Kesembuhan

Hubungan Yang Mencerahkan

Ditulis oleh Gede Prama

Barat tidak saja menjadi Guru dalam hal ilmu pengetahuan dan teknologi, tapi juga menjadi Guru dalam hal membuat bumi jadi lebih harmoni. Angka perceraian tinggi yang terus menaik, ditambah dengan semakin banyaknya orang yang berganti pasangan hidup bahkan sampai belasan sekali bercerita, bagaimana hubungan antarmanusia di sana banyak yang saling melukai. Bahkan tidak sedikit yang menyebut dengan toxic relationship (hubungan yang beracun). Tidak saja hubungan suami-istri beracun, sahabat psikolog di Barat banyak yang membuka rahasia, bahkan hubungan orang tua dan anak pun tidak sedikit yang beracun. Di Barat sering terdengar cerita, ayahnya pulang dalam keadaan mabuk kemudian melakukan pelecehan seksual bahkan pada puteri kandungnya sendiri.

Dalam kadar yang berbeda, di Timur juga beredar cerita serupa. Angka perceraian di Timur memang tidak separah di Barat, tapi di balik penampilan luar yang harmoni, tidak sedikit pasangan hidup yang tertekan dan sakit hati. Di umur tua biasanya ia terlihat dalam bentuk tubuh yang diserang penyakit ini dan itu. Di desa-desa di mana orangnya polos-polos, tidak sedikit orang tua yang mengaku sangat bosan tumbuh bersama pasangan yang sama selama puluhan tahun. Kebosanan jenis ini tidak saja bisa meracuni tubuh di dalam, tapi juga bisa meracuni lingkungan sekitar. Jika anak-anak mentalnya teracuni, ia akan menjadi beban yang sangat berat nantinya di usia tua. Belajar dari sini, mari merenungkan wajah hubungan yang lebih sehat. Di Barat ada yang menyebutnya dengan awakened relationship (hubungan yang mencerahkan).

Dari sini asal mulanya

Di dunia meditasi yang dipadukan dengan psikologi telah lama terdengar pesan seperti ini: “We do not respond to the reality outside but to the reality inside”. Tindakan manusia lebih banyak ditentukan oleh realitas yang diciptakan di dalam dibandingkan realitas yang terjadi di luar. Sebut saja seseorang yang memutuskan berpisah dengan pasangan hidupnya, yang lebih menentukan bukan kejadian di luar, tapi kekacauan pikiran dan perasaan yang terjadi di dalam. Dalam pikiran dan perasaan yang sangat kacau, bahkan api kecil di luar pun bisa sangat membakar. Dan kebakaran di dalam jenis ini adalah hasil percakapan dan pergumulan di dalam selama kurun waktu yang sangat panjang.

Agar para sahabat sehat selamat, mari merenungkan pesan indah Mark Matousek dalam “Writing to awaken”: “When you tell yourself the truth, your inner story change. When your inner story change, your life is transformed”. Sedihnya, dalam percakapan serta pergumulan di dalam, banyak manusia yang tidak memberi tahu dirinya secara jujur dan utuh. Hanya mau kelebihan, tidak mau kekurangan. Hanya mau kesenangan, tidak mau kesedihan. Hanya mau pujian tidak mau cacian. Padahal kehidupan selalu berputar seperti malam dan siang. Tidak ada kehidupan yang hanya berisi siang saja. Akibat kebiasaan tua hidup manja seperti ini, begitu ada perubahan cuaca sedikit saja di luar, ia bisa melahirkan kebakaran di dalam. Ini asal muasal dari toxic relationship (hubungan yang beracun).

Itu sebabnya di jalan menulis sebagai jalan kesembuhan, sangat disarankan pada para sahabat untuk menulis tentang diri sendiri yang lebih utuh. Mencakup baik sedih maupun senang, baik gelap maupun terang. “Healing, holy, whole come from the same source”, begitu pesan inti di jalan ini. Jika mau tersembuhkan di dalam, sekaligus memiliki hubungan yang sehat di luar, belajar membadankan ke-u-Tuhan (wholeness). Ingat, hanya ke-u-Tuhan di dalam yang bisa melahirkan ke-u-Tuhan hubungan di luar. Dengan demikian, jika mau tubuh sehat, keluarga selamat, sedini mungkin kembangkan hubungan yang utuh dengan diri sendiri di dalam.

