Kesembuhan

Pengetahuan yang menyelamatkan

Ditulis oleh Gede Prama

Hari ini hari turunnya ilmu pengetahuan, sehingga layak merenungkan pengetahuan secara lebih dalam. Di tahun 2020 ini, AS adalah Guru dunia yang sangat bermakna. Pemenang hadiah nobel paling banyak jumlahnya dari sana, penyandang gelar doktor per kapita juga terbesar di dunia. Tapi bangsa ini mengalami kejadian yang sangat menyentuh hati.

Pelajarannya, pengetahuan tidak lahir untuk membuat pikiran dan hati jadi mengeras. Pengetahuan lahir untuk membuat pikiran dan hati jadi semakin lembut. Berikut renungan agar pengetahuan membuat pikiran jadi terbuka, serta melahirkan hati yang peka.

  1. Dari awal yang tidak berawal, kebenaran di kepala manusia tidak pernah absolut. Fisika ala Newton, fisika ala Einstein, fisika kuantum sampai hari ini tidak nyambung. Jika menyangkut ilmu eksakta saja, wajah kebenaran di kepala manusia tidak absolut, apa lagi menyangkut jiwa manusia yang jauh lebih halus.
  2. Undangannya, saat merasa menemukan “kebenaran”, jangan izinkan kepala dan hati langsung mengeras. Apa lagi menggunakan kebenaran untuk menyerang orang. Itu wajah pengetahuan yang berbagi bahaya. Meminjam filsuf Richard Rorty, kebenaran mirip cermin yang pecah. Pecahannya berserakan di mana-mana.
  3. Untuk itu, sebenar apa pun “kebenaran” kelihatannya, selalu sisakan sebagian ruang di pikiran untuk “kebenaran” orang lain. Sebuah buku suci tua mewariskan, pikiran manusia mirip sumur kecil yang dibuat oleh anak kecil di pinggir samudra. Sedangkah kehidupan seluas samudra. Jangan pernah mencoba memasukkan air samudra ke sumur kecil bikinan anak kecil.
  4. Karena demikian keadaannya, spirit bimbingannya dalam mencari bukan “saya benar dan orang lain salah”, melainkan “saya memegang pecahan cermin apa, orang memegang pecahan cermin yang mana”. Kemudian belajar merangkainya. Mirip dengan mendengarkan tiga orang buta yang memegang tiga bagian tubuh gajah yang berbeda.
  5. Yang memegang belalai mengatakan ular, yang memegang badan gajah menyebut itu tembok, yang memegang kaki mengatakan batang pohon. Pertanyaan bimbingannya bukan siapa yang benar, siapa yang salah. Melainkan mahluk apa yang di satu bagian mirip ular, di bagian lain serupa tembok, di bagian lain mirip batang pohon.
  6. Pakar fisika nuklir David Bohm menyebutkan, kata health (kesehatan) berasal dari kata whole (keseluruhan, kadang ditulis ke-u-Tuhan). Dengan kata lain. seperti helikopter, tarik diri ke atas, lihat kehidupan dari sebuah ketinggian. Cermati jejaringnya. Melangkahlah setelah yakin melihat ke-u-Tuhan. Jika tidak yakin, bungkus bibir dengan senyuman.
  7. Tidak semua “kebenaran” layak diungkapkan. Sebagian “kebenaran” hanya layak disimpan di dalam hati. Dan pengetahuan mana pun yang ditemukan, selalu bimbing diri dengan sikap yang indah. Ingat, di alam ini semua serba terhubung. Ia yang berbagi rasa sakit akan dapat rasa sakit. Ia yang berbagi senyuman akan dapat senyuman.
  8. Jika di dalam terasa sangat dewasa, apa lagi bercahaya, boleh mengikuti Saraha yang menyebut tubuhnya sebagai tempat suci tertinggi di muka bumi. Alias, Guru sejati ada di dalam diri. Tapi jika masih menggendong banyak luka jiwa, dibakar amarah, apa lagi sering diseret kekerasan, sebaiknya menemukan Guru sejati dalam sosok manusia yang hidup.
  9. Terutama karena Guru sejati dalam tubuh manusia adalah a living scripture (buku suci yang hidup). Ia bervibrasi di tingkat vibrasi yang sama dengan vibrasi manusia zaman ini. Susu sapi adalah Guru simbolik. Di tahun 1980-an disebut sebagai nutrisi sempurna. Di tahun 2000-an banyak penyembuh yang melarang minum susu. Bioritme alam yang berubah menuntut nutrisi jiwa yang juga berubah.
  10. Ingat jiwa-jiwa yang indah, di dunia binatang hanya lebah dan kupu-kupu yang bisa melihat keindahan bunga. Di dunia manusia, hanya ia yang di dalamnya kesejatian (baca: tulus, halus, penuh pelayanan), yang bisa menemukan Guru sejati. Kurangi bertanya siapa Guru sejati. Cukup kembangkang kesejatian di dalam.

Selamat berdoa di hari turunnya ilmu pengetahuan, sekaligus sehari menjelang munculnya bulan Purnama. Semoga semua jiwa mekar dalam kedamaian

P3B (Pusat Pelayanan Pencegahan Bunuh Diri) Keluarga Compassion 0361 845 5555
P3C (Pusat Pelayanan Pencegahan Perceraian) Keluarga Compassion 08233 5555 644

Penulis: Guruji Gede Prama
Foto persembahan keluarga spiritual Compassion

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.