Kesembuhan

Perjalanan spiritual Guruji menyembuhkan diri dari virus Corona

Ditulis oleh Gede Prama

Di akhir bulan juli 2021, persisnya tanggal 24 juli 2021, tanpa aba-aba tiba-tiba Guruji terkena virus corona. Ini di luar logika publik umumnya. Terutama karena Guruji tinggal di hutan. Di sekitar Ashram ada sedikit rumah, telaten melakukan social distancing, menjaga kesehatan secara super hati-hati. Baik secara biologi, psikologi, maupun spiritual. Tapi toh pada akhirnya harus ke rumah sakit karena terinfeksi virus corona. Di tengah keadaan menyedihkan seperti ini, mata spiritual Guruji membaca pesan simbolik seperti ini di alam: “Di dunia para Shaman (agama tertua di bumi), Spirit di alam ini memilih”. Dipilih untuk apa, secara implisit disembunyikan di balik tulisan indah ini.

  1. Pertempuran spiritual yang lebih besar dimulai.
    Sahabat-sahabat penekun spiritualitas mendalam mengerti, perjalanan spiritual mendalam sebagian mirip dengan berperang. Itu sebabnya Sang Rama betul-betul berperang melawan Rahwana, Shri Krisna berada di tengah pertempuran hebat bernama Mahabarata. Awatara Wisnu yang ke-9 Sang Buddha, kendati ajarannya sangat lembut, jauh dari kekerasan, juga mengalami sejumlah pertempuran. Beberapa saat menjelang tercerahkan, beliau diserang habis-habisan oleh setan mara, setelah tercerahkan pernah diserang gajah mabuk dan mengamuk, sebuah batu besar pernah digelindingkan orang dari arah atas jurang ke arah Buddha yang sedang meditasi di bawah, pernah didatangi wanita hamil yang mengaku pernah diajak tidur, serta sejumlah horor lainnya.

YMA Lama Padmasambawa pernah dibakar orang hidup-hidup tiga kali. Dan di ketiga kejadian itu api besar yang membara berubah menjadi kolam lotus yang tenang dan sejuk. Dan YMA Lama Padmasambawa duduk rapi serta penuh harmoni di atas bunga lotus tadi. Dalam bahasa psikolog kondang Carl G. Jung, perjalanan menuju pencerahan, selalu ditandai oleh hadirnya the dark nights the soul (malam-malam gelap bagi sang jiwa). Hal yang sama telah terjadi selama bertahun-tahun dengan Guruji. Bedanya, kali ini pertempuran spiritualnya lebih hebat dan dahsyat dari sebelumnya. Di jam pertama ada di rumah sakit, disaksikan oleh ketua team medis keluarga spiritual Compassion dr. Eka Imbawan (internist di rumah sakit Surya Husada Nusadua Bali), ada orang wafat karena virus corona. Mayatnya diangkut di jarak hanya beberapa meter dari tempat tidur di mana Guruji dirawat sementara. Beberapa menit sebelumnya, Ibu (istri Guruji) didekati oleh petugas rumah sakit dengan pesan seperti ini: “Jika suamimu wafat, mayatnya menjadi hak pemerintah. Langsung dibawa ke tempat rahasia untuk dikuburkan. Anda dan keluarga tidak boleh ikut dan tidak boleh tahu”. Sebuah perjumpaan sangat pribadi serta sangat dekat dengan raja segala ketakutan bernama kematian.

Di saat seperti itu, muncul suara suci dari dalam: “Kegelapan di luar tidak hadir untuk melahirkan kegelapan di dalam. Sebaliknya, kegelapan di luar hadir untuk melahirkan Cahaya baru yang jauh lebih indah di dalam”. Sehabis itu, satu horor disusul oleh horor yang lain. Tapi tidak elok bercerita tidak positif tentang orang lain. Tidak elok. Dibimbing oleh naluri spiritual, serta dibantu oleh keluarga spiritual Compassion, khususnya team medis keluarga Compassion yang dipimpin langsung oleh dr. Eka Imbawan (internist) , di malam ke sekian Guruji dipindahkan menggunakan ambulans ke rumah sakit yang jauh lebih layak di kota Denpasar. Alasan terpenting kenapa Guruji selamat ketika itu, karena sepenuhnya bergantung pada ajaran suci Compassion (belas kasih). Di jalan ini, seseorang tidak boleh melawan sama sekali. Langkah praktisnya mirip bela diri Aikido. Di mana seseorang tidak boleh menyerang. Hanya boleh berkelit. Kalau pun orang yang menyerang roboh, mereka roboh karena kekuatannya sendiri. Bila keadaannya sangat darurat, bahkan tubuh pun diserahkan pada kekuatan penggoda. Entah dagingnya untuk dimakan, entah darahnya untuk diminum. Dalam sejarah ajaran suci Compassion, biasanya kekuatan penggoda merunduk hormat pada jiwa suci yang mempraktikkan ajaran Compassion.

