Kesembuhan

Memperkuat kekebalan tubuh

Ditulis oleh Gede Prama

Awalnya ini hanya naluri spiritual semata. Belakangan ia diperkuat oleh sebuah tulisan indah di jurnal Science Alert. Yang lebih meyakinkan lagi adalah pengalaman di depan mata. Sejumlah keluarga dekat Compassion, bahkan ada yang berumur di atas 80 tahun positif terkena covid. Semuanya sembuh. Kesimpulannya sederhana tapi sangat dalam: “Virus tidak membunuh, kekebalan tubuh yang melemahlah yang membuat virus jadi membunuh”. Dibimbing oleh pengertian jernih seperti ini, para sahabat dekat sekarang diajak untuk merenungkan kekebalan tubuh. Agar bahasanya sederhana dan mudah dicerna, penjelasan di bagi ke dalam dua bagian. Faktor-faktor yang memperlemah kekebalan tubuh, serta faktor yang memperkuat kekebalan tubuh. Tubuh manusia memang mesin paling rumit di alam ini, tapi agar para sahabat memiliki pedoman dalam melangkah, harus ada keberanian untuk menyederhanakan. Tanpa keberanian untuk menyederhanakan, seseorang bisa paralysis by analysis (lumpuh oleh analisa)

Faktor-faktor yg memperlemah kekebalan tubuh

Di negeri yang statistiknya lebih terbuka sering ditemukan, stres telah membunuh banyak sekali manusia. Sekaligus melahirkan banyak sekali penyakit kronis. Lebih-lebih di zaman super panik ini, angka stres pasti meroket naik. Sehingga sulit mengingkari, stres adalah kekuatan di dalam yang sangat memperlemah kekebalan tubuh. Untuk itu, tidak ada salahnya menyembuhkan diri dari stres.

Dari segi pikiran, stres banyak berawal dari harapan yang melebihi kenyataan. Atau mengukur realita apa adanya menggunakan kerangka ideal yang serba seharusnya. Atau membandingkan hari ini dengan hari yang lain. Obat yang disarankan dalam hal ini, dekatkan harapan dengan kenyataan. Jalanilah hari ini sebagai hari ini, kurangi membandingkannya dengan hari lain. Jika bisa melihat semua sempurna pada tempatnya – contoh ikan di air, burung di pohon, orang jahat mengajarkan kebaikan orang baik juga mengajarkan kebaikan – stres akan jauh berkurang.

Dari segi perasaan, meminjam penulis “How emotion are created”, emosi adalah hasil interaksi dinamis antara otak, tubuh dan lingkungan. Stres sering terjadi karena seseorang tidak trampil melatih otak. Latihlah otak agar luwes dan lentur. Jauh dari kaku. Sambil ingat, kemampuan otak mengerti hanya cangkir kecil, sedangkah kehidupan seluas samudera. Latih otak agar lebih terbuka.

Dari segi lingkungan sosial, stres memberi masukan bahwa lingkungan tempat bertumbuh tidak terlalu cocok. Misalnya, seseorang yang peka bertumbuh di tengah para narcist dan vampir energi. Anjurannya, miliki keberanian untuk menjauh secara sopan. Sambil ingat, saat menjaga diri, Anda juga menghindarkan orang dari kemungkinan berurusan dengan polisi.

Dari segi hubungan seseorang dengan alam. Ada orang yang mudah bahagia saat matahari naik, mudah bad mood saat matahari turun. Ada agama yang dekat dengan bulan Purnama, ada yang dekat dengan bulan sabit, ada yang dekat dengan malam tanpa bulan. Intinya, hubungan seseorang dengan alam unik-unik. Cermati hubungan unik para sahabat dengan alam.

Di putaran waktu ketika alam sering melahirkan stres dan bad mood, jaga diri dengan kewaspadaaan yang lebih tinggi. Sebut saja seseorang sering bad mood saat matahari turun, begitu melewati jam 13:00 siang, lakukan hanya tugas-tugas yang ringan saja. Hanya bertemu orang yang menimbulkan lebih sedikit stres. Sedangkan tugas berat dilakukan di pagi hari.

Dari segi interaksi di media sosial, stres memberi masukan bahwa seseorang berinteraksi terlalu banyak dengan orang yang vibrasinya jauh berbeda. Anjurannya, lebih baik punya lebih sedikit teman tapi berkualitas, dibandingkan punya banyak teman tapi panas.

Dari segi spiritual, stres adalah masukan bahwa seseorang kurang seimbang dan kurang terhubung. Untuk itu, gunakan stres sebagai masukan untuk melangkah balik menuju rumah indah keseimbangan dan keterhubungan. Di tengah Cahaya maka kegelapan menghilang, ketika seseorang tumbuh seimbang dan terhubung stres juga menghilang.

Faktor yang memperkuat kekebalan tubuh

Dari segi pikiran, tutup diri dari segala bentuk interaksi yang membakar kepanikan dan ketakutan. Lebih baik tahu sedikit tapi selamat, dibandingkan tahu banyak tapi kiamat. Diantara pengetahuan sedikit itu yang paling menyelamatkan adalah kekebalan tubuh. Berhenti membocorkan terlalu banyak energi melalui pikiran negatif yang penuh kritik. Latih pikiran agar senantiasa positif-holistik. Kemudian mengalirlah bersama semuanya apa adanya.

