Kesembuhan

Dispelling the Inner Darkness (Melenyapkan Kegelapan di Dalam)

Ditulis oleh Gede Prama

Tadinya banyak orang berharap tahun 2021 akan menjadi tahun berakhirnya krisis panjang pandemic yang mengglobal. Tapi ditemukannya varian baru virus yang menyebabkan krisis panjang ini di sejumlah negara bercerita, dunia sedang memasuki bab kegelapan yang baru. Tidak ada yang bisa meramalkan kapan kegelapan ini akan berlalu. Amerika Serikat sebagai Guru dunia bercerita di awal januari 2021 ini, dunia tampaknya belum akan tambah terang Bayangkan, gedung putih yang disakralkan oleh dunia selama ribuan tahun dimasuki secara paksa oleh para demonstran. Sehingga tidak saja tatanan di AS berubah, tampaknya tatanan dunia juga akan berubah. Sahabat yang mendalami astrobiology terang sekali bercerita, 70% energi di alam ini isinya adalah dark energy (energi gelap). Sehingga bisa diramalkan, apa yang terjadi jika umat manusia secara sangat bertenaga melawan kekuatan gelap. Yang dianjurkan melalui sesi ini sederhana, cara terindah untuk menjaga pengaruh buruk kegelapan di luar adalah dengan cara menerangi kegelapan di dalam.

Begitu tamannya indah dan bersih, lalat jarang datang berkunjung. Begitu kegelapan di dalam diterangi, kekuatan gelap di luar tidak akan besar pengaruhnya dalam hidup seseorang. Itulah tema sentral yang mau dibagikan di sesi social media live di bulan januari 2021 ini. Meminjam warisan tua Sun Tzu: “Ia yang mengenali dirinya akan mengenali musuhnya. Ia yang mengenali diri dan musuhnya akan menang dalam tiap pertempuran”. Dengan kata lain, basis bertindaknya bukan membenci kegelapan di luar, melainkan mengerti kompleksitas kegelapan di dalam. Begitu kompleksitas kegelapan di dalam dikenali, secara alami seseorang akan mengerti kompleksitas kegelapan di luar. Ujungnya, Sun Tzu benar, ada kemungkinan besar umat manusia akan sehat selamat di putaran waktu ini. Mengulangi tesis di awal: “Cara terindah untuk melindungi diri dari pengaruh tidak positif kegelapan di luar, adalah dengan menerangi kegelapan di dalam”.

Raja yang kakinya terluka

Ada sebuah cerita tua yang masih berbagi makna. Suatu hari seorang raja kakinya tertusuk duri. Kemudian murka memerintahkan semua punggawa untuk menutupi semua jalan dengan kulit binatang. Setelah menunggu rajanya tenang, seorang punggawa berbisik ke telinga raja: “Kenapa tidak kaki raja saja yang dibungkus dengan sandal atau sepatu?”. Ini memang cerita tua, tapi banyak orang di zaman ini yang perilakunya mirip raja di atas. Begitu ada masalah mau menutup mulut semua orang, mau menutup pikiran semua orang, mau menutup perasaan semua orang. Tidak saja itu tidak mungkin, tapi juga berbahaya. Langkah paling bijaksana yang sebaiknya dilakukan adalah menutupi pikiran dan perasaan di dalam menggunakan “sepatu” kesadaran penuh (mindfulness). Dan begitu pikiran perasaan dibungkus oleh sepatu kesadaran penuh, lebih sedikit duri di luar yang menyakiti, lebih sedikit juga rasa sakit yang ditimbulkan ke lingkungan sekitar.

Dengan cara yang sama, dunia di awal tahun 2021 ini memang penuh duri. Dari krisis pandemic panjang yang belum ada tanda-tanda akan usai, sampai konflik kekerasan terjadi di mana-mana. Tidak mungkin menutup pikiran miliaran orang yang dianggap berbeda, jauh lebih sehat dan lebih arif jika kita belajar menutupi pikiran dan perasaan di dalam menggunakan “sepatu” pengertian sekaligus kesadaran penuh. Untuk itulah, tesis terpenting dalam tulisan ini sederhana namun dalam: “Cara terindah untuk mengurangi pengaruh buruk kegelapan di luar adalah dengan mengerti kegelapan di dalam. Kemudian meneranginya dengan pengertian dan kesadaran penuh”. Sun Tzu benar ketika berpesan: “Ia yang mengenali dirinya akan mengenali musuhnya. Ia yang mengenali dirinya dan musuhnya akan senantiasa menang dalam tiap pertempuran”. Itu sebabnya, para sahabat diajak untuk mengenali diri di dalam. Tidak untuk menyerang orang. Setidaknya untuk mengurangi dampak buruk kegelapan di luar. Bagus jika bisa ikut membuat dunia semakin terang.

