Kesembuhan

Cahaya Indah Meditasi

Ditulis oleh Gede Prama

Dulunya, cerita meditasi menyembuhkan dan menyelamatkan hanya didogmakan oleh banyak buku suci tua. Orang zaman dulu, hanya mengikuti langkahnya dibekali oleh keyakinan pada buku suci. Di zaman ini lain lagi, berlimpah penelitian mendalam yang telah dilakukan oleh banyak peneliti dan perguruan tinggi terkemuka tingkat dunia.

Awalnya, peneliti mengambil ludah sebagai wakil kekebalan tubuh. Belakangan melibatkan mesin pengukur gelombang otak bernama EEG. Yang lebih maju, sejumlah yogi dari Himalaya diminta meditasi di tengah mesin canggih MRI. Yang terkini, peneliti di biologi sel menemukan ternyata meditasi membuat tubuh menghasilkan lebih banyak stem cell.

Ringkasnya, meditasi tidak saja menyembuhkan, tapi juga menyelamatkan sekaligus mendamaikan. Dengan tetap menghormati jalan setapak yang lain, di jalan indah meditasi seseorang diajak untuk menemukannya di dalam diri. Dalam bahasa psikolog terkemuka Carl Jung: “Those who seek outside dream, those who rediscover inside awake”.

Dengan kata lain, kebahagiaan (kedamaian) yang ditemukan di luar serupa mimpi. Sedangkan yang ditemukan di dalam membuat seseorang terbangun dari tidur yang panjang. Agar para sahabat dekat terbangun dari mimpi panjang, berikut serangkaian renungan tentang meditasi. Ingat, ketika Cahaya tidak tersedia di luar, itu panggilan alam untuk segera menemukan Cahaya di dalam.

Pertama, di zaman dulu ketika hidup serba kekurangan, manusia mungkin sehat dengan memakan lebih banyak. Zaman ini terbalik, banyaknya manusia yang terkena penyakit obesitas (kegemukan) serta diabetes (sakit gula) bercerita terang benderang, manusia jadi sakit karena memasukkan terlalu banyak hal ke dalam. Termasuk ke dalam pikiran.

Makanya di mana-mana terlihat manusia yang rumit sampai menyebut dirinya sulit. Jarang sekali ada orang yang pikirannya jernih dan bersih. Dibelitnya dunia oleh krisis panjang corona, serta ujungnya yang belum jelas kapan, adalah bukti terkini tentang terlalu banyaknya hal yang dimasukkan ke dalam pikiran. Jangankan politisi, bahkan ilmuwan tingkat dunia pun berdebat panas soal vaksin.

Yang namanya meditasi sederhana, belajar melakukan intellectual diet. Tidak saja makanan melalui mulut sebaiknya dikurangi, makanan yang masuk melalui pikiran juga sebaiknya dikurangi. Itu sebabnya di sesi-sesi meditasi para sahabat dekat diundang untuk “istirahat” di saat ini apa adanya. Salah-benar, buruk-baik, duka-suka semua adalah tarian kesempurnaan yang sama.

Kedua, dibekali spirit “istirahat”, kemudian belajar menjadi seorang saksi yang penuh harmoni. Sesederhana langit yang menyaksikan semua hal yang ada di bumi. Begitu para sahabat sering menjadi seorang saksi, terjadi sintesis negatif-positif di dalam. Serupa listrik yang mensintesakan negatif-positif, ini yang bisa membuat seseorang menemukan Cahaya indah di dalam.

Ketiga, karena halangan terbesar meditasi adalah pikiran yang berisi terlalu banyak ukuran-ukuran ideal, kemudian melakukan penghakiman ke luar maupun ke dalam, serta melahirkan rasa bersalah di dalam, penting sekali menerapkan spirit istirahat dengan merasakan jeda diantara dua nafas, jeda diantara dua suara, jeda diantara dua memori. Ini memang obyek meditasi yang halus sekali.

Hanya yang halus yang bisa merasakan yang halus. Berapa kali pun pikiran melompat ke belakang atau ke depan, tanpa rasa bersalah, tanpa penghakiman bawa pikiran kembali ke jeda diantara dua nafas. Jika mendengar suara, rasakan jeda diantara dua suara. Bila dikunjungi berbagai memori, rasakan jeda diantara dua memori. Ia halus sekali. Teruslah dicoba hingga bisa.

Siapa saja yang sering bersentuhan dengan jeda ini, suatu hari akan memasuki quantum field (wilayah quantum) – meminjam dari fisika quantum. Di wilayah inilah banyak hal tidak mungkin menjadi mungkin. Di wilayah ini juga sering muncul “Cahaya” indah yang sulit ditemukan sekaligus sulit dibayangkan oleh orang biasa.

Mengulangi cerita sebelumnya tentang vibrasi energi, vibrasi virus, penyakit, rasa sakit serta kerumitan lainnya bervibrasi di tingkat di bawah 100. Sedangkan Cahaya indah yang ditemukan di dalam melalui “istirahat” bervibrasi jauh di atas 100. Bagi ia yang sepenuhnya damai (Parama Shanti istilah tetua Bali), vibrasinya 1.000.

Orang jenis inilah yang mungkin membawa dunia keluar dari kegelapan super panjang yang tidak berujung. Tidak dengan menyalahkan ini itu, tidak dengan mengkritik ini itu. Melainkan dengan menjadi contoh (tauladan) melalui hidupnya yang sehat selamat. Dalam bahasa Mahatma Gandhi: “The pure love of one soul can dispell the hatred of the million”.

Tetua di Tibet menyebutnya Rigpa, tetua di Bali menyebutnya Embang, tetua di Jawa menyebutnya Suwung. Sebagaimana sifat alami air yang basah, sebagaimana sifat alami bunga yang indah, sifat alami pikiran yang hening dan bening, keseharian hidupnya indah.

Keterangan foto: Guruji sedang bermeditasi di kawasan timur pulau Bali

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

1 Komentar

  • Alhamdulilah,, rasa syukur dan terimakasih saya panjatkan kepada allah SWT, karena dengan ijinNya saya bisa tahu dan mengenal bapak gede prama meski hanya melalui televisi dan media sosial. Saya sangat kagum dengan ajaran beliau. Pertama saya mengenal sosoknya dalam sebuah acara talkshow di metroTV di awal th 2000, saya langsung suka. Kemudian lama saya tidak lagi ketemu /membaca hal hal tentang tulisan ataupun ajaranya alhamdulilah sekarang ketemu lagi,, seneeng saya,, semoga sehat selalu ya bapak,, saya berharap suatu hari saya bisa bertemu dengan bapak secara langsung,, hormat saya dan trimakasih untuk banyak ajaran yg baik dan adem,,,, semoga selalu ada orang yg seperti bapak hingga akhir nanti sehingga selalu ada teman baik dalam seperjalanan setiap generasi,,, amien,, 🙏