Berkah spiritual langsung dari praktik spiritual seperti ini adalah semakin lebar dan dalamnya space to suffer (sebuah ruang di dalam yang sengaja diciptakan untuk bisa mengalami penderitaan secara tulus dan ikhlas). Jika sering mengalami pertempuran spiritual besar seperti ini, lama-lama space to suffer ini meledak menjadi boundless capacity to suffer (kemampuan untuk menderita secara tidak terbatas). Sebagaimana dialami tidak banyak jiwa-jiwa suci, kemampuan untuk menderita secara tidak terbatas ini adalah fondasi pelayanan terkokoh yang pernah ada. Di zaman kita, Bunda Teresa, Mahatma Gandhi, Nelson Mandela, serta YMM Dalai Lama, jelas pernah mengalami pencapaian pribadi langsung jenis ini. Di mana space to suffer (ruang untuk menderita di dalam) berubah menjadi boundless capacity to suffer (kemampuan untuk menderita secara tidak terbatas). Pada saat yang sama, inilah sisi aktif dari pencerahan sempurna (perfect enlightenment). Ini juga yang sering disebut oleh agama-agama sebagai “kemenangan spiritual”.

Dalam bahasa yang ringkas, lugas namun padat, ternyata pertempuran spiritualnya tidak berlangsung dengan pihak luar. Seluruh pertempuran spiritual terjadi di dalam. Meminjam pengalaman pencerahan Pangeran Siddharta, begitu Pangeran Siddharta menerima setan mara sebagai bagian holistik (utuh) dari dirinya sendiri, pada saat itulah Pangeran Siddharta berhenti menjadi Pangeran Siddharta. Beliau berubah indah menjadi seorang Buddha (Ia yang tercerahkan secara sempurna). Jika menggunakan bahasa orang Tantra, kegelapan dan Cahaya bukan dua musuh yang saling mengalahkan. Melainkan dua sahabat yang saling menerangi. Tanpa kegelapan, Cahaya tidak akan indah. Tanpa rasa sakit (penyakit) sebagaimana dihadirkan oleh virus corona yang dijalani secara tulus dan ikhlas dalam jangka panjang, jiwa mana pun tidak akan memancarkan Cahaya indah.

  1. Pikiran yang penuh racun, serta pikiran yang berisi banyak obat (mind medicine)
    Sebagai bekal spiritual untuk semua sahabat dekat, dalam proses menuju ke sana penting sekali belajar menjadi “tuan” (bukan menjadi korban) dari pikiran. Sebagai bahan praktis dalam melangkah, pikiran adalah hasil interaksi dinamis antara kecerdasan, memori (ingatan), serta interaksi. Kehadiran virus corona serta penyakit lain akan mengacaukan, bahkan bisa membunuh, jika energi pikiran di dalam yang sangat negatif bersekongkol dengan energi penyakit yang juga tidak positif yang datang dari luar. Dengan mata spiritual terlihat terang benderang, ia yang tidak selamat di tengah wabah corona ini, umumnya pikirannya jauh dari positif. Penjelasan sederhananya, yang bersangkutan di dalamnya penuh dengan memori negatif tentang penyakit, berinteraksi di tengah lingkungan yang hanya melihat sisi negatif dari penyakit, serta struktur kecerdasan di dalamnya sangat negatif (baca: penyakit wakil setan, penyakit tanda seseorang sedang dihukum oleh Tuhan). Inilah persisnya yang disebut dengan pikiran yang beracun. Pikiran jenis ini, jangankan tubuhnya disentuh virus corona, bahkan hanya mengalami masalah kecil saja bisa berpikir tentang kemungkinan bunuh diri. Ini terjadi karena pikiran negatif membuka pintu bagi interaksi berbahaya antara energi buruk di dalam dengan energi buruk dari luar seperti penyakit.

