Kesembuhan

Dicari: Orang-orang Puncak Gunung untuk Menyembuhkan Dunia

Ditulis oleh Gede Prama

Semalam setelah langit memberi 3 tanda indah (Waisak, Purnama, Gerhana), persisnya di tanggal 27/5 2021 jam 23:47 WIB muncul Cahaya sangat indah di puncak Gunung Merapi. Lokasinya tidak jauh dari candi Borobudur (foto terlampir). Ia mengundang banyak tanda tanya, langit mau bercerita apa lagi melalui tanda indah seperti ini? Sulit mengingkari, putaran waktu ini sangat gelap. Menyebut contoh hanya akan memperpanjang daftar panjang kegelapan yang telah panjang. Karena Cahayanya muncul di puncak (kepala) Gunung, layak merenungkan apa yang pernah terjadi di sebagian kepala bumi. Salah seorang cucu kaisar Jepang membuka rahasia, kapan saja terjadi bencana di Jepang maka kaisar tidak akan keluar dari ruang doa selama berhari-hari. Kemudian meminta maaf sedalam-dalamnya pada alam dan Tuhan. Terutama karena bencana memberi tanda bahwa ada noda di pikiran dan hati kaisar. Di kepala bumi Tibet pernah terjadi, berapa kali pun raja mendirikan Vihara, sebanyak itu juga Viharanya dirobohkan oleh setan. Datanglah YMA Lama Padmasambawa. Beliau tidak berperang melawan setan, tapi setannya diangkat naik menjadi kekuatan penjaga. Ujungnya, Vihara Samye pun bisa didirikan.

Pelajaran yang disisakan, hati-hati menjadi pemimpin. Tidak saja keputusannya mempengaruhi kehidupan orang banyak, bahkan sedikit noda di pikiran dan hati pun bisa mempengaruhi alam sekitar. Dalam bahasa fisika kuantum, pikiran manusia bisa mengubah hal kecil seperti atom, bisa juga mengubah hal besar seperti lingkungan sekitar. Serta sudah lewat zamannya, manusia disebut pahlawan karena berani berperang. Sekali lagi sudah lewat. Inilah zamannya, manusia lebih mungkin disebut pahlawan jika berani berbagi Cahaya terang. Khususnya melalui keteladanan. Setidaknya menjadi orang jujur di putaran waktu di mana banyak orang tidak jujur. Setidaknya tidak ikut-ikutan licik ketika banyak orang tenggelam dalam kelicikan. Jika pemimpin-pemimpin dunia saat ini acuannya, tampaknya harapan ini akan sulit menjadi kenyataan. Karena demikian keadaannya, inilah saatnya mencari sebanyak mungkin pemimpin informal. Yang memimpin bukan karena duduk di kursi kekuasaan, melainkan memimpin karena menjadi tauladan. Yang memimpin bukan karena punya banyak uang, namun karena hidupnya berbagi Cahaya terang. Dalam bahasa Mahatma Gandhi: “My life is my true speech”.

Dalam bahasa dunia spiritual, putaran waktu ini sangat merindukan munculnya roh-roh tua untuk menyembuhkan dunia. Yang lahir tidak karena mau mengumpulkan uang, tapi mau berbagi Cahaya terang. Berikut beberapa ciri roh tua agar para sahabat memiliki acuan dan pedoman.

