Kesembuhan

Bali, My Love…

Ditulis oleh Gede Prama

Tidak sekali dua kali pulau Bali disebut sebagai pulau terindah di dunia. Seniman besar Rabindranath Tagore bahkan menyebut Bali sebagai surga terakhir. Penulis terkenal AS Elizabeth Gilbert menyebut Bali sebagai pulau cinta kasih. Dengan kata lain, dalam kadar tertentu Bali menjadi acuan dunia dalam sejumlah hal. Khususnya berkaitan dengan keindahan.

Jika dicermati, bentuk pulau Bali mirip kura-kura yang sedang berjalan ke arah Barat. Sehingga layak merenungkan simbol spiritual di balik kura-kura. Pertama, kura-kura itu berjalan lambat tapi tekun. Pesannya, krisis memang membuat ritme kehidupan jadi lambat. Tapi bimbing diri dengan ketekunan. Jangan mudah menyerah. Teruslah lakukan hal-hal indah.

Kedua, jika ada bahaya kura-kura akan berlindung ke dalam dirinya. Bimbingannya, temukan tempat berlindung di dalam. Diantara banyak tempat berlindung di dalam, yang paling aman dan paling nyaman adalah rasa syukur yang sangat dalam. Untuk itu, jangan izinkan krisis super panjang ini mencuri rasa syukur di dalam. Tabungan boleh berkurang, tapi rasa syukur jangan pernah berkurang.

Ketiga, di Buddha diajarkan, arah Barat adalah arah tanah suci Sukawati. Di mana banyak sekali mahluk yang diselamatkan di sana oleh Buddha Amitaba. Pesan implisitnya, cepat ambil jalan setapak menuju keselamatan. Tidak kebetulan jika nama Pura terbesar di Bali adalah Pura Besakih. Basukian artinya jalan menuju keselamatan. Di tengah krisis berbahaya ini, jalan ini sangat dibutuhkan.

Kesehatan memang bukan segalanya, tapi tanpa kesehatan segalanya jadi percuma. Untuk itu, mulailah jalan menuju keselamatan dengan merawat kesehatan. Di “buku suci” keluarga Compassion telah dibagikan, raja kesehatan adalah nutrisi yang tepat, ratunya olah raga yang pas, putera mahkotanya adalah tidur yang indah. Setelah melangkah yakin di kesehatan, naiki tangga kebahagiaan.

Sebagaimana telah ditulis di “buku suci” keluarga Compassion, saat di dalam terasa lelah, jumpai 3 titik pusat kebahagiaan di dalam. Jika sedang berpikir, jumpai titik pusat kebahagiaan yang pertama. Lihat semua dari sisi-sisi yang positif. Bila sedang terluka, jumpai titik pusat kebahagiaan kedua di hati (baca: belajar memaafkan). Seumpama sedang kerja, jumpai titik pusat kebahagiaan ketiga.

Menyatu rapilah dengan tiap panggilan kekinian. Kurangi terlalu keras memikirkan masa depan yang jauh. Fokuslah pada bertumbuh. Begitu kebahagiaan terasa stabil, masuki gerbang kedamaian. Itu sebabnya puncak doa tetua Bali adalah shanti (damai). Peneliti energi menyebutnya sebagai tingkat vibrasi energi tertinggi yang bisa dicapai tubuh manusia.

P3B (Pusat Pelayanan Pencegahan Bunuh Diri) Keluarga Compassion 0361 845 5555
P3C (Pusat Pelayanan Pencegahan Perceraian) Keluarga Compassion 08233 5555 644

Penulis: Guruji Gede Prama
Photo courtesy: Twitter

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.