Kesembuhan

Renungan Hari Raya Nyepi 2021: Memaknakan Ulang Arti Kesaktian

Ditulis oleh Gede Prama

Di tempat aslinya India, shakti itu berkaitan dengan hal-hal yang lembut, sejuk dan indah. Entah siapa yang memulainya, di Bali serta di sejumlah tempat lain telah lama kata shakti identik dengan hal-hal yang berbau kekerasan. Dari tubuh yang tidak bisa dilukai benda tajam, tidak bisa dilukai orang, sampai dengan berani berkelahi serta suka menakut-nakuti. Maklum, namanya juga zaman dulu. Peradaban belum terlalu banyak disentuh oleh pendidikan, tantangan zaman sangat menakutkan, mungkin bioritme alam ketika itu memaksa manusia untuk menjaga diri seperti itu. Dengan kata lain, itu bagian dari self-protective mechanism. Cara manusia menjaga dirinya ketika itu. Sedihnya, ketika zaman telah banyak berubah, bioritme alam berubah, bumi berubah menjadi sebuah desa global melalui social media, masih tersisa tidak sedikit manusia yang memahami shakti dalam kaitannya dengan kekerasan dan perkelahian.

Sedikit yang menyadari, cara bertumbuh seperti itu tidak saja rawan mengundang serangan orang dari luar, tapi juga meracuni diri di dalam. Terutama melalui kesombongan, kecongkakan, dendam, amarah, sampai dengan kehidupan yang jauh dari damai. Keadaannya mirip anak remaja yang baru belajar bela diri. Kemudian merasa diri sudah lebih hebat dibandingkan orang lain. Tidak saja tindakan dan ucapannya mengundang serangan orang, bahkan pikiran dan tatapan matanya pun mengundang serangan orang. Itu dalam skala pribadi. Hal serupa juga terjadi dalam skala masyarakat yang lebih luas. Masih segar dalam ingatan, pulau Bali pernah dilukai bom teroris di awal tahun 2000-an. Sekarang lagi terlukai oleh krisis panjang corona. Sementara provinsi lain banyak yang ekonominya masih bertumbuh positif, Bali pertumbuhan ekonominya dilaporkan negatif. Pemimpin dihadapkan pada pilihan yang tidak sederhana. Jika pariwisata tidak dibuka, manusia bisa mati karena kekurangan makan. Jika pariwisata dibuka, manusia bisa mati karena serangan wabah corona. Sebagai media pengingat, beberapa saat ketika generasi pemimpin Bali sekarang siap-siap memimpin, Gunung Agung memberi tanda melalui erupsi, pantai benua terbakar api. Keduanya memberi tanda panas. Jika tidak lembut dan halus melangkah, bahaya lebih besar bisa datang.

Kembali ke cerita di awal soal anak remaja yang baru belajar bela diri, bom teroris maupun krisis corona memang tidak sederhana. Tapi sulit mengingkari, di balik setiap serangan orang luar selalu ada kekotoran diri di dalam. Sesederhana sepasang suami-istri yang berkelahi. Tidak bisa kesalahan ditimpakan pada istrinya saja, atau suaminya saja. Kedua-duanya berperan dalam menciptakan perkelahian. Hal yang sama juga terjadi dengan bom teroris sekaligus serangan corona. Seperti lalat yang memasuki kamar, ada unsur kekotoran kamar di sana. Dan yang layak direnungkan oleh sahabat-sahabat di Bali khususnya, sulit mengingkari di balik serangan-serangan berbahaya dari luar ini, ada unsur pengertian tentang shakti yang layak direnungkan kembali. Pengertian lama tidak salah. Sekali lagi tidak salah. Itu cara orang dulu menjaga dirinya (self-protective mechanism). Yang layak diendapkan, bahaya besar ada di depan mata. Agar lalat yang berkunjung lebih sedikit, mari membersihkan rumah di dalam. Salah satunya dengan cara memiliki pengertian yang lebih pas tentang kata shakti. Pengertian yang lebih cocok dengan bioritme alam saat ini.