Sebaliknya pikiran akan berisi banyak obat (mind medicine) jika ketiga unsur pembentuknya positif-holistik. Memori di dalam lebih banyak positif, berinteraksi di tengah lingkungan yang lebih positif, yang terpenting adalah struktur kecerdasan di dalam. Pikiran akan berisi banyak obat (mind medicine), jika struktur kecerdasan di dalam positif-holistik. Penjelasan praktis aplikatifnya seperti ini: “Sebagaimana alam tidak bisa membuang sang malam, sebagaimana samudera tidak bisa membuang gelombang, sebagaimana mawar tidak bisa membuang duri, manusia juga tidak bisa membuang hal-hal negatif di dalam dirinya. Di mana ada kelahiran, di sana ada kematian. Di mana ada kesehatan, di sana ada penyakit. Di mana ada rasa senang, di sana ada rasa sedih. Begitulah hukumnya sejak dulu”. Di Barat ia disebut God as a law (Tuhan sebagai hukum). Ia yang melawan hukum jenis ini akan sering berkawan dengan penderitaan. Ia yang berkawan dengan hukum ini akan sering berjumpa kesembuhan dan kedamaian.

Bahasa praktisnya, pikiran positif-holistik membuka pintu bagi terjadinya interaksi bercahaya antara energi bersahabat di dalam dengan energi bersahabat di luar. Karena hadir Cahaya, maka kegelapan secara alami menjauh. Akibatnya, penyakit berbahaya seperti virus corona menjauh secara alami. Secara lebih khusus karena vibrasi mereka yang di bawah 100 jauh berbeda dengan vibrasi Cahaya yang mendekati angka 1.000. Secara jujur harus diceritakan ke para sahabat dekat, ketika terbaring di rumah sakit selama hampir 3 minggu, obat inilah (mind medicine) yang terus menerus Guruji minum siang dan malam. Selama 24 jam tanpa henti. Tanpa dukungan mind medicine (obat pikiran), obat farmasi yang diberikan dokter, serta terapi medis lainnya, daya sembuhnya akan jauh lebih kecil. Sekaligus, kemungkinan kesembuhannya akan jauh lebih kecil. Dalam bahasa para peneliti energi, kebocoran energi paling banyak terjadi melalui pikiran negatif yang terlalu kritis. Begitu pikiran dibimbing menjadi positif-holistik, banyak kebocoran energi melalui pikiran bisa dikurangi. Sebagai akibatnya, tubuh memiliki jauh lebih banyak energi di dalam untuk menyembuhkan dirinya.

Langkah praktis kesehariannya seperti ini. Saat tidak bisa tidur, tersenyumlah. Saat bisa tidur, tersenyumlah. Ketika kehidupan tidak memuaskan, tersenyumlah. Tatkala kehidupan memuaskan, tersenyumlah. Intinya adalah bersahabat dekat dengan masa kini (the present). Di jalan tua meditasi telah lama diwariskan, stres dan depresi memberi tanda bahwa pikiran ada di masa lalu. Ketakutan berlebihan memberi tanda bahwa pikiran ada di masa depan. Hanya tatkala pikiran sepenuhnya ada di saat ini (the present), maka tubuh berisi jauh lebih banyak energi kesembuhan. Jika mau pesan yang lebih dalam, cermati warisan Agung YMA Lama Padmasambawa: “Release samsara within itself, until there’s no spiritual attainment to be attained. As a result, samsara and nirvana are one”. Terjemahan bebasnya, lepaskan samsara dalam sifat alaminya. Tidak perlu marah sama api yang panas, karena demikianlah sifat alami api. Tidak perlu terganggu oleh orang iri, karena begitu Anda tumbuh lebih tinggi, secara alami akan ada yang iri. Siapa saja yang bisa mengerti ini melalui pencapaian (bukan perdebatan), ia tidak lagi memerlukan pencapaian spiritual. Terutama karena telah terlihat secara terang benderang, ternyata samsara dan nirvana satu. Untuk dicatat oleh para sahabat dekat, inilah the ultimate medicine (obat tertinggi). Ia menyembuhkan semua aspek diri di dalam (body, mind, spirit).

