Kesembuhan

Sebarkanlah Cerita yang Berbagi Cahaya

Ditulis oleh Gede Prama

Sebagaimana sifat alami ilmu-ilmu manusia yang selalu riuh dengan setuju tidak setuju, berita tentang vaksin covid 19 juga serupa. Ada setuju, ada yang tidak setuju. Di tengah dunia yang riuh dan keruh, tidak ada salahnya lebih banyak berguru ke dalam. Salah satu cara yang tersedia, hanya menyebarkan (membicarakan) cerita-cerita indah yang berbagi Cahaya.

Dulunya, anjuran itu hanya ditulis di buku suci. Sekarang telah menjadi hasil penelitian di perguruan tinggi. Salah satu tempat di dalam di mana tubuh, pikiran, perasaan dan spirit (body, mind, spirit) menyatu rapi adalah reaksi biokimia otak (the biochemical reaction of the brain). Jika cerita yang dibagikan penuh Cahaya, otak melepaskan hormon pertumbuhan yang membantu kesehatan.

Akibatnya, tidak saja sistim kekebalan tubuh membaik, sistim pencernaan dan sistim lain dalam tubuh juga membaik. Untuk itu, mari merenungkan berita indah. Beberapa hari terakhir ini, Gunung tertinggi di atap bumi Tibet, tempat bermukim tertinggi Shivaji di muka bumi (orang Hindu menyebut Shivaji sebagai salah satu nama Tuhan), sekaligus hulu banyak sungai suci di India, memancarkan Cahaya.

Ia dipotret dan disebarkan banyak sahabat yang mengagumi Gunung Kailash. Ajakannya untuk para sahabat dekat, jangan izinkan kegelapan di luar melahirkan kegelapan di dalam. Gunakan kegelapan di luar untuk melahirkan Cahaya di dalam. Banyak Cahaya di dalam yang bisa dilahirkan di zaman pandemic panjang ini. Mari menyalakan Cahaya di dalam yang berkaitan dengan kesehatan (keselamatan).

Cahaya pertama, alam ini senantiasa berputar. Sesederhana malam-siang, musibah-berkah juga berputar. Kesehatan (keselamatan) akan menjadi milik siapa saja yang mengalir bersama Sang Aliran. Mengalirlah. Jalani tiap kekinian seperti anak kecil membuka hadiah. Cahaya kedua, krisis memang mencuri banyak hal, tapi jangan izinkan ia mencuri rasa syukur di dalam.

Saat senggang, pikirkan, lebih bagus lagi jika ditulis, hal-hal yang layak disyukuri. Teman di Bali, wisatawan manca negara memang belum banyak datang, gunakan kelangkaan wisatawan untuk mengembangkan ekonomi yang berbasis kekuatan lokal (local genius). Cahaya ketiga, karena alam berputar berdasarkan hukum cinta kasih, laksanan cinta kasih dalam keseharian.

Ia tidak saja menjaga (ingat, vibrasi penyakit di bawah 100, vibrasi cinta kasih di atas 550), tapi juga membuat para sahabat terhubung. Dan keterhubungan adalah akar kesembuhan serta kedamaian. Di atas semuanya, ingat untuk “menggunakan” social media untuk menyebarkan Cahaya indah. Bukan “digunakan” oleh social media kemudian marah-marah.

Sudah menjadi pemandangan di sana-sini, tidak sedikit orang yang “diperalat” oleh social media. Jangankan orang biasa, sebagian pemimpin dunia pun diperalat oleh social media. Tidak elok bercerita buruk tentang orang lain. Tidak elok. Agar para sahabat sembuh dan tumbuh, ingat untuk “menggunakan” social media. Langkah praktisnya, Anda yang menjadi tuan di depan social media.

Bukan menjadi korban social media. Jika selalu dibikin gelisah dan marah oleh pesan-pesan social media, itu tandanya seseorang menjadi korban. Tapi jika Anda memberi makna indah di balik masalah, itu artinya Anda mulai menjadi tuan. Seperti menghidupkan lilin orang lain, yang pertama-tama terang adalah diri Anda sendiri.

Keterangan foto: Puncak Gunung Kailash di Tibet beberapa hari terakhir. Ia memancarkan Cahaya sangat indah. Ini Gunung tertinggi di atap bumi Tibet. Hulu banyak sungai suci di India. Tempat bermukim Shivaji tertinggi di muka bumi

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.