Titik perjumpaan antara body, mind dan spirit

Tubuh manusia adalah mesin paling rumit di alam samsara ini. Terutama karena terjadi interaksi rumit antara tubuh (body), pikiran perasaan (mind) serta spirit. Jangankan menyangkut hal tidak terlihat seperti pikiran, perasaan dan spirit, bahkan tubuh yang terlihat pun menyimpan banyak misteri. Kendati demikian, mesti ada yang berani menyederhanakannya agar kita bisa bertindak. Untuk membekali para sahabat agar bisa menyembuhkan diri, syukur-syukur bisa ikut menyembuhkan lingkungan sekitar, layak direnungkan untuk mewaspadai titik perjumpaan antara tubuh, pikiran perasaan serta spirit. Ini sebuah topik misterius yang telah didalami manusia selama ribuan tahun. Serta belum sepenuhnya terbuka semua. Sebagai bekal melangkah di zaman super rumit ini, layak diendapkan pelan-pelan dan dalam-dalam, titik perjumpaan antara 3 komponen penting kesembuhan ini adalah reaksi biokimia otak (the biochemical reaction of brain).

Menyegarkan ingatan para sahabat, ketika seseorang membicarakan (mengalami) sesuatu, ia ditangkap oleh otak. Otak kemudian menghasilkan reaksi biokimia. Jika yang terjadi (yang dibicarakan) hal-hal negatif seperti ketakutan dan kepanikan, otak melepas sejumlah hormon yang tidak bersahabat bagi kesehatan seperti cortisol dan adrenalin. Bila yang dibicarakan (yang terjadi) adalah hal-hal yang membahagiakan serta penuh sukacita, otak melepaskan hormon yang bersahabat dengan kesembuhan dan pertumbuhan. Dari oxytocyn, dophamin, sampai serotonin. Dibekali pengertian jenis ini, layak diendapkan untuk hati-hati dan waspada dengan segala ucapan, pikiran dan tindakan sehari-hari. Dalam bahasa ringkas, padat namun dalam, ketidaksadaran membuat manusia melahirkan penyakit bagi diri sendiri. Kesadaran penuh yang dibekali pengertian holistik, membuat tubuh bisa menghasilkan obat bagi dirinya sendiri. Dalam terang cahaya pengertian seperti itulah tulisan ini dibuat untuk para sahabat.

Menerangi kegelapan di dalam

Ada sejumlah kegelapan di dalam yang dicoba diterangi dalam tulisan pendek ini. Dengan niat sederhana, agar para sahabat bisa mengurangi dampak buruk dari kegelapan di luar. Syukur-syukur bisa ikut bersama-sama menerangi kegelapan di luar.

