Kesembuhan

Mengolah Karma Menjadi Dharma

Ditulis oleh Gede Prama

Seorang warga binaan di LP Bali ada yang bertanya begini: “Saya telah dihukum di bumi selama puluhan tahun karena kesalahan saya, apakah nanti saya dihukum lagi setelah mat?”. Karma (perbuatan) seseorang berbuahnya 100% jika ada niat, ada tindakan, setelah tindakan tidak ada rasa bersalah, bahkan masih merasa diri benar.

Misalnya seseorang berniat meracuni ayam. Ayamnya betul-betul keracunan. Setelah ayamnya mati ia tidak punya rasa bersalah. Itu karmanya bekerja 100%, sehingga sulit dimurnikan. Namun jika tidak ada niat, lebih-lebih muncul rasa bersalah setelah melakukan tindakan, maka ia relatif lebih mudah dimurnikan. Yang masih mengejar setelah kematian adalah karma yang belum termurnikan.

Berita baiknya, ada cara mengolah karma buruk agar bisa menjadi ajaran suci (dharma) yang memurnikan. Kekuatan yang paling membantu dalam hal ini bernama bhakti pada Guru sejati. Di Buddha ada cerita Jetsun Milarepa, di Hindu ada kisah Walmiki. Keduanya melakukan kesalahan sangat berbahaya, tapi keduanya termurnikan karena bhaktinya yang sangat mengagumkan.

Kisah Bima di Hindu malah lebih jelas lagi, Guru yang disembah adalah Drona. Sebagian orang menyebut Drona Guru palsu. Kendati yang disembah adalah Guru palsu, Bima diselamatkan tangan Guru ketika hidupnya berbahaya. Saat pertarungan gada dengan Duryodana, dosa Bima diambil melalui perintah Shri Krisna. Ujungnya Bima selamat.

Keadaannya mirip kisah The Alchemist di Barat, yang bisa mengolah logam menjadi emas. Bhakti mendalam pada Guru sejati bisa mengolah kesalahan sangat berbahaya sekali pun, menjadi ajaran suci yang membawa Cahaya ke dalam jiwa. Yang perlu dicatat kemudian, jalan ini sangat tidak mudah. Diperlukan bhakti yang sempurna agar karma berubah menjadi Dharma.

Di akhir abad ke-8, bangsa Tibet dalam bahaya. Rajanya mengundang Guru sejati bernama YMM Lama Padmasambawa. Alasan terpenting kenapa bangsa Tibet terselamatkan ketika itu karena rajanya menyembah Guru secara sempurna. Ketika kerajaan diserahkan pada Guru, Lama Padmasambawa masih melihat ada yang lebih penting di hati raja dibandingkan kerajaan.

Yakni permaisurinya yang super cantik yaitu Yeshe Sogyal. Ini pun dipersembahkan oleh raja pada Gurunya. Makanya Yeshe Sogyal dicatat sejarah menjadi consort-nya Lama Padmasambawa ketika ada di Tibet. Ujungnya telah dicatat rapi oleh sejarah, bangsa Tibet ketika itu selamat. Monumen bhakti bangsa Tibet masih tersisa sampai sekarang.

Di Vihara Samye, di tiga lantai disembah patung YMM Lama Padmasambawa. Pelajarannya, semua hal mulya dan bercahaya di alam ini ongkosnya mahal. Semakin berbahaya kesalahan seseorang, semakin besar juga ongkos yang mesti dibayar. Seperti Milarepa, kesalahannya sangat berbahaya, tapi ia rela membayar bahkan dengan cara nyaris kehilangan nyawa.

Yang perlu diwaspadai kemudian, tidak sedikit oknum yang menggunakan logika ini untuk tujuan-tujuan kurang terpuji. Dari mengumpulkan harta, sampai dengan mendapatkan kursi kekuasaan. Agar tidak masuk jurang berbahaya ini, sebaiknya mengembangkan kesejatian di dalam (baca: tulus, jujur, polos dalam melaksanakan ajaran suci).

Mengulangi pesan yang sering dibagikan: “Di dunia binatang, hanya lebah dan kupu-kupu indah yang bisa melihat keindahan bunga indah. Di dunia manusia hanya ia yang di dalamnya kesejatian yang bisa melihat Guru sejati”. Untuk itu, kurangi bertanya siapa Guru sejati di putaran waktu ini. Kembangkan kesejatian di dalam.

Photo courtesy: Unsplash

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.