Shakti yang lembut dan halus

Keluarga spiritual Compassion telah lama dibimbing dengan pesan seperti ini: “Titik perjumpaan antara tubuh, pikiran, perasaan, spirit (body, mind, spirit) terletak di reaksi biokimia otak”. Jika seseorang penuh dendam dan kemarahan di dalam, otak berespon dengan melepaskan hormon neraka seperti cortisol. Ini tidak saja meracuni diri di dalam, tapi juga mengundang serangan dari luar. Keadaannya mirip dengan anak kecil yang takut berlebihan pada anjing. Ketakutan berlebihan pada anjing membuat tubuh anak ini menghasilkan adrenalin. Adrenalin terakhir dicium oleh anjing sebagai energi yang mau menyerang. Akibatnya, anjingnya menggonggong galak. Salah-salah bisa menggigit anak kecil tadi. Hal serupa juga terjadi dengan serangan teroris dan corona. Sebaliknya, bila seseorang di dalamnya penuh cinta kasih, apa lagi damai sebagaimana puncak doa tetua Bali, otak berespon dengan melepaskan hormon pertumbuhan seperti dopamin dan oxytocin. Akibatnya, tidak saja tubuh di dalam mudah sehat, tapi kemungkinan untuk diserang oleh orang luar jauh lebih sedikit.

Terinspirasi dari sini, mari merenungkan wajah shakti yang lembut, halus, sekaligus mendamaikan. Dulunya, cerita tentang alam bawah yang menakutkan hanya cerita dari mulut ke mulut, serta sulit dibuktikan. Setelah menghabiskan waktu cukup lama menjadi petapa di hutan di Bali Utara, sebagian alam bawah itu memperlihatkan dirinya. Tentu saja dengan wajah menakutkan. Kadang ular berkepala ayam, ular terbang, ular besar tapi pendek, cobra, wanita berambut panjang dengan kaki tidak menyentuh bumi, bunyi langkah kaki yang membuat tanah bergetar, serta wajah-wajah lain yang membuat para pemula pasti takut. Anehnya, ketika mereka ditatap dengan mata cinta kasih, mereka tidak melukai sama sekali. Mereka malah membimbing. Memberi tidak sedikit pelajaran-pelajaran penting yang cocok dengan bioritme alam saat ini. Mahluk-mahluk dengan wajah luar yang menyeramkan itu menyukai suguhan (sejenis makanan yang dibuat khusus oleh tetua Bali untuk alam bawah), caru (upacara kurban), penunggun karang (rumah untuk mereka). Setelah didalami lagi, ternyata ada wajah shakti yang lembut dan halus yang disembunyikan di sana.

Suguhan, caru, penunggun karang dibuat oleh tetua Bali bukan karena tetua Bali takut pada mereka. Sekali lagi bukan. Tapi karena tetua Bali penuh cinta kasih pada mereka. Menyegarkan ingatan keluarga Compassion, sementara ketakutan membuat perjalanan doa jadi turun, keindahan membuat perjalanan doa jadi naik. Dengan kata lain, keindahan hatilah yang membuat tetua Bali melahirkan tradisi tua suguhan, caru dan penunggun karang. Sehingga bisa dimaklumi, setelah tetua Bali melakukan upacara pembersihan bumi di Bali di tahun 2000-an, beberapa saat setelah bom teroris meledak, media-media dunia dengan bangga menyebut pulau Bali sebagai pulau cinta kasih. Dalam bahawa buku dan film laris “Eat, pray, love”: “Makanan enak ditemukan di Italia, doa terindah terdengar di India. Tapi cinta kasih paling menawan ditemukan di pulau Bali”. Seperti seseorang yang mendapat gelar doktor (S3), prestasi Bali seperti itu tentu saja bukan pekerjaan semalam. Ia adalah buah perjalanan panjang tetua Bali selama ribuan tahun. Yang diperlukan oleh generasi baru Bali – khususnya pemimpin formal maupun informal – mari belajar membadankan wajah shakti yang lebih halus dan lebih lembut. Sebagaimana disembunyikan di balik tradisi tua suguhan, caru dan penunggun karang.

