Kesembuhan

Surat Cinta Untuk Para Dahabat Dekat

Ditulis oleh Gede Prama

Terimakasih banyak pada ribuan sahabat yang telah bergabung dengan sesi bimbingan meditasi serta diskusi di angkatan meditasi bulan Januari 2021 ini. Sebagai ungkapan terimakasih pada para sahabat, berikut ringkasan singkat pesan selama dua hari ini. Dengan harapan sederhana, agar kegelapan di dalam bisa diterangi oleh Cahaya indah. Menyegarkan ingatan para sahabat, tesis sederhana angkatan meditasi januari 2021 ini berbunyi seperti ini: “Cara terindah agar selamat dari pengaruh kegelapan di luar adalah dengan mengenali dan menerangi kegelapan di dalam”. Ingat, otak menyukai pola dan pengulangan. Begitu hidup mengalir tidak sesuai dengan pola biasanya, bad mood mudah muncul. Agar tidak tumbuh menjadi kemarahan berbahaya, ingat menerangi diri dengan Cahaya indah kesadaran penuh (mindfulness). Hal yang sama juga terjadi dengan thinking-feeling loop (pikiran perasaan yang saling menggulung), pengkondisian yang berumur sangat tua (ingat penelitian Pavlov dengan anjing dan belnya), lingkaran neurologis di otak yang suka mengundang datangnya memori buruk, sampai dengan kesenjangan (gap) antara yang ideal dengan realita. Begitu pikiran negatif muncul, cepat bawa lentera mindfulness ke dalam. Ini langkah praktis mengenali kegelapan di dalam, sekaligus menerangi kegelapan di dalam. Terutama agar cengkraman kegelapan di luar jadi minimal. Untuk penjelasan lebih panjang, silahkan tonton lagi video rekaman sesi meditasi di tanggal 19 dan 20 Januari 2021.

Di hari kedua para sahabat diundang untuk menerangi kegelapan di dalam dengan 3P: “praktik, praktik, praktik”. Agar para sahabat bekal praktiknya jadi kuat, berikut dibukakan sejumlah hal yang tadinya dirahasiakan. Oleh karena dunia memberi tanda-tanda sangat berbahaya, terpaksa minta maaf secara sangat mendalam pada Guru rahasia di alam. Rahasianya dibuka tidak untuk gagah-gagahan, tapi untuk membimbing umat manusia menapaki jalan menuju keselamatan. Tetua Bali menyebutnya Basukian. Kemudian diberi tanda dalam bentuk Pura megah dan Agung bernama Pura Besakih. Mulai tahun 2002 tatkala bom Bali meledak, selama lebih dari 10 tahun, Guruji melakukan banyak perjalanan spiritual di Bali. Untuk membuat ceritanya jadi ringkas, baik alam bawah maupun alam atas (dewa) sama-sama minta diselamatkan. Alam bawah sering muncul dengan wajah yang menakutkan dalam ukuran orang biasa. Dari ular tidak pakai kepala, ular berkepala ayam, ular pendek tapi besar, ular yang terbang, wanita berambut panjang dengan kaki yang tidak menyentuh tanah, sampai ribuan laba-laba menaiki tubuh Guruji di Pura sakral dan tua Pura Luhur Uluwatu. Alam dewa serupa. Beliau datang minta diselamatkan tidak melalui mimpi. Tapi datang ketika mata yang ada di kepala lagi terbuka. Sebuah pagoda (Meru) di sebuah tempat suci di desa tempat Guruji lahir malah memberi tanda dalam bentuk mau roboh. Sekali lagi ketika mata sedang terbuka.

Bekal melangkahnya untuk para sahabat dekat, tidak mungkin umat manusia hidup sehat dan bahagia jika alam lain menderita. Sekali lagi, tidak mungkin umat manusia hidup sehat dan bahagia jika alam lain menderita. Mengacu pada simbol ribuan laba-laba yang menaiki tubuh Guruji di Pura Luhur Uluwatu: “Umat manusia hidup di jejaring laba-laba kosmik yang sama”. Apa pun yang dilakukan manusia saat di bumi, ia akan kembali ke umat manusia sendiri. Sebagai salah satu contoh penting, karena hutan dihancurkan, oksigen yang sangat dibutuhkan kualitasnya berkurang. Kemudian alam melakukan langkah self-organizing universe (menata kembali dirinya) dengan cara melahirkan virus corona. Sehingga pesawat terbang dan kendaraan yang mengotori udara jumlahnya jadi berkurang. Ujungnya, umat manusia sendiri yang menderita. Baik karena banyak manusia yang wafat, sekaligus karena miliaran manusia kehilangan pekerjaan. Di tengah keadaan super rumit seperti ini, menyalahkan ini itu bukan langkah yang disarankan. Yang dianjurkan untuk para sahabat, mari melakukan hal-hal yang bisa dilakukan. Sebagaimana pesan yang kerap dibagikan: “Kurangi mencari-cari hal-hal yang salah. Lakukan hal-hal yang indah”.

