Kesembuhan

Bunga Indah untuk Para Sahabat yang Pemarah

Ditulis oleh Gede Prama

Entah apa sebab pastinya, di putaran waktu ini ada banyak sekali manusia pemarah. Jangankan di negara berkembang, bahkan di negara super maju seperti AS pun jumlah manusia pemarah banyak sekali. Untuk membantu para sahabat agar sehat selamat, mari merenungkan bahayanya kemarahan, sekaligus merenungkan obatnya kemarahan.

Sudah ditulis di banyak jurnal kesehatan, sekaligus dipublikasikan secara luas di social media, begitu seseorang marah beberapa menit saja, maka kekebalan tubuhnya langsung turun beberapa jam. Kemarahan yang menahun menimbulkan banyak kerusakan di otak. Kerusakan di otak kemudian melahirkan banyak sekali jenis penyakit.

Di zaman orde baru, pernah ada tokoh sangat pintar dan sangat terkenal, beliau doktor lulusan Universitasi sangat terkemuka di dunia. Di zaman itu, sedikit ada yang berani mengkritik pemerintah. Tapi tokoh yang satu ini sangat berani mengkritik pemerintah. Sehingga dikagumi banyak orang ketika itu. Terutama dikagumi oleh orang-orang yang juga keras.

Untuk kepentingan belajar, bukan untuk menjelekkan orang, dibagikan di sini, tokoh itu sekarang mengakhiri masa tuanya dengan mengalami gangguan menyentuh di otaknya. Tidak elok menyebut namanya. Apa lagi menyebut penyakit persisnya. Tidak elok. Cukup itu digunakan cermin. Sundih bahasa Balinya. Jika seseorang di usia mudanya sangat pemarah, masa tuanya seperti itu.

Dengan bekal spiritual seperti itu, mari belajar menyembuhkan kemarahan. Bagi kupu-kupu yang menyukai bunga indah, mungkin cacing disebut kotor karena tumbuh di lumpur. Tapi bagi cacing yang menjalaninya, lumpur itu rumah indah. Bagi elang, mungkin ikan disebut bodoh karena terus menerus di air. Tapi bagi ikan yang menjalaninya, air itu surga dunia.

Dengan kata lain, apa yang disebut benar menurut orang tertentu, bisa jadi salah di orang lain. Apa yang disebut sampah oleh mahluk tertentu, bisa menjadi rumah indah bagi mahluk yang lain. Kemarahan sering bermula dari sini: “Secara kaku dan keras memaksa agar orang lain meyakini kebenaran yang sama”. Padahal dalam ilmu-ilmu manusia (termasuk eksakta) kebenaran itu probabilistik.

Apa yang disebut benar oleh metodologi ilmiah yang paling canggih sekali pun, tetap hasilnya hanya kemungkinan. Cermati dunia fisika. Antara fisika Newton yang mekanistik, dengan fisika Einstein yang relatifistik jauh sekali bedanya. Lebih-lebih fisika quantum. Tambah jauh bedanya. Untuk dimaklumi, kendati sudah memasuki zaman fisika quantum, masih banyak ilmuwan yang mengikuti Newton.

Jika di dunia eksakta yang relatif lebih sederhana saja, kebenaran itu masih berproses serta tidak pernah final, apa lagi di dunia humaniora yang jauh lebih rumit dan lebih kompleks. Dunia spiritual, itu lebih rumit lagi. Karena melibatkan dunia spirit yang sangat sedikit yang bisa melihatnya. Menyangkut hal-hal yang kita lihat bersama saja, manusia bertengkar. Bagaimana dengan yang tidak dilihat.

Karena demikian keadaanya, seawal mungkin latih diri agar tidak terlalu dicengkram oleh pikiran yang selalu merasa benar. Tidak saja karena ia ibu banyak kemarahan, tapi juga Ibu banyak kekacauan, kekerasan bahkan kehancuran. Andaikan salah satu kepala negara negeri yang memiliki bom atom marah besar, kemudian memencet tombol bom atom, dalam beberapa saat bumi hancur.

Agar cengkraman pikiran lebih longgar, belajar berjarak dengan pikiran yang merasa terlalu dan selalu benar. Sekali-sekali sempatkan waktu untuk melihat dari sudut pandang orang lain. Sahabat yang istrinya mulai menua tahu, wanita menua banyak sekali yang cinta sekali dengan barang-barang tua. Sehingga sayang jika ia dibuang. Akibatnya, rumahnya mirip gudang.

Pria yang mulai menua terbalik. Suka barang yang lebih sedikit. Rumah yang sederhana namun bersih. Jika wanita-pria menua ini keduanya sama-sama ngotot, mudah diramalkan, tidak saja keluarga bubar, masa tua juga terbakar. Hal yang sama juga terjadi dengan masyarakat. Anjurannya, ada bannyak sekali penyakit, kekerasan, kekacauan yang bisa dihindarkan jika orang mengerti pesan ini.

Dari pikiran yang mulai melonggar, kemudian belajar sedikit saja tentang belas kasih (compassion): “Apa pun agama seseorang, berapa pun umurnya, di mana pun ia terlahir, apa pun bahasa yang digunakan, kita semua sama-sama tidak mau disakiti. Kita semua sama-sama rindu untuk dicintai”. Makanya ada buku suci tua berpesan: “Perlakukan orang sebagaimana Anda ingin diperlakukan”.

Tidak terdengar ada agama yang melarang umatnya untuk memperlakukan orang lain sebagaimana ia ingin diperlakukan. Sekali lagi tidak terdengar. Pada saat yang sama, nyaris semua jiwa-jiwa suci di semua agama membadankan secara sempurna pesan terakhir ini. Jalaludin Rumi di Islam, Bunda Teresa di Gereja, YMM Dalai Lama di Buddha, Mahatma Gandhi di Hindu semua membadankan pesan ini.

Agar bisa sampai di sana, mari belajar menemukan sahabat di dalam. Studi-studi tentang pelaku kekerasan di banyak agama bercerita, nyaris semua pelaku kekerasan gagal menemukan sahabat di dalam (baca: membenci masa lalunya, membenci keluarganya, membenci dirinya sendiri). Padahal, semua yang terjadi di alam ini sedang membantu jiwa agar tumbuh dewasa.

Untuk itu, segera temukan sahabat di dalam dengan memaafkan yang telah lewat. Sambil ingat, kesalahan akan berhenti menjadi kesalahan begitu seseorang terfokus pada pelajaran. Kesimpulannya, agar sembuh dari kemarahan, ingat langkah sederhana ini: “longgarkan cengkraman pikiran, belajar belas kasih (compassion), temukan sahabat di dalam”.

Titip untuk membagikan bunga indah ini ke sebanyak mungkin kawan-kawan yang pemarah.

Photo by Dai Phong on unsplash

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.