Dari segi energi, saat matahari naik alam sedang berbagi energi. Ambil energi alam secukupnya. Tidak saja melalui berjemur untuk mendapatkan vitamin D, tapi juga dengan cara menyatu bersama kegembiraan alam. Duduklah di taman atau alam terbuka di jam-jam matahari masih naik. Lihat sisi-sisi indah alam. Terhubunglah melalui rasa syukur yang mendalam.

Saat matahari turun, jaga diri secara lebih waspada. Yang terpenting, jangan izinkan memori buruk menghasilkan pikiran buruk. Apa lagi perasaan buruk. Ketika pikiran buruk saling menggulung dengan perasaan buruk, di sana banyak bahaya bisa terjadi. Langkah praktisnya, saat memori buruk datang cukup sadari sifat alaminya yang datang dan pergi. Ia pantulan dari lingkaran neurologis di otak. Disiplin baru neuroimmunology bercerita, ada hubungan yang sangat kuat antara kekebalan tubuh dengan suasana hati yang selalu bergembira. Jadi, selalu pertahankan suasana hati yang selalu bergembira.

Dari segi nutrisi, tidak sedikit situs yang menekuni kanker kesimpulannya sama. Manusia sekarang kebanyakan makan tapi kekurangan nutrisi. Untuk itu, prioritaskan hanya memakan sayur dan buah yang langsung dari alam. Dikunyah jangan lupa. Jaga variasi sevariatif mungkin. Di wilayah biru dunia seperti Okinawa ditemukan, di sana orang memakan lebih dari 100 variasi sayur (buah) setahunnya. Disamping nutrisi yang masuk lewat mulut, waspadai juga nutrisi yang masuk lewat pikiran dan perasaan. Nutrisi pikiran terbaik adalah kedamaian. Nutrisi perasaan yang disarankan adalah kebahagiaan. Sambil ingat, kebahagiaan bukan buah dari kejadian di luar. Tapi buah dari ketekunan seseorang mengolahnya di dalam. Olahlah kejadian di luar menggunakan rasa syukur, maka Anda pun jadi mudah bahagia.

Dari segi interaksi, pakar epigenetics Dr. Kenneth Pelletier benar ketika menyimpulkan bahwa sahabat juga obat. Bertumbuhlah bersama sahabat yang membangkitkan optimisme. Menjauh secara sopan dari kawan-kawan yang menebar kepanikan. Lebih-lebih di social media, menjauh orang yang menebar kepanikan menghindarkan para sahabat dari kemungkinan mengalami kebocoran energi.

Dari segi teknologi, miliki keberanian heroik untuk menempatkan teknologi seperti HP untuk kembali duduk di bawah sebagai pelayan. Jangan izinkan ia berdiri pongah di atas sebagai tuan. Praktisnya, saat dibutuhkan silahkan dipakai. Ketika tidak dibutuhkan, matikan saja. Tentukan jam-jam tertentu menghidupkan HP, jam-jam yang lain mematikan HP. Khususnya anak-anak.

Jika harus bermain di media sosial, berinteraksilah hanya dengan orang yang mau diajak tumbuh sehat. Jangan pernah berkomentar negatif tentang orang lain, ia hanya akan mengundang serangan lebih besar. Begitu tidak cocok, apa lagi terlukai, berani menekan tombol “unfriend” atau “block”. Ingat, saat menjaga diri, Anda juga menjaga orang lain dari kemungkinan berurusan dengan polisi.

Dari segi mental, di zaman ini obat mental yang paling dibutuhkan adalah kebahagiaan. Bagi publik pemula, tawa, canda, menonton hal-hal lucu adalah sumber kebahagiaan. Bernyanyi bersama anak-anak adalah sumber lain. Melakukan apa-apa yang menyenangkan jiwa (bertaman, mendengarkan musik, melayani) adalah pilihan lain. Kebahagiaan yang terdalam adalah kedamaian. Karena percakapan di dalam adalah percakapan terpanjang dan terpenting, percakapkanlah di dalam hanya hal-hal yang layak disyukuri.

Dari segi spiritual, tidak ada obat spiritual yang lebih meyakinkan dibandingkan memadukan keseimbangan dengan keterhubungan. Seimbanglah dalam segala hal. Kemudian gunakan rasa syukur mendalam sebagai jembatan untuk mengalami keterhubungan. Mengulangi pesan sebelumnya, keterhubungan adalah akar terdalam kesembuhan dan kedamaian. Jika harus berdoa, doakan agar semua mahluk berbahagia.

***) Ini ringkasan dalam bahasa Indonesia acara social media live minggu ini sabtu 17 Juli 2021 jam 18:18 waktu Bali. Di jam 11:33 waktu Bali ada bimbingan meditasi. Ringkasan ini dibuat untuk membantu para sahabat yang tidak bisa bahasa Inggris. Terutama karena Guruji akan menyampaikan pesannya dalam bahasa Inggris.

Photo by Tim Mossholder on unsplash

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.