Agar para sahabat dekat bisa melangkah ke sana, kendaraan utamanya adalah terhubung rapi dengan jeda (gap) diantara dua nafas, jeda diantara dua suara, jeda diantara dua memori. Sebagai bekal spiritual pada sahabat dekat, di saat-saat krisis terjadi selama 3 minggu ini, Guruji sering kembali ke jeda. Syukurnya, banyak hal panas berubah jadi sejuk. Banyak hal yang mengacaukan, berubah menjadi menyembuhkan. Di meditasi Tantra Buddha, jeda adalah obyek meditasi yang sering dianjurkan. Bagi murid-murid di jalan Shivaji, jeda adalah salah satu dari 112 perintah Shivaji pada permaisurinya Bunda Parwati. Ia ditulis rapi dalam buku suci tua berjudul “Vigyam Bhairawa Tantra”. Ringkasnya, penyakit seperti virus corona dekat dengan kegelapan. Sedangkan jeda sebagai pesan suci buku suci tua adalah Cahaya. Sebagaimana kita tahu bersama, setiap kegelapan akan menghilang secara alami begitu Sang Cahaya hadir.

  1. Tuhan sebagai keindahan (God as beauty)
    Orang boleh bercerita lain tentang Tuhan. Tapi secara pribadi harus dibagikan pada para sahabat dekat, setelah melewati banyak sekali krisis, di sana Guruji mengalami secara pribadi, Tuhan itu ada dan nyata. Sekian tahun lalu ketika melewati malam-malam gelap yang panjang bagi sang jiwa, hadir Tuhan sebagai kekuatan penjaga. Bahasa lugasnya, di langit hadir Cahaya kuning dan Cahaya putih berbentuk Naga. Tatkala di dalam terasa ragu, takut salah dalam berbagi Cahaya di tengah dunia, di langit hadir Cahaya dalam bentuk Tirtha (air suci) yang memercik dari langit berkali-kali. Ketika ditanyakan kenapa wajah yang dipinjam adalah air suci (Tirtha), karena di pulau Bali Tirtha adalah simbol yang paling disucikan. Dulunya agama orang Bali bernama Agama Tirtha. Di saat Guruji mengalami rasa sakit panjang karena virus corona, lagi-lagi hadir wajah Tuhan yang lain. Yakni Tuhan sebagai keindahan (God as beauty). Lebih-lebih di Bali, wajah Tuhan yang paling dipuja selama ribuan tahun di Bali adalah Tuhan sebagai keindahan. Makanya nyaris semua hal di Bali – dari menata sawah, tarian, ukiran, mengatur lingkungan – semuanyan dilakukan menggunakan cita rasa keindahan. Berkali-kali Bali disebut pulau terindah di dunia, lagi-lagi karena faktor keindahan.

Karena umur Guruji mulai menua, tidak lagi boleh bercerita tentang Tuhan dalam bahasa yang lugas seperti dulu. Hanya boleh bercerita dalam bahasa puitis. Di tengah kesedihan mendalan karena terkena virus corona terdengar pesan suci dari dalam seperti ini: “Penyakit bukan tanda bahwa ada banyak hal yang salah. Penyakit adalah undangan spiritual untuk menemukan lapisan-lapisan diri yang jauh lebih indah”. Sebuah pesan yang sangat menyentuh. Di ruang rumah sakit yang sepi sendiri, Guruji bermeditasi panjang sekali. Bersahabat dengan jeda lama sekali. Sebelumnya belum pernah bersahabat dengan jeda sepanjang ini. Di sana terbuka rahasia nyata tentang Tuhan sebagai keindahan (God as beauty). Wajah pertama Tuhan sebagai keindahan adalah rasa berkecukupan. Merasa cukup dengan apa-apa yang telah ada. Termasuk merasa cukup di depan penyakit dan rasa sakit. Wajah kedua Tuhan sebagai keindahan adalah rasa syukur yang sangat dalam. Wajah Tuhan sebagai keindahan yang ketiga adalah doa terindah berupa terimakasih. Tiga wajah Tuhan sebagai keindahan ini menghadirkan banyak keajaiban (miracles) di dalam. Tidak saja keajaiaban obat, tapi juga dibikin cepat sehat.

