Kesembuhan

Menjadi Kartini Di Zaman Ini

Ditulis oleh Gede Prama

Tatkala menginap bersama Ibu (istri Guruji) di hotel Aman Kila Candi Dasa Bali Timur bulan lalu, tiba-tiba di sebuah pagi datang pegawai hotel mau mengalungkan bunga indah ke Guruji dan Ibu. Ketika ditanya ada apa, ternyata hari itu adalan “international women day” (hari wanita internasional). Kami berdua sangat terharu atas kebaikan manajemen hotel Aman Kila ketika itu.

Hari ini tanggal 21-4-2021, tiba-tiba kenangan tentang dikalungi bunga indah oleh seorang wanita di hotel Aman Kila muncul kembali. Ketika diminta menyampaikan pesan untuk para wanita dunia dalam bahasa Inggris, secara spontan dan mengalir keluar pesan indah seperti berikut ini dari lubuk hati yang paling dalam.

“Di tempat alaminya, semua hal tumbuh mudah dan indah. Lumba-lumba tumbuh mudah dan indah di lautan. Kupu-kupu tumbuh mudah dan indah di taman. Kamboja tumbuh mudah dan indah di tanah kering. Lotus dan teratai tumbuh mudah dan indah di kolam yang basah. Demikian juga dengan wanita, ia akan tumbuh mudah dan indah jika menemukan kebahagiaan dalam kelembutan”.

Baik pihak general manager maupun manager hotel kagum dan takjub mendengar pesan ini. General Manager bule yang berasal dari Afrika Selatan itu bahkan menunjukkan sikap hormat yang sangat dalam. Undangannya kemudian, mari menggunakan perayaan hari Kartini hari ini untuk mengundang sebanyak mungkin wanita agar kembali ke rumah alami.

Kata “kelembutan” memang bermakna berbeda dari satu orang ke orang lain, dari satu zaman ke zaman yang lain. Untuk memperkaya taman jiwa para sahabat dekat, layak merenungkan sifat-sifat lembut air. Air bisa melewati banyak penghalang karena ia lembut dan lentur. Para wanita juga akan bisa melewati lebih banyak penghalang jika tekun berlatih agar lembut dan lentur.

Berbeda dengan batu jika berjumpa saling bertabrakan, air jika berjumpa air ia akan berpelukan secara alami. Belajarlah berpelukan dengan kehidupan khususnya. Hanya ia yang memeluk kehidupan, yang akan dipeluk balik oleh kehidupan. Agar bisa sampai di sana, berpelukanlah dengan diri di dalam. Khususnya berpelukan dengan kekurangan dan ketidaksempurnaan.

Kekurangan dan ketidaksempurnaan tidak ada di sini sebagai hukuman, melainkan cara sang jiwa untuk tumbuh menuju kedewasaan. Kekuranganlah yang membuat manusia jadi hati-hati, rendah hati, belajar tidak menyakiti. Dengan cara ini, para sahabat akan “dijaga rapi” oleh kekurangan dan ketidaksempurnaan. Bukan dijatuhkan oleh kekurangan dan ketidaksempurnaan.

Praktik kesehariannya sedernaha namun dalam: “Love with all your heart”. Cintailah diri dan kehidupan dengan sepenuh hati. Cinta kasih memang tidak selalu membuat hidup jadi indah, kadang cinta kasih hadir membawa masalah. Kendati demikian, teruslah mencintai dengan sepenuh hati. Sampai suatu hari mengerti melalui pencapaian: “Ternyata yang mencintai dan yang dicintai satu”.

Sesampai di sini, cinta kasih akan menjadi sesuatu yang alami. Sealami air yang basah. Sealami bunga yang indah. Di jalan ini sering terdengar pesan indah seperti ini: “When you accept yoursel as you are, you are beautiful”. Begitu Anda menerima diri Anda apa adanya, secara alami Anda akan cantik dan menarik. Dari tatapan mata sampai kata-kata semuanya terasa cantik.

“When you love yourself enough, life blossoms in a beautiful way”. Begitu Anda mencintai diri Anda secara cukup, kehidupan mekar menyerupai bunga indah. Tandanya sederhana, tubuh mudah sehat, perjalanan jiwa mudah selamat. Makannya enak, tidurnya nyenyak. Di mana-mana Anda akan berjumpa keluarga. Terutama karena di dalam Anda sudah menemukan keluarga.

Pusat layanan gratis (tanpa bayar) keluarga spiritual Compassion:
P3A (Pusat Pelayanan Perawatan Anak berkebutuhan khusus)
P3B (Pusat Pelayanan Pencegahan Bunuh Diri)
P3C (Pusat Pelayanan Pencegahan Perceraian)
082335555644 (Telkomsel)
081999162555 (XL)
085857536536 (Indosat)

Keterangan foto: Guruji bersama Ibu sesaat setelah dikalungi bunga indah oleh pihak manajemen hotel Aman Kila Candi Dasa Bali Timur.

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.