumah bukan orang Bali.

Di tahun 2020 ini, kekuatan yang paling ditakuti di muka bumi adalah virus corona. Tidak terhitung media asing, media lokal, maupun pemimpin negara yang menoleh kagum pada Bali. Presiden RI Joko Widodo berkali-kali menyatakan secara resmi: “Belajar dari apa yang dilakukan oleh orang Bali”. Dan memang angka-angka statistik sangat mendukung.

Jika bom teroris di Bali tahun 2002 diikuti oleh banyak penghargaan dunia – dari sebutan pulau terindah di dunia oleh sejumlah media dunia, sampai disebut pulau cinta kasih oleh penulis AS terkemuka Elizabeth Gilbert – sehabis krisis corona ini, bukan tidak mungkin akan lahir penghormatan lain yang datang dari penjuru dunia.

Catatannya kemudian, jangan pernah menggunakan pujian orang untuk merendahkan orang lain. Gunakanlah pujian orang untuk memulyakan orang lain. Sambil ingat, di Bali mahluk bawah yang menakutkan diberi suguhan, dibikinkan rumah bernama penunggun karang. Tikus diberi nama terhormat yakni jero ketut.

Ia membawa pesan yang sama dengan pesan yang dibawa oleh virus corona: “Imbangi persembahan ke atas dengan kasih sayang ke bawah”. Mahluk bawah, termasuk virus corona, tidak sedang menyerang. Tapi membantu jiwa agar memancar semakin terang. Jika tekun dan tulus “melaksanakan” ajaran ini, akan terbit matahari sangat indah dari pulau Bali.

Penulis: Guruji Gede Prama
Foto milik beberapa akun FB yang dipublish hari ini

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.