Kesembuhan

Mendudukkan Guru Sejati dalam posisi terhormat

Ditulis oleh Gede Prama

Berikut tiga contoh jiwa yang tidak saja sehat selamat karena mendudukkan Guru sejati dalam posisi terhormat, tapi juga tumbuh menjadi pembawa Cahaya bagi dunia dalam waktu lama.

  1. Bima di Hindu berkali-kali diberi perintah bohong oleh Gurunya Drona. Tapi bhaktinya yang sangat mendalam pada Guru sejati membuat ia melakukan perintah Gurunya secara tekun dan tulus. Ujungnya sudah dicatat sejarah, tatkala terjadi pertempuran gada mati-matian melawan Duryodana, nyawa Bima diselamatkan oleh Guru sejati bernama Shri Krisna.
  2. Di Buddha ada kisah Asangha yang berguru pada Buddha Maitriya (Buddha cinta kasih). Begitu cintanya ia sama Gurunya, ia cari Gurunya ke mana-mana dan tidak ketemu. Setelah lelah, suatu hari Asangha berjumpa anjing sakit, kotor, jorok, penuh belatung. Dibimbing keyakinan, anjing ini dirawat Asangha sebagai bentuk bhakti mendalam pada Gurunya. Begitu dalamnya bhakti Asangha pada Gurunya, belatung di tubuh anjing kotor ini dibersihkan menggunakan lidahnya sendiri. Agar tidak menyakiti. Setelah anjingnya bersih, ia berubah menjadi Buddha Maitriya. Karena sangat gembira, Asangha menggendong Gurunya keliling pasar. Dan semua orang menyebut Asangha sakit mental karena menggendong anjing kotor. Tapi ada seorang Ibu berhati sangat indah bisa melihat, kaki anjing itu adalah kaki Buddha Maitriya.
  3. Lama Atisha adalah Guru India yang mengalami pencerahan sempurna di Indonesia di zaman Sriwijaya. Pencapaian spiritualnya tidak ada yang meragukan. Di umur tua, Lama Atisha dirawat oleh seorang murid sangat dekatnya bernama Dromtonpa di atap bumi Tibet, secara sangat menyentuh. Dromtonpa mengalami pencerahan sempurna tatkala memindahkan kotoran Lama Atisha menggunakan tangan yang telanjang. Untuk dicatat baik-baik, Dromtonpa inilah yang di kehidupan berikutnya terlahir menjadi YMM Dalai Lama pertama. Sudah dicatat sejarah, YMM Dalai Lama XIV yang sekarang memperoleh hadiah nobel perdamaian di tahun 1989, menjadi warga negara kehormatan senat Amerika Serikat dan Kanada. Tidak kebayang, bhakti yang dilakukan di abad 11 masih berbuah demikian indah sampai di abad ini.

Pelajarannya, dudukkanlah Guru sejati di sebuah tempat terhormat di dalam hati. Lihat Guru sejati sebagai Cahaya yang meminjam tubuh manusia. Kemudian laksanakan apa-apa yang diajarkan. Keluarga sangat dekat Compassion sering diberikan pesan: “Perut yang tidak besar, keluarga yang tidak bubar, emosi yang tidak mudah terbakar”.

Untuk bisa sampai di sana, para sahabat dekat diminta namaskara setidaknya 100 ribu kali, menjawab pertanyaan “siapa diri saya” setidaknya dua ribu jawaban, serta diajak melakukan pelayanan panjang. Jika namaskara memurnikan, pelayanan menyempurnakan. Di atas semuanya, rasa sakit yang didekap dengan keikhlasan sempurna adalah penampakan Guru yang sangat memurnikan.

Di atas semuanya, selalu simpan di dalam hati: “Ia yang mendudukkan Guru sejati dalam posisi terhormat, sedang membuat perjalanan jiwanya juga dalam posisi terhormat”.

Penulis: Guruji Gede Prama
Foto: Ashram Avalokiteshvara tempat Guruji bermukim di Bali Utara. Foto diambil oleh si bungsu Ram

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.