Kesembuhan

Dialog ke dalam di Ashram Avalokitesvara di perbukitan di Bali Utara

Ditulis oleh Gede Prama

Penanya: Kenapa Guruji Gede Prama terkena virus corona dalam jangka waktu nyaris 3 minggu. Padahal, tinggal di hutan yang sedikit manusianya, menjaga kesehatan tubuh secara sangat teliti, nutrisi pikiran, nutrisi perasaan serta nutrisi spiritual juga terjaga baik?

Guru di dalam: Belajar spiritual bukan belajar yang hebat-hebat. Belajar spiritual adalah belajar merunduk rendah hati. Termasuk merunduk rendah hati di depan penyakit dan rasa sakit. Bagi ia yang tekun di jalan ini akan mengerti melalui pencapaian, rasa sakit dan penyakit itu sangat memurnikan dan menyempurnakan perjalanan jiwa. Tanpa rasa sakit, perjalanan jiwa mirip layang-layang yang tidak pernah berjumpa angin yang menerjang. Tanpa rasa sakit, seseorang rawan terpeleset menjadi burung beo (maaf, membicarakan sesuatu hanya berdasarkan bacaan. Hanya berdasarkan logika di permukaan yang sangat dangkal).

Penanya: Tapi akibatnya malu. Bahasa Balinya kimud. Guru spiritual yang diharapkan menjadi pohon beringin yang kokoh, tempat banyak orang berteduh secara aman dan nyaman. Malah roboh

Guru di dalam: Di dunia spiritual mendalam, punya rasa malu itu pertanda baik. Pertanda bahwa di dalam masih tersedia banyak permata spiritual. Terutama malu berbuat tidak terpuji, malu tidak bisa mempertanggungjawabkan kata-kata yang telah diajarkan, malu melukai orang lain. Anjurannya, jangan pernah merasa rendah dan hina karena masih punya rasa malu jenis ini. Sebaliknya, itu mulya sekali. Ia memang direndahkan oleh segelintir orang-orang jahil. Namun kualitas ini sangat dimulyakan oleh manusia yang di dalamnya bersih, jernih dan indah. Dalam jangka pendek, banjir memang bikin kesal banyak orang. Tapi dalam jangka panjang, banjir membuat lingkungan sekitar jadi subur. Anda lahir ketika Gunung Agung meletus hebat sekali. Tapi coba perhatikan, batu-batu Gunung Agung yang dimuntahkan di tahun 1963 sekarang menjadi bangunan tempat suci yang megah dan indah. Hal yang sama juga terjadi dengan rasa malu di saat ini. Mana tahu suatu hari akan berubah menjadi banyak hal yang indah dan megah.

Penanya: Banyak orang memerlukan pembenaran (justifikasi) dari buku-buku suci tua yang berumur lama. Apa pembenaran di balik seorang Guru spiritual yang kesehatannya nyaris roboh selama 3 minggu?

Guru di dalam: Di agama Hindu ada tradisi tua bernama Vyutana. Di agama Buddha ada kisah tua tentang Bodhisatwa. Di Gereja ada jiwa yang sangat Agung bernama Yesus Krisus. Ketiganya sengaja lahir agar bisa mengambil sebagian penderitaan di alam ini. Ini karena sebagian wajah kehidupan mirip zero sum of game. Agar ada yang sembuh, mesti ada yang sakit. Agar ada yang senang, mesti ada yang sedih. Dan tugas suci mengambil sebagian penderitaan di alam ini sejak dulu hanya diambil oleh para Vyutana seperti Mahatma Gandhi, Bodhisatwa seperti Acharya Shanti Dewa yang bersumpah agar terus terlahir sampai alam samsara ini kosong, serta jiwa Agung seperti Yesus Kristus. Dalam bahasa yang terang dan gamblang, berterimakasihlah karena diberi kesempatan mengambil tugas super mulya ini. Seribu tahun sekali pun belum tentu ada satu manusia yang berani mengambil tugas mulya ini. Terutama karena rasa sakitnya hebat sekali. Tidak mungkin orang biasa bisa melakukannya.

Penanya: Orang-orang memerlukan bukti bahwa setelah seorang Bodhisatwa (Vyutana) mengambil sebagian penderitaan hebat di alam ini, alam ini (setidaknya pulau Bali) akan menunjukkan tanda-tanda yang membaik.

Guru di dalam: Hati-hati buru-buru memasuki wilayah ini. Tatkala manusia melihat alam sekitar, ia tidak saja sedang melihat alam di luar, tapi juga melihat lanskap jiwa di dalam dirinya. Cermati respon manusia terhadap daun kering yang jatuh. Bagi orang kota steril yang tidak punya hobi taman sama sekali, daun kering yang jatuh itu sepenuhnya negatif. Tidak ada hal positif di sana. Bagi tukang taman, atau ia yang hobi taman, daun kering yang jatuh adalah pupuk organik yang mempersubur tanaman. Persoalan waktu ia akan berubah menjadi hal-hal indah seperti bunga indah, pohon yang sejuk, kupu-kupu yang indah. Di tingkat ini, daun kering memiliki wajah yang sepenuhnya positif. Bagi penekun spiritual sangat dalam, daun kering yang jatuh adalah simbol pencapaian spiritual tingkat tinggi bernama Sarmapan (complete surrender to wholeness). Ikhlas sempurna di depan ke-u-Tuhan. Ia semacam pengalaman kebersatuan yang sempurna. Anda lihat, sebuah kejadian kecil berupa daun kering yang jatuh. Ia melahirkan 3 pikiran berbeda pada saat yang sama: “negatif, positif, holistik”. Hal yang sama juga akan terjadi dengan alam setelah kejadian ini. Jangan pernah berharap semua orang akan berdecak kagum. Jangan pernah. Hal-hal indah hanya akan dilihat oleh ia yang di dalamnya indah. Sementara ia yang pikirannya sangat negatif, akan tetap melihat hanya hal-hal negatif.

Penanya: Orang-orang memerlukan langkah-langkah praktis yang bisa menyelamatkan di zaman yang super tidak pasti ini?

Guru di dalam: Anda sudah lihat dengan mata kepala sendiri di rumah sakit, betapa banyaknya manusia menderita karena terkena virus corona. Bukan lagi hoax, bukan lagi berita yang disebarkan oleh pencari keuntungan. Sampaikan ke publik di mana saja berada, pemerintah tangannya terbatas. Ia tidak bisa merawat semua orang. Apa lagi di negeri yang penduduknya banyak sekali. Berita baiknya, manusia bisa menjadi perawat terbaik bagi dirinya sendiri. Sarankan ke orang-orang untuk merawat diri secara terbaik. Segarkan ingatan mereka tentang kerajaan kesembuhan di dalam: “Rajanya bernama nutrisi bervariasi yang langsung berasal dari alam (sayur dan buah segar yang bervariasi), ratunya bernama olah raga yang cukup, putera mahkotanya adalah tidur yang indah”. Disamping itu, ingat hal-hal standar yang dianjurkan pemerintah: “Pakai masker, social distancing, sering cuci tangan, menjaga kekebalan tubuh”. Mengulangi pesan sebelumnya, pemerintah tidak bisa merawat semua orang. Tapi Anda bisa menjadi perawat terbaik bagi diri sendiri. Terakhir, kesehatan memang bukan segalanya. Tapi tanpa kesehatan, segalanya jadi percuma.

Keterangan foto: Kemaren setelah Guruji sampai di Ashram, setelah dirawat hampir 3 minggu di rumah sakit, Ibu (istri Guruji) serta si bungsu Ram melakukan Namaskara

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.