Kesembuhan

Tiga Langkah Indah untuk Melatih Otak

Ditulis oleh Gede Prama

Pakar otak manusia dari Universitas Harvard bernama Dr. Rudi Tanzi benar sekali ketika menyarankan di buku indah Super Brain seperti ini: “Kurangi menjadi pelayan otak, belajar menjadi tuan bagi otak”. Secara sedih harus diungkapkan, banyak sahabat yang sakit begini sakit begitu, bermasalah begini bermasalah begitu, sebab utamanya karena menjadi pelayan otak.

Otak kiri yang suka mengeras khususnya, lengkap dengan gambaran kaku akan kebenaran di dalam, tidak saja mengundang serangan orang dari luar, tapi juga melahirkan banyak penyakit di dalam. Di semua agama ada cerita sedih tentang orang melukai (membunuh) orang lain sambil mengutip buku suci. Sesungguhnya mereka sedang menjadi pelayan bagi otak yang mengeras.

Karena demikian keadaannya, seawal mungkin mari belajar melatih otak. Terutama agar bertransformasi dari pelayan otak menjadi tuan di depan otak. Tanpa langkah spiritual jenis ini, buku suci tidak saja tidak menolong. Buku suci bahkan bisa sangat membahayakan. Contohnya ada banyak. Tapi tidak elok bercerita tidak positif tentang orang lain.

Pertama, langkah melatih otak agar para sahabat sembuh. Sedini mungkin belajar menjauh dari kecenderungan untuk berpikir, berucap dan bertindak serba keras dan serba kaku. Terutama karena kebenaran itu cair dan mengalir. Hanya sekadar contoh, di tahun 1970-an susu sapi disebut nutrisi yang menyempurnakan. Sekarang, ada banyak dokter yang melarang pasiennya meminum susu sapi.

Bahayanya otak yang mengeras dan kaku, di satu sisi ia membocorkan banyak energi. Di lain sini, konflik ke luar dan ke dalam yang dilahirkan oleh otak kiri yang mengeras, membuat otak sering melepaskan hormon neraka seperti cortisol. Ujungnya, tidak saja sistim kekebalan tubuh terganggu, sistim pencernaan dan sistim lain dalam tubuh pun terganggu.

Sebagaimana diteliti secara mendalam oleh Dr. Rudi Tanzi, otak yang keras dan kaku menghalangi seseorang untuk bisa mengalami tidur yang dalam (gelombang delta). Padahal, di zaman kita tidur yang dalam adalah syarat kesembuhan yang sangat penting. Saat tidur yang dalam itulah, tubuh dengan mudah bisa memperbaharui banyak sel yang rusak dan mati.

Untuk itu, lebih cepat mengimbangi otak kiri yang keras dan kaki dengan otak kanan yang lebih luwes dan lebih lentur lebih baik. Praktik kesehariannya, begitu otak mengeras dengan keyakinan benarnya, cepat bimbing diri dengan pengertian sederhana namun dalam: “Apa yang disebut benar oleh seseorang, bisa disebut salah oleh orang lain”. Ingat cerita tentang daun kering yang jatuh.

Bagi orang kota yang steril, daun kering yang jatuh adalah kotoran. Bagi tukang taman, ia pupuk organik. Bagi jiwa-jiwa yang dalam secara spiritual, daun kering yang jatuh adalah Guru simbolik yang mengajarkan tentang kematian. Lihat, jika daun kering yang jatuh saja bisa melahirkan 3 pandangan berbeda, apa lagi hal yang rumit seperti krisis panjang virus corona.

Kedua, langkah melatih otak agar para sahabat bertumbuh. Sudah dicatat dalam sejarah, tanpa keseimbangan antara otak dengan hati, maka manusia akan tumbuh dari satu masalah ke satu musibah. Contohnya ada banyak. Krisis super panjang virus corona ini juga punya akar kuat di sana. Dengan demikian, sedini mungkin belajar mengimbangi otak dengan hati.

Menyegarkan ingatan para sahabat, ketika hati bersyukur, seseorang sedang memberi tahu otak bahwa ia telah menerima apa yang diinginkan. Karena reaksi biokimia otak adalah titik perjumpaan antara body, mind, spirit, otak yang menerima informasi seperti itu tidak saja melepaskan hormon pertumbuhan seperti oxytocin, tapi juga membuat body, mind, spirit jadi seimbang.

Kawan-kawan yang belajar law of atraction (hukum daya tarik) serta visualization mengerti, hati yang bersyukur memiliki kekuatan hebat untuk menciptakan wajah kehidupan yang berkelimpahan. Setidaknya merasa berkecukupan. Anjurannya, latih otak untuk sesedikit mungkin mengeluh, sebanyak mungkin bersyukur. Mantranya: “Saya adalah rasa syukur yang sangat dalam”.

Ketiga, langkah melatih otak agar para sahabat terhubung dengan kesucian yang ada di dalam. Setiap kali mengalami apa saja – menjengkelkan atau menyenangkan – cukup dirasakan saja. Tanpa penolakan, tanpa kemelekatan. Sambil sadari sifat alaminya yang tidak kekal, datang dan pergi. Seperti awan. Dan Anda bukan awan yang tidak kekal, tapi langit biru yang abadi.

Jika memerlukan mantra, layak mencoba mantra indah ini: “Saya lebih Agung dari otak yang ada di dalam”. Sebagai nutrisi spiritual, sedalam apa pun meditasi seseorang, di dalam akan selalu ada gelombang. Bahkan di tingkat gelombang gamma pun (di mana pencerahan sering terjadi), masih ada gelombang. Dengan demikian, jadilah peselancar di atas gelombang.

Papan selancarnya bernama senyuman. Jika mau lebih dalam, ingat merasakan jeda (diantara dua nafas, dua memori, dua suara, dll). Kemudian masuki wilayah kuantum. Di mana banyak hal tidak mungkin menjadi mungkin. Selebihnya, alam rahasia akan memberi tanda. Tandanya unik-unik. Untuk publik pemula, kesehatan akan jauh membaik. Di dalam muncul rasa berkecukupan.

Kehadiran Anda akan sangat menyejukkan. Konflik menjauh, persahabatan mendekat. Dalam bahasa peneliti energi, vibrasi tertinggi tubuh manusia adalah damai (1.000). Di bawah itu ada belas kasih (compassion) dengan vibrasi 750. Di bawah itu ada cinta kasih (550). Ia jauh lebih tinggi dari vibrasi virus dan penyakit yang di bawah 100. Selamat berlatih para sahabat dekat.

Photo by Melissa Askew on unsplash

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.