Berikut sejumlah pedoman dalam melangkah. Terutama agar para sahabat sehat selamat. Pertama, rawatlah alam bawah seindah-indahnya. Setidaknya kurangi menyakiti mereka. Dari memberi makan burung liar, merawat tanaman, sampai tidak ikut-ikutan menghancurkan hutan. Sahabat di Bali yang diwarisi tradisi tua segehan (baca: menghidupi alam bawah yang wajahnya seram menakutkan). Teruskan memberi suguhan ke alam bawah. Terutama di hari-hari sakral mereka seperti kajeng kliwon. Tambahannya untuk para sahabat, lakukan itu karena Anda mencintai mereka. Bukan karena para sahabat takut pada mereka. Hasilnya jauh berbeda. Pengalaman langsung merawat rumah dewa yang minta diselamatkan di desa tempat Guruji terlahir, tantangan terberat tidak datang dari alam setan. Halangan paling berat datang dari alam manusia. Setelah beberapa anak kakinya patah main bola di hutan sakral yang dijadikan lapangan bola, warga dirayu untuk tidak main bola di sana. Tetap tidak berhasil. Belakangan salah satu pengurus Pura di sana wafat muntah darah. Lagi sulit untuk mengajak warga untuk tidak melukai hutan yang ada Pura-nya. Beberapa bulan lalu, kepala desa (perbekel) wafat mendadak tanpa sebab yang jelas. Itu pun tidak membuat warga desa terketuk hatinya untuk berhenti melukai hutan yang ada tempat sucinya.

Palajarannya jelas sekali, kurangi terlalu bertenaga mau mengubah orang-orang di luar. Percantik hati di dalam. Untuk sahabat-sahabat dekat di mana saja berada, rawatlah tempat suci masing-masing. Setidaknya jangan sampai tempat sucinya kotor. Saat membersihkan tempat suci, lakukanlah bukan karena para sahabat takut pada dewa dan Tuhan. Lakukanlah karena Anda penuh cinta pada para dewa dan Tuhan. Sambil ingat cerita ribuan laba-laba yang menaiki tubuh Guruji di Pura Luhur Uluwatu: “Umat manusia tumbuh di jaring laba-laba kosmik yang sama dengan alam bawah maupun alam atas”. Lagi-lagi para sahabat disegarkan memorinya: “Lakukanlah bukan karena didorong ketakutan. Lakukanlah karena para sahabat penuh cinta pada semua mahluk di alam ini”. Itu sebabnya, telah bertahun-tahun Guruji berdoa minta obat bagi semua mahluk yang sakit, minta makanan (minuman) untuk semua mahluk yang lapar (haus), minta tempat berlindung untuk mahluk yang memerlukan perlindungan, mohon berkah untuk semua mahluk yang rindu berkah, memohon kedamaian untuk ia yang rindu akan kedamaian. Itu langkah untuk alam bawah dan alam atas. Berikut langkah yang dianjurkan pada para sahabat untuk merawat alam tengah (alam manusia).

Sebagai langkah awal, selalu ingat pesan yang telah disampaikan secara berulang-ulang: “Sesakit apa pun rasanya di dalam, kekerasan bukan jawaban”. Terutama karena tiap kekerasan yang dilakukan di alam ini akan kembali dalam bentuk kekerasan. Tatkala Guruji belajar di salah satu puncak Himalaya di tahun 2008, sekilas terlihat wajah Mahatma Gandhi. Dalam dialog rahasia di dalam, ditanyakan ke Mahatma Gandhi: “Apa intisari ajaran Anda Mahatma?”. Beliau menjawab: “Ahimsa (tanpa kekerasan)”. Tatkala ditanyakan apa intisari buku suci Weda, lagi-lagi Mahatma Gandhi menjawab: “Ahimsa”. Dengan penuh hormat dan permisi ke Jiwa Agung ini kemudian diceritakan dan ditanyakan pesan seperti ini: “Mahatma, saya mau menghabiskan sisa waktu hidup saya di Bali. Di sebuah pulau indah yang mayoritas umatnya beragama Hindu. Maaf beribu maaf, apa yang sebaiknya diajarkan?”. Lagi-lagi pria yang keteladan hidupnya sangat mengagumkan ini menjawab: “Ahimsa”.

Itu sebabnya, keluarga Compassion nyaris tidak pernah konflik dengan siapa-siapa. Jika ada potensi konflik, kami selalu menjauh dan mengalah. Di desa tempat Guruji lahir, alam Cahaya (dewa) bahkan datang terang-terangan saat mata terbuka lebar minta diselamatkan tempat tinggalnya. Dengan penuh hormat disampaikan pada para dewa: “Maaf, kami tidak boleh melanggar ajaran Ahimsa”. Dengan bekal Ahimsa ini, belajar tidak melakukan kekerasan pada diri sendiri. Baik secara kasar maupun halus. Bunuh diri adalah kekerasan yang kasar pada diri sendiri. Tidak pernah puas, sering mengeluh, tidak pernah bersyukur adalah wajah kekerasan yang halus pada diri sendiri. Kegagalan untuk tumbuh damai adalah bentuk kekerasan yang sangat halus pada diri sendiri. Sebagai pesan penutup untuk para sahabat dekat, ini bukan putaran waktu untuk memiliki semuanya. Ini putaran waktu untuk menyelaraskan diri dengan semuanya. Terimakasih para sahabat dekat telah menyempatkan waktu untuk membaca “surat cinta” ini. Titip untuk merawat diri, keluarga dan alam sekitar seindah-indahnya. Selalu ingat, kita hidup di jaring laba-laba yang sama dengan semua mahluk di alam ini.

Photo by Omer Rana on Unsplash

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.