Menulis sebagai salah satu jalan

Untuk sampai pada tingkatan hubungan yang utuh dengan diri di dalam, ada banyak jalan yang tersedia. Meditasi adalah salah satu pilihan. Mengembangkan percakapan yang utuh di dalam adalah pilihan lain. Yang disarankan oleh tulisan ini adalah menulis di tempat rahasia. Persisnya, memberi tahu diri sendiri tentang wajah diri yang lebih utuh. Mark Matousek menyebutnya memberitahu diri tentang kebenaran. Pertanyaan pembimbingnya sederhana namun dalam: “Siapa diri saya?”. Apa saja yang muncul di kepala tulis, tulis dan tulis tanpa filter buruk-baik, salah-benar, kotor-suci sama sekali. Begitu muncul di pikiran, tulis tanpa dipagari norma dan etika sama sekali. Ingat, ini buku rahasia yang hanya dibaca oleh diri Anda sendiri.

Sahabat di keluarga Compassion diminta menulis setidaknya dua ribu jawaban terhadap pertanyaan “siapa diri saya?”. Lebih bagus lagi jika bisa mencapai sepuluh ribu jawaban. Ia bisa memerlukan waktu yang lama untuk sampai di situ. Kenapa diperlukan sedemikian banyak jawaban, agar para sahabat bisa memberitahu diri di dalam sampai sedalam-dalamnya sekaligus seutuh-utuhnya. Jumlahnya sebenarnya nomer dua, tapi prosesnya yang nomer satu. Mirip dengan belajar apa saja – dari menulis sampai melukis, dari main gitar sampai main seruling – hubungan yang dekat dan kuat bersama obyek yang dipelajari hanya terjadi dalam waktu yang lama dan panjang.

Demikian juga dengan membangun hubungan yang utuh dengan diri sendiri. Dibutuhkan waktu yang lama dan panjang. Begitu suatu hari jawabannya sudah sepuluh ribu, simpan buku rahasianya di tempat rahasia. Dalam waktu cukup lama. Sampai agak lupa tentang apa-apa yang ditulis. Begitu melewati masa waktu lama, plus agak-agak lupa sedikit, buka kembali sepuluh ribu jawaban tentang siapa diri Anda. Yang negatif dikelompokkan ke dalam kelompok negatif. Yang positif dikelompokkan ke dalam kelompok positif. Di atas semuanya, bagikan senyuman penerimaan pada keduanya. Awalnya, kembangkan pemahaman bahwa Anda mencakup baik negatif maupun positif.

Kemudian belajar tersenyum indah sebagai seorang saksi di tengah. Sebagai bahan untuk memperkaya perjalanan jiwa, bahkan jiwa-jiwa suci pun memerlukan kesalahan di awal sebagai sarana pendewasaan diri. Sang Rama memanah kaki Subali ketika masih kecil. Pangeran Siddharta yang belakangan jadi Buddha mengecewakan ayahandanya di umur muda. Beda jiwa gelisah dengan jiwa yang indah sederhana, jiwa gelisah menolak sisi gelap dan negatif. Jiwa yang indah mensintesiskan negatif-positif di dalam sehingga melahirkan Cahaya. Bahasa meditatifnya menjadi seorang saksi di tengah. Psikolog yang mendalami percakapan di dalam menyarankan, untuk selalu menyapa memori buruk dan memori baik menggunakan senyuman yang sama.

Jika tekun dan tulus melakukannya, tidak mudah menyerah dalam kurun waktu yang lama, di sana seseorang bisa melahirkan ke-u-Tuhan di dalam. Cacian-pujian, sedih-senang, gagal-sukses semuanya mewakili tarian kesempurnaan yang sama. Semuanya berputar alami di alam ini. Air laut dibawa naik oleh cahaya matahari menjadi awan. Awannya jatuh jadi hujan. Air hujan mengalir melalui sungai serta kembali ke laut kembali. Begitulah lingkaran kesempurnaan berputar di alam ini. Di Timur ia disebut mandala (kesempurnaan). Mengulangi pesan sebelumnya, hanya ke-u-Tuhan di dalam yang akan melahirkan ke-u-Tuhan di luar (baca: bisa menerima pasangan hidup dan orang dekat secara utuh). Tatkala ke-u-Tuhan di dalam menyatu dengan ke-u-Tuhan di luar, di sana hubungan mekar indah menjadi hubungan yang mencerahkan (awakened relationship).

Tandanya sederhana, kedua belah pihak bertumbuh sehat dan indah. Pertumbuhan kedua belah pihak saling memperindah. Hubungan yang beracun (toxic relationship) kuantitas dan kualitasnya terus menerus menurun. Kalau pun masih ada, ia bisa segera dinetralisir. Di jalan tua dan indah ini, sering terdengar pesan seperti ini: “kurangi terlalu bertenaga untuk membuat orang lain berubah, bikin taman jiwa di dalam agar indah. Begitu taman jiwa di dalam indah, pasangan hidup dan lingkungan sekitar ikut indah”.

Penulis: Guruji Gede Prama
Foto Guruji bersama Ibu. Foto persembahan keluarga dekat Compassion

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.