Kesembuhan

Tubuh sebagai rumah kesembuhan

Ditulis oleh Gede Prama

Sebagai seseorang yang tidak lagi muda, serta telah berjumpa ribuan sahabat yang sakit begini sakit begitu, bermasalah begini bermasalah begitu di sesi-sesi meditasi, kesimpulan Louise Hay dalam buku You can heal your life benar: “Di setiap rasa sakit dan penyakit selalu ada faktor penolakan diri. Semakin keras penolakan diri, semakin kencang dan semakin lama rasa sakitnya”.

Ada banyak sebab di balik penolakan diri. Dari masa kecil yang penuh luka, masa sekolah yang penuh penghakiman, sampai kegagalan untuk mencintai diri dan kehidupan. Tapi sulit membantah, siapa saja yang gagal menerima diri apa adanya, tidak saja tubuhnya berubah menjadi rumah sakit berjalan, tapi juga akan ditunggu oleh masa tua yang penuh masalah dan musibah.

Diterangi oleh cahaya pemahaman seperti ini, maha karya indah Tara Brach, Ph.D yang berjudul “Radical Acceptance” bercerita sangat terang benderang, bagaimana penerimaan diri yang total dan radikal bisa mengubah tubuh dari rumah sakit berjalan menjadi rumah kesembuhan yang berjalan. Tidak saja pintu rezeki terbuka, tapi pintu intimacy (keintiman) dengan orang lain juga terbuka.

Agar para sahabat dekat segera sembuh dan tumbuh, tolong renungkan pesan ini sedalam-dalamnya: “Kehilangan kontak yang paling berbahaya bukanlah kehilangan orang tua, tapi kehilangan kontak dengan ke-u-Tuhan di dalam”. Kehilangan kontak dengan ke-u-Tuhan (baca: di mana ada sedih di sana ada senang) di dalam itulah yang membuat tubuh jadi rumah sakit berjalan.

Sebagai langkah praktis, kehidupan tanpa rasa sakit tidak ada. Bahkan jiwa-jiwa suci pun mengalami rasa sakit. Undangannya, gunakan rasa sakit sebagai kunci untuk membuka wilayah-wilayah sakral di dalam. Tara Brach menyebutnya heart space (ruang hati). Untuk itu, imbangi kepintaran dengan kebaikan, imbangi kekayaan di luar dengan kekayaan di dalam.

Sebelum berbagi kebaikan ke luar, belajar berbagi kebaikan ke dalam. Sebelum bercerita tentang kekayaan di dalam ke orang luar, temukan dulu permata indah di dalam. Setiap kali mengalami kejadian yang tidak mengenakkan, kurangi bertanya “apa dosa saya?”, perbanyak bertanya “bagaimana saya bisa dibikin lebih dewasa oleh apa yang terjadi?. Pertanyaan kedua berisi lebih banyak penerimaan diri.

Transisi dari pertanyaan pertama ke pertanyaan kedua juga sedang membantu para sahabat bertransisi dari self-judgment (penghakiman diri) menuju self-compassion (berbelas kasih pada diri sendiri). Sekaligus, itulah langkah terindah untuk mengubah tubuh sebagai rumah sakit berjalan menjadi rumah kesembuhan yang berjalan.

Meminjam ceritanya Buddha, orang yang menghakimi dirinya mirip seseorang yang terluka karena panah. Penghakiman terhadap diri sendiri tidak saja tidak menyembuhkan, bahkan menambahkan panah baru pada luka yang telah ada. Para sahabat mulai mencabut panah yang melukai, serta menyembuhkan diri jika belajar membuka pintu ke-u-Tuhan (wholeness).

Simbolnya bisa samudera, bisa juga bunga mawar yang indah. Anda yang lebih suka samudera, setiap kali dikunjungi memori buruk atau mengalam hal buruk, ini mantra yang sebaiknya dibisikkan ke dalam: “Halo gelombang, saya tahu Anda datang lagi. Tapi saya tidak lagi dipermainkan oleh naik-turunnya gelombang. Saya adalah samudera yang maha luas”.

Kawan-kawan yang dekat dengan bunga mawar indah, ini mantra ke dalam diri ketika dikunjungi memori buruk dan kejadian buruk: “Halo duri, saya tahu Anda masih di dalam sana. Tapi duri ada di sini untuk menjaga saya. Duri membuat mawar jadi wakil kesempurnaan”. Ingat, tidak ada mawar tanpa duri, tidak ada kelebihan tanpa kekurangan.

Agar praktik kesehariannya lebih dalam, Tara Brach memberi saran berupa “u turn practice”. Andaikan Anda berjumpa anjing menggonggong. Pertama-tama muncul rasa takut atau marah, ketika diperhatikan kaki anjingnya berdarah karena terjepit di batang pohon. Hal yang sama terjadi ketika berjumpa orang-orang yang pemarah dan suka melukai.

Awalnya ia menimbulkan marah dan benci, setelah didalami, di balik kemarahannya yang membakar tersembunyi luka jiwa yang lebih dalam dari luka jiwa Anda. Bisa orang tua berpisah, sampai sekolah (keuangan) yang bermasalah. Sebagai akibatnya, pergeseran perspektif terjadi di dalam: “Dari marah menjadi tersenyum indah”. Inilah u turn practice yang sangat menyembuhkan.

Dan itu mungkin terjadi, jika para sahabat sudah belajar seni menerima diri secara total dan radikal. Serupa kamboja yang mekar mudah di tanah kering, lotus yang mekar mudah di kolam basah, kesembuhan, kebahagiaan dan kedamaian akan muncul secara mudah dan indah jika seseorang telah mempraktikkan seni penerimaan diri secara total dan radikal.

Keterangan foto: Guruji sedang meditasi

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.