Agar wajah Tuhan sebagai keindahan terasa hadir nyata di dalam, serta menyembuhkan, tiap hari di saat luang Guruji menulis di HP tentang banyak hal yang layak disyukuri. Dari punya keluarga biologi yang bikin rindu, sampai punya keluarga spiritual yang kesetiaannya sangat mengagumkan. Dari pernah sekolah ke luar negeri karena kebaikan bea siswa, sampai pernah menjadi CEO (pemimpin perusahaan dengan ribuan karyawan) di umur 38 tahun. Dari pernah terbang ke mana-mana termasuk ke luar negeri menggunakan pesawat kelas satu untuk kepentingan mengajar, sampai dengan pernah dikenal sebagai pembicara publik terkemuka di Jakarta. Kendati Ibu kandung Guruji buta huruf (tidak bisa baca tulis), ayah kandung Guruji hanya lulusan kelas 3 sekolah dasar di zaman Belanda, Guruji bisa lulus dari perguruan tinggi di Inggris. Pernah ikut kursus manajemen puncak selama 2 minggu di INSEAD Fontainebleau Perancis. Semua karena kebaikan hati bea siswa. Serta masih banyak daftar panjang rasa syukur lainnya. Jika diperpanjang nanti dikira sombong dan congkak. Yang jelas, ketika menulis daftar panjang rasa syukur terasa sekali hadir di dalam energi berupa Tuhan sebagai keindahan (God as beauty). Intinya, virus corona dan penyakit lainnya bervibrasi di bawah 100. Pada saat yang sama, begitu hadir energi Tuhan sebagai keindahan vibrasi di dalam jauh di atas 100. Itu yang membuat daya sembuh obat farmasi, daya sembuh logika kedokteran yang lain menjadi jauh lebih tinggi.

Untuk membantu para sahabat dekat agar sehat selamat, berikut tips praktis agar sering berjumpa Tuhan sebagai keindahan (God as beauty). Menjauhlah secara sopan dari lingkungan yang bisa mencuri rasa syukur di dalam. Baca, tonton, perbincangkan hanya hal-hal yang memperkuat benih rasa syukur di dalam. Karena percakapan di dalam adalah percakapan terpenting dan terpanjang dalam hidup manusia, percakapkanlah di dalam hanya hal-hal yang menyirami benih-benih rasa syukur di dalam. Apa pun yang terjadi, lihat dari sisi-sisi yang layak disyukuri. Selalu ada yang bisa disyukri bahkan di balik kejadian yang paling buruk sekali pun. Bimbing diri seperti ini setiap hari: “Orang bahagia belum tentu bersyukur, tapi orang bersyukur pasti bahagia”. Karena kebahagiaan adalah obat yang paling dibutuhkan di zaman ini (catatan, bahkan PBB pun membuat ranking negara bahagia), latih diri untuk “berani” bahagia di depan semua keadaan. Ingat jiwa-jiwa yang indah, kebahagiaan bukan buah dari kejadian, tapi buah dari keberanian.

  1. Saran praktis untuk para sahabat dekat
    Setelah belajar langsung dari dalam tentang apa dan siapa virus corona, bukan membaca di berita, para sahabat disarankan untuk tidak gegabah menjaga kesehatan. Setidaknya menjaga kekebalan tubuh. Anjuran pemerintah berupa memakai masker, sering mencuci tangan, social distancing, dll sangat layak untuk diikuti. Untuk dimaklumi bersama, semua segi kehidupan dan keilmuan telah dirubah secara total oleh virus corona. Dari cara anak-anak sekolah belajar, sampai dengan bagaimana pengusaha mesti mengelola bisnisnya. Semua segi kehidupan berubah total karena virus corona. Demikian juga dengan cara merawat kesehatan tubuh. Sebagai pesan penutup, pemerintah tidak bisa merawat semua warga secara telaten satu per satu. Tapi para sahabat bisa merawat diri secara telaten dan rapi. Tolong ingat cerita sebelumnya tentang kerajaan kesembuhan di dalam: “Rajanya bernama nutrisi yang langsung dari alam (baca: sayur dan buah yang bervariasi). Ratunya bernama olah raga yang cukup. Putera mahkotanya tidak lain dan tidak bukan bernama tidur yang indah. Ingat jiwa-jiwa yang indah, kesehatan memang bukan segala-galanya. Tapi tanpa kesehatan segalanya jadi percuma. Semoga para sahabat sehat dan selamat bersama keluarga. Semoga semua mahluk berbahagia.

Keterangan foto: Guruji di Ashram Avalokiteshvara di perbukitan di Bali Utara. Foto diambil oleh si bungsu Ram (Ram Publication)

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.