  1. Otak menyukai pola dan pengulangan
    Andaikan Anda suka berangkat kerja lebih pagi dari biasanya untuk menghindari macet. Kemudian sarapan di kedai kopi kesukaan dekat kantor. Memarkir mobil persis di depan pintu masuk kedai kopi. Memesan kopi serta kue kesukaan tiap pagi. Serta duduk di sebuah pojokan yang tidak diganggu oleh sapaan banyak orang. Agar sarapannya lebih tenang. Hal ini berlangsung berulang-ulang dalam waktu lama. Sehingga di otak terbentuk pola. Otak juga merasa nyaman jika pola ini terulang. Seumpama di sebuah pagi tempat parkir di depan pintu kedai kopi diisi orang lain, kopi susu kesukaan Anda lagi tidak ada stok, apa lagi tempat duduk yang biasa dipakai telah dipakai orang lain, maka dengan mudah muncul perasaan berbeda di dalam. Setidaknya bad mood. Hal yang sama juga terjadi dengan kejadian-kejadian besar. Biasa ke kantor tiap hari, tiba-tiba harus bekerja di rumah. Lebih-lebih selama berbulan-bulan. Dampaknya akan lebih gelap lagi. Jika para sahabat membekali diri dengan pengertian utuh seperti ini, setiap kali pola dan pengulangan yang biasa terjadi tidak terjadi, bawa lentera pengertian ke dalam. Setidaknya bad mood tidak perlu terlalu lama. Ini juga bisa menghindarkan seseorang dari kemungkinan marah-marah serta menghasilkan masalah. Dengan kewaspadaan seperti ini, dampak buruk kegelapan di luar akan lebih minimal.
  2. Thinking feeling loop (pikiran dan perasaan saling menggulung)
    Perhatikan ketika para sahabat berpikir buruk tentang orang lain. Sebut saja ingat karena dibentak orang di depan publik. Pikiran buruk jenis ini akan melahirkan perasaan yang juga buruk. Perasaan yang buruk ini kemudian menggulung pikiran buruk di awal. Hasilnya, bisa marah-marah tanpa sebab, terjadi kebocoran energi, sampai dengan tidur dan kesehatan terganggu. Itu sebabnya, sangat disarankan untuk mewaspadai apa-apa yang dilihat, ditonton, serta di dengar di luar. Karena ia akan memancing pikiran untuk berpikir, membandingkan, menganalisis. Kemudian membuat perasaan ikut-ikutan tidak enak. Agar dampak buruk thinking-feeling loop minimal, begitu pikiran bergerak ke arah sedikit negatif saja, cepat kembali ke arah tengah yang lebih netral. Tidak perlu memikirkan, apa lagi membicarakannya dengan orang di sebelah. Cukup sadari dampak buruk yang mungkin terjadi jika pikiran-perasaan saling menggulung. Jika tarikan energi negatifnya terasa sangat berat, hadirkan energi positif sebagai pengimbang. Bisa mendengarkan musik atau menonton video lucu-lucuan. Begitu energinya tidak lagi berbahaya, alias biasa, saksikan saja sifat alaminya yang tidak kekal mirip awan-awan. Dan Anda adalah langit biru yang menyaksikan.
  3. Neurological circuit (lingkaran neurologis) di otak
    Meminjam temuan para sahabat di neuro-science (bidang otak manusia), dalam otak ada banyak lingkaran super kecil yang berkaitan dengan kejadian, tindakan, ucapan, pikiran serta hal-hal lain yang pernah terjadi di masa lalu. Sahabat yang sering pacaran di pantai saat remaja akan mudah muncul perasaan indah di dalam begitu melihat gambar pantai. Kawan-kawan yang sering main golf akan mudah muncul pikiran perasaan indah begitu melihat gambar rumput hijau. Ia yang mengalami pelecehan seksual menyakitkan di masa kecil bisa muntah melihat gambar pornografi. Itu terjadi karena lingkaran neurologis di otak bekerja. Agar dampak buruknya minimal, setiap kali dikunjungi memori buruk khususnya, tidak perlu menganalisisnya, apa lagi berbicara buruk dengan orang sebelah. Ia hanya akan memperkuat lingkaran neurologis di otak. Kemudian lingkaran yang sama akan menggangu di waktu berikutnya dengan derajat gangguan yang lebih besar. Itu sebabnya, orang yang suka bengong sendiri, kemudian melayani memori buruk dengan pikiran dan ucapan buruk, bisa meluncur ke arah sakit mental. Agar sehat selamat, cukup disadari saja. Bahwa ia hanya mekanisme biologi biasa yang terjadi di dalam otak. Tidak perlu dibesar-besarkan. Cukup disapa saja dengan energi kesadaran, kemudian izinkan ia berlalu. Sesederhana itu.
  4. Pengkondisian yang berumur sangat panjang
    Di tahun 1940-an seorang psikolog Rusia bernama Pavlov melakukan penelitian tentang perilaku anjing. Setelah diberi makan anjingnya kemudian dibunyikan bel. Hal yang sama dilakukan secara berulang-ulang. Kemudian anjingnya tidak dikasi makan tapi dibunyikan bel. Ternyata anjingnya mengeluarkan air liur. Di dunia psikologi maupun spiritual mendalam, ini yang disebut pengkondisian. J. Krisnamurti suka membahas topik ini. Banyak perilaku mahluk di alam ini, termasuk manusia, adalah hasil pengkondisian yang sangat panjang. Tidak saja dari masa kecil, bahkan ada yang berasal dari kehidupan sebelumnya. Kemarahan sebagai contoh, ia hanya energi penjaga di dalam. Tapi karena dari kecil manusia melihat orang marah secara berbahaya, kemudian tanpa disadari banyak orang jadi ikut-ikutan marah secara berbahaya. Di zaman ketika pendidikan belum terlalu maju, tiap kali ada agama baru lahir, selalu diikuti oleh pernyataan bahwa yang lama salah, yang baru benar. Sekarang tatkala pendidikan dan teknologi