Kesembuhan

Kata-kata sebagai sumber Cahaya

Ditulis oleh Gede Prama

Di tengah dunia yang sangat gelap, semua pembawa Cahaya bekerja keras sekali agar dunia bisa bermandikan Cahaya kembali. Dan salah satu sumber Cahaya yang layak direnungkan adalah kata-kata yang digunakan dalam keseharian. Temuan-temuan baru di biologi dan neuro-science bercerita bagaimana struktur bahasa bisa mengubah struktur neuron di otak dan di hati.

Sekaligus bagaimana kata-kata yang tepat dan pas bisa menyelaraskan otak dan hati. Begitu otak dan hati selaras, tubuh manusia memancarkan banyak Cahaya. Sebagai bahan penguat agar para sahabat yakin, selama ribuan tahun manusia telah menyamankan diri dan hidup melalui kata-kata yang tepat dan pas. Buku suci menyamankan salah satu sebabnya karena kata-kata yang dibagikan.

Sebagian buku suci bahkan kata-katanya memiliki dampak hipnotis yang tidak kecil. Bahkan pada orang-orang yang tidak mengerti makna di balik kata-kata itu. Dengan latar belakang seperti ini, bisa dimaklumi jika penyair besar Emily Dickinson menulis: “I Know nothing in the world that has as much power as a word”. Di muka bumi, kata-kata memiliki kekuatan yang sangat besar.

Pakar otak manusia Andrew Newberg bahkan menyebut sejala jelas, kata-kata yang tepat bisa mengubah ekspresi gen seseorang. Terinspirasi dari sini, mari belajar menemukan kata-kata yang tepat untuk terhubung dengan sumber Cahaya di dalam. Pertama-tama, temukan kata-kata (bahasa tuanya mantra) di agama masing-masing yang terasa cocok dan pas di otak dan di hati.

Bagi ia yang tubuhnya relatif bersih, tubuh bereaksi melalui Chakra bagian atas ketika mendengar mantra yang pas dan cocok. Khususnya Chakra ketujuh yang berada di ubun-ubun. Sulit menjelaskannya dengan bahasa sederhana, ada gerakan-gerakan khusus dan halus di atas ubun-ubun ketika mendengar mantra yang cocok.

Kedua, gunakan mantra ini sebagai sarana untuk menyelaraskan otak dan hati. Karena otak lebih mudah bekerja jika ada makna, hati lebih mudah bekerja jika ia tergetar, maknakan mantra ini sesuai dengan kemampuan masing-masing. Sebut saja sahabat Hindu yang tergetar oleh Om Namma Shivaya. Atau kawan Budhhist yang tergetar oleh Om Mani Padme Hum.

Maknakanlah mantra ini semampunya. Seperti belajar fisika. Awalnya seseorang berkenalan dengan fisika Newton. Nanti bisa bertumbuh menjadi tertarik pada fisika kuantum. Demikian juga dengan memaknakan mantra. Sebut saja mantra Buddhist Om Mani Padme Hum. Awalnya orang akan menghafal arti sederhana ini: “Rahasianya ada di bunga Lotus”.

Begitu dihajar oleh masalah dan guncangan, seseorang akan mengerti, guncangan hidup mirip lumpur. Kedewasaan dan kebijaksanaan adalah Lotus indah yang mekar di sana. Suatu hari jika diberkahi menjadi jiwa bercahaya, orang ini mengerti lebih dalam lagi: “Tidak ada yang perlu dibicarakan. Semua mengalir. Lumpur jadi lotus. Lotus nanti menyatu jadi lumpur, untuk kembali jadi lotus lagi”.

Pengertian melalui pencapaian seperti ini akan membuat hati bergetar. Sebagian orang menangis terharu. Ada yang merasakan keterhubungan yang mendalam. Bahkan pohon dan rumput pun seperti berbicara mau mengajarkan sesuatu. Di neuro-science, itu yang disebut brain-heart coherence. Otak dan hati mulai selaras.

Bagi sahabat yang sampai di sini, kegelapan di luar tidak lagi melahirkan kegelapan di dalam. Kegelapan di luar mulai melahirkan Cahaya di dalam. Tidak ada kegelapan, hanya alam yang sedang membuka pintu bagi lahirnya Cahaya. Tidak ada kekerasan, hanya undangan agar jiwa-jiwa mencari kedamaian. Di keluarga Compassion, orang ini diberi gelar S3 (senyum senyum saja).

Pusat layanan gratis (tanpa bayar) keluarga spiritual Compassion:
P3A (Pusat Pelayanan Perawatan Anak berkebutuhan khusus)
P3B (Pusat Pelayanan Pencegahan Bunuh Diri)
P3C (Pusat Pelayanan Pencegahan Perceraian)
082335555644 (Telkomsel)
081999162555 (XL)
085857536536 (Indosat)

Photo courtesy: Unsplash

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.