Kesembuhan

Bayi-Bayi Menangis di Dalam

Ditulis oleh Gede Prama

Sejak ribuan tahun yang lalu, entah berapa wahyu yang telah turun ke bumi, entah berapa jiwa suci yang telah berusaha menyelamatkan manusia di bumi, tampaknya kegelisahan dan kemarahan tidak menunjukkan tanda-tanda menghilang. Sejumlah data tentang kesehatan masyarakat di beberapa negara bahkan menceritakan keadaan yang semakin menyedihkan.

Oleh karena itu, mari belajar melihat diri di dalam dalam perspektif yang lebih utuh dan holistik. Jika dikaitkan dengan kehidupan sebelumnya, mungkin terlalu rumit untuk publik pemula. Tapi kita merasakan bersama, tidak ada orang tua yang tidak melakukan kesalahan pada anak-anaknya. Dengan kata lain, kita semua terluka di masa kecil.

Belum lagi ditambah dengan usia sekolah yang penuh masalah, mencari nafkah yang juga berisi tumpukan masalah. Sehingga dalam kadar yang berbeda, kita semua menyimpan banyak luka jiwa di dalam. Luka jiwa yang belum tersembuhkan inilah yang muncul ke permukaan dalam bentuk kemarahan, kegelisahan, kesedihan serta tamu tidak diundang lainnya.

Cara berpikir dualistik yang terlalu bertenaga mau membuang yang negatif, tidak saja tidak menyembuhkan, tapi juga menciptakan ketidakseimbangan baru di dalam. Buktinya ada banyak dan trasparan. Tapi tidak elok menyebut contoh dalam hal ini. Lebih cantik jika kita belajar menyembuhkan diri di dalam. Langkah pertamanya, lihat luka jiwa sebagai bayi menangis.

Tidak saja kemarahan dan kegelisahan di dalam yang disarankan untuk dilihat sebagai bayi menangis, kemarahan dan kegelisahan orang di luar pun sebaiknya dilihat sebagai bayi yang menangis. Sama dengan bayi menangis, ia tidak minta untuk dibuang, ia minta didekap dengan penuh kasih sayang. Persisnya, kasih sayang yang lahir dari pandangan terang benderang.

Alam ini disebut alam samsara karena berisi banyak penderitaan. Yang namanya pandangan terang, penderitaan tidak ada di sini untuk menghancurkan, tapi untuk memurnikan. Dengan demikian, latih otak untuk berespon secara lebih sehat pada penderitaan. Simbol yang sehat adalah bayi yang menangis. Sehingga ia mengundang respon untuk mendekap.

Langkah praktisnya, setiap kali kemarahan dan kegelisahan datang, lihat ia sebagai buah perpaduan rumit antara masa kecil yang terluka, masa sekolah yang penuh bahaya, sampai tempat mencari nafkah yang sering kena marah. Kumpulan perasaan yang tertekan itulah yang muncul ke permukaan dalam bentuk tamu tidak diundang seperti kemarahan dan kegelisahan.

Yang namanya kesembuhan holistik sederhana, sebagaimana alam tidak bisa membuang sang malam, mawar tidak bisa membuang duri, manusia tidak bisa membuang kemarahan dan kegelisahan. Jika malam dibuang, siang juga menghilang. Bila duri dibuang, kesempurnaan mawar menghilang. Jika kesedihan dibuang, kebahagiaan juga menghilang.

Untuk itu, belajar tidak manja hanya mau senang dan gembira saja. Latih diri untuk menerima kemarahan, kegelisahan dan kesedihan sebagaimana samudera menerima gelombang. Agar langkahnya meyakinkan, lihat kemarahan, kegelisahan, kesedihan sebagai bayi menangis. Ini bukan bahasa metaforik (pengandaian). Tapi kenyataan yang hadir dalam keseharian.

Agar lebih jelas dan terang, saat kecil kita semua terluka oleh orang tua yang belum dewasa, ketika sekolah kita semua terluka oleh ini dan itu, setelah bekerja kita semua terluka oleh sulitnya mencari nafkah. Tumpukan luka jiwa itu adalah energi yang tertekan di dalam. Dan ia bukan setan, ia bagian dari diri kita. Kesembuhan lebih mudah datang jika ia dilihat sebagai bayi menangis.

Sehingga respon otak yang pertama adalah mendekap. Di jalan tua meditasi, energi di dalam yang bisa mendekap bayi-bayi menangis tadi adalah energi kesadaran penuh. Ia mirip seorang Ibu yang penuh kasih mendekap bayinya yang sedang menangis. Langkah kesehariannya, bagikan senyuman, akui ia sebagai bagian dari diri di dalam, izinkan ia datang dan pergi secara alami.

Siapa saja yang tekun dan tulus di jalan ini, nanti tidak saja senyumannya menyejukkan, tidak saja kehadirannya menyejukkan, bahkan makan pun mudah enak, tidur pun mudah nyenyak. Terutama karena bayi-bayi menangis yang bertahun-tahun mau dibuang itu, sekarang sudah tidur pulas di dalam. Selamat mencoba para sahabat dekat.

Pusat layanan gratis (tanpa bayar) keluarga spiritual Compassion:
P3A (Pusat Pelayanan Perawatan Anak berkebutuhan khusus)
P3B (Pusat Pelayanan Pencegahan Bunuh Diri)
P3C (Pusat Pelayanan Pencegahan Perceraian)
082335555644 (Telkomsel)
081999162555 (XL)
085857536536 (Indosat)

Photo by Ester Marie Doysabas on unsplash

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.