telah demikian maju, tetap saja tersisa banyak orang yang membuat pernyataan hanya agamanya sendiri yang benar. Ini juga hasil pengkondisian. Di zaman ketika hukum belum kuat, masyarakat dijaga dengan mendirikan tembok pemisah. Tidak saja tembok fisik seperti tembok China, tapi juga tembok pemisah yang tinggi yang memisahkan kelompok tertentu dengan kelompok yang lain. Sekarang setelah hukum dan hak azasi manusia demikian maju, masih banyak manusia yang dikondisikan seperti itu. Menyadari bahwa semua itu adalah hasil pengkondisian, sehingga tidak perlu diikuti secara berlebihan. Akibatnya, ia menjadi lentera yang dibawa pada kegelapan di dalam. Ujungnya, dampak negatifnya jadi lebih minimal. Syukur-syukur bisa membawa Cahayanya ke lingkungan sekitar.
  5. Paradoks dan kontradiksi di dalam
    Tubuh manusia dibuat dari berbagai bahan yang bertentangan. Dari bahan padat dan cair, sampai bahan api dan air. Sehingga bisa dimaklumi jika semua orang menyimpan energi bertentangan di dalam. Maunya tidak marah, tapi kenyataannya marah. Jangankan orang yang tidak disentuh meditasi dan spiritualitas, bahkan ia yang disentuh meditasi dan spiritualitas mendalam pun kadang dikunjungi memori buruk. Perhatikan suami-istri yang bertengkar. Setelah bertengkar, egonya tidak mau berjumpa. Tapi energi seks di dalam ingin berjumpa. Begitulah tubuh manusia sejak dulu hingga nanti. Agar dampak buruknya minimal, lihat diri di dalam seperti melihat lingkaran Yin-Yang. Di dalam ada gelap, ada terang. Di bagian gelap ada lingkaran terang. Di bagian terang ada lingkaran gelap. Artinya di balik kesalahan ada benih kebaikan. Di balik kebaikan ada benih kesalahan. Sebagaimana cahaya listrik muncul karena mensintesakan negatif-positif, sintesakanlah negatif-positif di dalam. Terutama dengan cara tekun dan tulus menyaksikan. Di dunia jiwa-jiwa tercerahkan sering terdengar pesan seperti ini: “The most important measurement of enlightenment is how comfortable you are with paradox and contradiction”. Ukuran terpenting pencerahan adalah seberapa nyaman Anda dengan paradoks dan kontradiksi di dalam. Mengerti dan menyadari dalam-dalam sifat alami tubuh manusia seperti ini, itu juga Cahaya indah yang dibawa pada kegelapan di dalam.
  6. Kesenjangan di dalam
    Tiap orang punya kesenjangan di dalam yang mengganggu. Kesenjangan antara apa yang diidealkan dengan apa yang sesungguhnya terjadi. Semua orang tua ingin sabar di depan anak-anak, tapi kenyataannya tidak banyak orang tua yang bisa sabar di depan anak-anak. Semua orang ingin disebut baik oleh orang lain, namun tidak banyak yang kesehariannya betul-betul cocok dengan kriteria orang baik. Semakin lebar kesenjangan ini, semakin terganggu energi seseorang di dalam. Tidak sedikit malapetaka kehidupan seperti bunuh diri terjadi karena didorong oleh rasa bersalah yang dibawa oleh kesenjangan jenis ini. Agar dampak buruknya minimal, sadari sedalam-dalamnya bahwa semua orang memiliki kesenjangan. Karena kehidupan bertumbuh, ukuran ideal juga bertumbuh, jarang kedua unsur ini bisa berjumpa pas dan tepat selama-lamanya. Lentera yang dibawa meditasi sederhana, bagikan cahaya mindfulness ke dalam. Dalam mindfulness ada kata full. Artinya, bimbing diri untuk selalu kembali ke rumah terindah ke-u-Tuhan. Di mana ada puncak gunung, di sana ada jurang. Di mana ada kelebihan, di sana ada kekurangan. Tersenyum pada keduanya, itulah rumah terindah ke-u-Tuhan. Sekaligus itulah hadiah terindah yang bisa diberikan oleh meditasi.
  7. Praktik, praktik dan praktik
    Pengertian intelek di kepala bukanlah segala-galanya. Ia hanya sebagian Cahaya yang disimpan di dalam. Jika disederhanakan, ada dua kelompok manusia dalam proses mengerti Cahaya di dalam. Yang pertama adalah philosophical man. Ini yang mengerti kebanyakan melalui intelek. Yang kedua adalah practical man. Ia yang mengerti dengan cara berpraktik di lapangan. Keduanya saling melengkapi tentu saja. Penjelasan dari nomer 1 sampai nomer 6, semuanya adalah penjelasan di tingkat kepala. Ia tentu saja tidak lengkap. Sahabat yang telah lama di lapangan mengerti, pada akhirnya hanya praktik yang membuat langkah spiritual jadi sempurna. Tanpa praktik, akan selalu ada yang kurang di dalam. Itu sebabnya, keluarga Compassion telah bertahun-tahun berpraktik dengan melayani, melayani dan melayani. Belakangan bahkan punya 3 pusat layanan yakni P3A (pusat pelayanan dan perawatan anak-anak berkebutuhan khusus), P3B (pusat pelayanan dan pencegahan bunuh diri), serta P3C (pusat pelayanan dan pencegahan perceraian). Kami memang tidak memungut uang, tapi terasa sekali pelayanan membuat perjalanan jiwa jadi semakin terang. Banyak rahasia yang tidak dibuka oleh buku suci, terbuka melalui praktik pelayanan di lapangan. Rahasia tentu saja rahasia. Intinya, praktik pelayanan membuat ajaran suci betul-betul membadan di dalam. Jika diberkahi, seseorang bisa menjadi a living scriptures (buku suci yang hidup). Setiap Guru suci yang menjadi a living scripture karisma dan cahayanya berbeda. Penjelasan yang menentukan dalam hal ini adalah praktik, praktik dan praktik.

