Kesembuhan

Membaca tanda-tanda Cahaya…

Ditulis oleh Gede Prama

Belum pernah ada putaran zaman yang seterang ini tanda-tandanya.

  1. Di mana-mana orang bibirnya ditutup masker: “Kurangi berbicara. Dalami alam rasa”.
  2. Keramaian ditakuti banyak orang: “Pusat kebahagiaan bergeser. Dari keramaian menuju kesendirian yang penuh penerimaan”.
  3. Krisis terjadi paling parah di negara yang pemimpinnya berbicara sembarangan: “Kurangi memimpin dengan kata-kata. Memimpinlah dengan tindakan nyata”.
  4. Teknologi informasi mengubah semua sendi kehidupan: “Teknologi boleh mencuri banyak hal, tapi jangan izinkan ia mencuri cinta kasih di dalam”
  5. Dunia yang terbuka membuat beredarnya banyak berita palsu di luar: “Lebih baik tahu sedikit tapi sehat, dibandingkan tahu banyak tapi kiamat”
  6. Di mana-mana orang kembali ke keluarga: “Keluarga tidak saja taman jiwa terindah, tapi juga unit sosial yang paling menyelamatkan di zaman ini”.
  7. Dulunya manusia bertumbuh dari miskin menuju kaya: “Sekarang manusia bertumbuh dari kesepian menuju kemandirian. Terakhir istirahat dalam keheningan”
  8. Keheningan itulah musik terindahnya jiwa. Ditemani musik jenis ini, tubuh mudah sehat, keluarga mudah selamat. Makan mudah enak, tidur mudah nyenyak
  9. Kesimpulannya, keheningan adalah bahasa terindah Tuhan. Sisanya hanya kekeliruan dalam penterjemahan

P3B (Pusat Pelayanan Pencegahan Bunuh Diri) Keluarga Compassion 0361 845 5555
P3C (Pusat Pelayanan Pencegahan Perceraian) Keluarga Compassion 08233 5555 644

Penulis: Guruji Gede Prama
Photo courtesy: Twitter

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.