Kesembuhan

Rasa sakit yang berbagi Cahaya

Ditulis oleh Gede Prama

Setelah mengalami rasa sakit yang panjang di rumah sakit karena virus corona, rabu 11 agustus 2021 Guruji diperbolehkan pulang oleh team dokter rumah sakit Surya Husada Nusa Dua Denpasar. Kemudian merawat diri secara telaten di Ashram ditemani Ibu, syukurnya setelah dilakukan test di laboratorium Prodia Singaraja hari rabu 25 agustus 2021, oleh team medis keluarga spiritual Compassion yang dipimpin oleh dr. Eka Imbawan (internist di RS Surya Husada Nusa Dua Denpasar), serta dr. Yogi Rangga dari Amplapura, kesehatan Guruji dalam keadaan jauh lebih baik. Berikut kesimpulan dr. Eka Imbawan terhadap hasil test laboratorium terakhir: “Secara umum, parameter laboratorium menunjukkan semuanya baik. Tidak ada kendala sama sekali”. Disamping itu, keseharian Guruji sudah normal. Bisa berjalan jauh, tidak lagi diganggu oleh batuk, sepulang ke Ashram tidak pernah menggunakan bantuan oksigen dari luar. Dan yang terpenting, tidurnya mulai nyenyak, makannya mulai enak. Agar rasa sakit panjang ini berbagi Cahaya pada para sahabat, berikut serangkaian pengalaman pribadi, yang diharapkan bisa menjadi lentera kecil (bahasa Balinya sundih) bagi para sahabat yang dikunjungi kegelapan panjang akibat virus corona. Sambil selalu ingat, kegelapan tidak ada di sini untuk menyerang, melainkan ada di sini untuk membuat Cahaya semakin terang.

Mengimbangi obat farmasi dengan nutrisi

Sudah menjadi ciri khas Guruji sejak kecil, tiap kali datang ke dokter nyaris selalu perilakunya mirip anak kecil yang penurut sekali di depan orang tua. Lebih-lebih sekarang dirawat oleh team medis berupa murid-murid sangat dekat, yang telah bertahun-tahun merawat tubuh Guruji. Berkali-kali diantar medical check up, sampai melibatkan alat super canggih bernama MRI. Itu sebabnya, nyaris semua saran team dokter dilakukan secara meyakinkan. Dari minum obat, multi vitamin, istirahat yang cukup, melakukan olah nafas untuk meningkatkan sanitasi oksigen dalam tubuh (tarik nafas melalui hidung, keluarkan lewat mulut yang bentuknya seperti bersiul), tidur tengkurap setidaknya miring untuk menghindari kemungkinan sesak nafas, berjemur agar memperoleh vitamin D di tiap pagi, pakai masker, semuanya dilakukan dengan penuh semangat. Dibimbing oleh spirit agar cepat sembuh, sehingga bisa melayani masyarakat kembali. Dalam kisah team medis keluarga Compassion, Guruji bahkan dibekali 4 alat test kesehatan. Dari pengukur suhu tubuh, oxymeter yang mengukur sanitasi oksigen dalam darah, alat pengukur tekanan darah, sampai alat pengukur kadar gula dalam darah. Sesampai di Ashram, lima hari pertama semuanya dilakukan serta dilaporkan setiap hari. Karena stabil di dalam standar selama 5 hari, hari berikutnya hanya dilaporkan dua kali seminggu ke team medis keluarga Compassion. Ringkasnya, begitu memutuskan memilih team dokter, penting sekali menjadi seorang pasien yang penurut.