Sebagai kesimpulan, dari beberapa segi dunia memang masih gelap di awal tahun 2021 ini. Tapi jangan lupa, Anda bisa menggunakan kegelapan di luar untuk melahirkan Cahaya di dalam. Setidaknya bisa meminimalkan dampak negatif kegelapan di luar, dengan cara mengenali kegelapan di dalam, serta menerangi kegelapan di dalam. Akibat langsungnya, lebih sedikit energi yang bocor. Dengan energi yang berkecukupan di dalam, tubuh melalui sistim kekebalan tubuh memiliki seluruh kemampuan untuk menjaga dan menyembuhkah dirinya. Penjelasan lain, penyakit bervibrasi di tingkat di bawah 100, sedangkan cinta kasih bervibrasi di tingkat 550. Dan langkah-langkah di atas adalah langkah-langkah self-love. Perawatan diri yang menjadi akar dari semua cinta kasih. Jika dipraktikkan secara tekun dan tulus, langkah-langkah di atas bahkan bisa membawa para sahabat ke tingkat yang damai. Tingkat vibrasinya lebih tinggi lagi yakni 1.000. Jauh di atas vibrasi virus dan penyakit. Mudah-mudah bermanfaat untuk para sahabat. Semoga semua mahluk berbahagia.

***) Ini ringkasan topik yang akan dibagikan Guruji di social media live tanggal 19 dan 20 Januari 2021 melalui jaringan social media keluarga Compassion. Untuk membantu para sahabat yang kurang paham akan bahasa Inggris. Terutama karena Guruji akan menyampaikan pesannya dalam bahasa Inggris.

Photo by Nastya Kvokka on Unsplash

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.