Bekal melangkah agar hidup jadi indah

Sahabat-sahabat yang belajar fisika kuantum mengerti, pikiran manusia bisa mengubah hal-hal kecil seperti sel, molekul dan atom, sekaligus bisa mengubah hal besar seperti alam sekitar. Temuan terkini di bidang epigenetics bahkan menyimpulkan, manusia bisa mengubah gen di dalam dirinya dengan cara mengubah pikiran. Persisnya, mengubah persepsi tentang lingkungan. Untuk itu, mari memulai perubahan dengan mempercantik pikiran. Belajar mengucapkan selamat tinggal pada pikiran negatif yang penuh konflik. Sekaligus bimbing diri untuk memiliki pikiran yang positif-holistik. Dalam bahasa tetua Bali: “Rwa bhinedane tampi”. Sebagaimana samudera tidak bisa membuang gelombang, mawar tidak bisa membuang duri, manusia tidak bisa membuang kesedihan, kegagalan dan kemalangan. Dengan demikian, menjauhlah dari kemanjaan anak-anak yang hanya mau yang enak-enak. Jalani setiap kehidupan seperti alam menjalani siang dan malam. Dalam bahasa kepemimpinan: “Memandanglah seperti langit, bertindaklah seperti bumi”. Payungi setiap mahluk yang ada di bumi seperti langit memayungi bumi. Tapi saat bertindak hati-hatilah, di bumi ada hukum yang tidak bisa dilawan: “Menyentuh api terbakar, menyentuh air basah”.

Karena putaran waktu penuh dengan api panas, menjauhlah secara arif dari hal-hal yang bisa menimbulkan hawa panas. Mendekatlah dengan hal-hal yang menyebarkan kelembutan serta kedamaian. Sambil jangan pernah lupa, agama asli orang Bali adalah Agama Tirtha (air suci). Dan sampai sekarang prosesi upacara orang Bali melibatkan banyak Tirtha. Makna yang mau disampaikan, temukan rahasia spiritual di balik Tirtha. Kemudian melangkahlah selembut dan sehalus air. Secara kimiawi, air dibentuk oleh unsur-unsur yang dekat dengan api (oksigen dan hidrogen). Uniknya, ketika unsur-unsur yang dekat dengan api ini diramu dan diracik secara pas dan tepat, ia menjadi air yang menyejukkan, menentramkan dan mendamaikan. Panggilan kekiniannya, raciklah putaran zaman yang penuh api menjadi air yang menyejukkan. Caranya, jauhkan diri dari pengertian shakti yang serba panas dan keras. Pada saat yang sama, bekali diri dengan makna shakti yang lebih halus dan lebih lembut.

Sebagaimana dunia kepemimpinan dimulai dengan self-leaderhisp (kepemimpinan diri, diri yang sepenuhnya terkendali), pertumbuhan pribadi juga dimulai dengan self-love (bersahabat dan penuh cinta dengan apa-apa dan siapa-siapa yang telah ada). Dengan demikian, tumbuhkan keberanian spiritual yang paling dibutuhkan di zaman ini, yakni berani berbahagia bersama apa-apa dan siapa-siapa yang telah ada di sekitar Anda. Ia menyembuhkan dan menyejukkan ke dalam, sekaligus mengurangi kemungkinan serangan dari pihak luar. Langkah lebih praktisnya, belajar memaafkan yang telah lewat. Ingat, tidak ada kesalahan hanya pelajaran-pelajaran. Memaafkan memang tidak mengubah masa lalu, tapi secara meyakinkan membuat masa kini jadi jauh lebih damai. Memaafkan mungkin tidak mengubah orang lain, tapi ia membuat taman jiwa di dalam jadi jauh lebih cantik. Dari memaafkan, bertumbuhlah menuju cinta kasih. Seindah cinta kasih tetua Bali yang membuatkan suguhan dan penunggun karang untuk mahluk seram menakutkan. Di atas semuanya, temukan permata terindah di dalam bernama kesabaran. Kesimpulannya, memaafkan, cinta kasih dan kesabaran, itulah wajah shakti yang paling menyelamatkan, menyembuhkan dan mendamaikan di zaman ini. Selamat hari raya Nyepi untuk semua sahabat baik di Bali maupun di luar Bali. Om Shanti Hum.

Foto Pura Luhur Uluwatu Bali dari arah atas milik Omer Rana on unsplash, Di sebelah kiri Guruji sedang meditasi

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.