  1. Sejak kecil sering merasa tidak nyaman bergaul dengan teman sebaya, tapi merasa lebih nyaman bergaul dengan orang-orang yang berumur lebih tua
  2. Di hari pertama masuk sekolah, kehidupan memberi tanda-tanda rahasia. Tentang bagaimana menjaga diri, bagaimana bertumbuh di alam yang berbahaya ini
  3. Pelajaran di sekolah yang paling menarik perhatian adalah sejarah serta hal-hal yang berkaitan dengan cerita dan kisah-kisah tua
  4. Terlihat tanda-tanda sejak kecil bahwa alam gelap mau menyerang, tapi setiap kali diserang selalu ada tangan rahasia yang menyelamatkan
  5. Kesendirian jauh lebih menyamankan dibandingkan keramaian. Di keramaian sering merasa kesepian kendati ada banyak orang lengkap dengan suara riuhnya
  6. Di masa kecil khususnya, langit mulai memberi tanda-tanda yang berbau langit. Entah sering mimpi terbang, sampai merasakan ada banyak sahabat dekat di langit sana
  7. Karena energi yang dibawa sangat berbeda dengan energi orang kebanyakan, struktur kecerdasan Anda berbeda. Bukan tidak mungkin disebut tidak cerdas ketika kecil
  8. Sangat jarang merasa takut di tengah alam terbuka, termasuk ketika malam. Sepertinya ada banyak kekuatan yang selalu menjaga. Alam berisi banyak tanda yang bisa dibaca
  9. Setelah tumbuh dewasa, cepat sekali bosan dengan hal-hal material. Sekaligus cepat sekali mengerti hal-hal spiritual. Sering muncul kebetulan-kebetulan yang kaya akan makna
  10. Pintu pembukanya biasanya dibuka melalui tragedi kemanusiaan seperti bom teroris, bencana alam besar, dll. Kehidupan seperti bergerak ke arah yang sebaliknya setelah dibuka
  11. Anda tidak tertarik mempertentangkan perbedaan antara agama-agama, lebih tertarik untuk menemukan intisari dari agama-agama. Yakni cinta kasih dalam tindakan
  12. Tempat suci lebih berfungsi sebagai cermin jernih Anda. Ia yang turun untuk berbagi permata di dalam akan sangat tergetar dengan Pura Dalem misalnya.
  13. Perpaduan antara ketekunan dan ketulusan di dalam dengan bhakti yang sangat mendalam, bukan tidak mungkin membuat Ibu bumi dan Ayah langit memberi tanda berkali-kali

Jika seseorang memiliki setidaknya 3 dari 13 tanda ini, apa lagi lebih dari 5 tanda, ada kemungkinan ia adalah orang-orang puncak gunung yang turun gunung untuk menyembuhkan dunia. Karena Cahayanya muncul di puncak Gunung Merapi sehari setelah 3 tanda indah dari langit berupa Waisak, Purnama dan Gerhana, layak direnungkan dalam-dalam pesan ini: “Agama-agama mirip pendaki dari arah yang berbeda. Tapi pada waktunya semua akan sampai di puncak cinta kasih yang sama”. Dengan kata lain, kurangi diseret oleh opini publik yang mempertentangkan agama. Angkat naik orang kebanyakan dengan cara terfokus pada melaksanakan cinta kasih. Sekali lagi, melaksanakan cinta kasih. Karena di putaran waktu ini wibawa dan karisma kata-kata menurun sangat drastis, berbicaralah ke orang-orang dengan bahasa keteladanan. Karena putaran waktu dipenuhi oleh banyak orang marah, tidak marah saja sudah bisa disebut keteladanan. Karena angka perceraian meroket di mana-mana, tidak cerai saja sudah bisa disebut menjadi tauladan di zaman ini. Lebih-lebih jika bisa mengalami menua yang indah. Memiliki anak cucu yang juga bertumbuh indah. Cahaya yang dibagikan akan jauh lebih meyakinkan. Sebagai bekal bertumbuh, apa pun yang terjadi selalu ingat pesan ini: “Senyuman Anda yang diniatkan untuk mengubah dunia, bukan dunia yang mengubah senyuman Anda”.

Keterangan foto: Persis sehari setelah langit memberi tanda melalui 3 tanda indah berupa Waisak, Purnama dan Gerhana di mana matahari yang maskulin bercinta dengan bulan yang feminin, persis jam 23:47 alias 13 menit sebelum tengah malam, muncul Cahaya sangat indah di puncak Gunung Merapi yang lokasinya tidak jauh dari candi Borobudur. Foto ditemukan di akun FB Lathifah Ambarwati. Berita tentang penampakan Cahaya ini juga dibenarkan oleh pihak Balai penyelidikan dan pengembangan teknologi kebencanaan geologi (BPPTKG) sebagaimana dilaporkan oleh Kompas.com

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.