Dengan tetap menyimpan rasa hormat yang tinggi pada team dokter dan ilmu kedokteran, telah lama Guruji membaca bahwa tubuh manusia adalah mesin paling rumit di alam samsara ini. Lebih-lebih sekarang terkena virus corona yang relatif baru, sehingga penelitian di bidang ini belum lama. Sehingga diperlukan pendekatan multi disiplin untuk merawat tubuh jenis ini. Mirip Dr. Jill Bolte Taylor, pakar otak manusia dari Universitas Harvard, yang harus terkena stroke dulu baru ceritanya tentang otak jadi sangat dalam mengagumkan, rupanya Guruji dipilih untuk melewati lorong gelap yang sama. Agar ceritanya lebih dalam, harus pernah mengalaminya secara pribadi. Sesampai di Ashram, Guruji ingat pesan tua salah satu buku suci tua di bidang kesembuhan bernama Ayur Veda: “Jika makananya salah, obat mana pun tidak menolong. Jika makanannya tepat, obat mana pun tidak diperlukan”. Ia bercerita tentang pentingnya nutrisi. Di dunia kesembuhan modern, Hipocrates telah berpesan ratusan tahun yang lalu: “Baik penyakit maupun kesehatan berawal dari perut”. Dalam bahasa sejumlah sahabat Guru besar di Barat di zaman ini: “If you heal your microbiome, your microbiome will heal you”.

Dengan kata lain, penting sekali untuk mendengarkan tubuh. Khususnya perut. Lebih-lebih di zaman kita sudah banyak peneliti yang menghubungkan perut dengan otak, perut dengan kekebalan tubuh, perut dengan sistim-sistim lain di dalam tubuh. Di dunia para Shaman (agama tertua di bumi), serta murid-murid Tantra yang telah dewasa, semuanya sering mendengarkan pesan ini: “Tubuh sesungguhnya berbicara, pertanyaannya apakah Anda mendengarkannya?”. Dibekali oleh referensi sederhana seperti ini, Guruji kemudian berkomunikasi secara intens dengan tubuh. Khususnya perut. Salah satu pesan penting dari dalam berbunyi seperti ini: “Yang paling tahu tubuh adalah tubuh itu sendiri”.  Ceritanya menjadi tidak sederhana karena memilih nutrisi nyaris tidak ada pedoman pasti. Ayur Veda mencoba mengelompokkan tubuh manusia ke dalam 4 kelompok (dosha). Ada yang cocok, ada yang tidak. Maklum, buku suci tua lahir di zaman ketika vibrasi alam tidak sepenuhnya sama dengan vibrasi alam sekarang. Satu-satunya pedoman yang disarankan adalah peka dengan tanda-tanda yang datang melalui tubuh. Terutama perut. Itu sebabnya, Guruji teliti sekali melihat kuantitas dan kualitas BAB (buang air besar), rasa lapar, rasa enak di mulut, serta semua perubahan sekecil apa pun yang terjadi di dalam perut khususnya.

Dibekali oleh mata spiritual terlihat, sepulang dari rumah sakit lebih dari satu orang yang melaporkan bahwa wajah Guruji seperti bayi. Halus, lembut, peka, sekaligus semakin kaya akan rasa. Karena demikian gambar yang muncul, maka makanan sehari-hari Guruji di Ashram kebanyakan adalah buah  dan sayur yang cocok untuk perut bayi. Hanya sebagai contoh, di Bali bayi sering diberi makan pisang ambon, ada juga biu tabah bahasa Balinya yang bercerita tentang jenis pisang lain yang cocok untuk perut bayi. Karena Guruji bersekolah di Barat dulu, di Barat sering terdengar pesan begini: “An apple a day will take all the doctor away”. Sehingga kombinasi antara dua jenis pisang ini serta apel menjadi menu makan pagi, sekaligus makan malam. Catatannya, buah dikunyah, tidak dijus. Karena ludah mengandung enzim yang meringankan tidak saja beban pencernaan, tapi juga ikut membantu kekebalan tubuh. Makan siang biasa agak besar melibatkan nasi, sayur, serta daging secukupnya. Hasilnya sangat layak disyukuri. Jika di hari pertama setelah pulang dari rumah sakit, warna BAB-nya hitam gelap menakutkan, di hari berikutnya mulai kuning. Di hari berikutnya tidak saja berwarna kuning, keluarnya pun tidak terlalu keras tidak terlalu encer, serta berbentuk silinder. Pada saat yang sama, di jam-jam tertentu perut memanggil dengan rasa lapar. Sebuah tanda bahwa microbiome di dalam tubuh sehat walafiat. Bersamaan dengan itu, suhu tubuh, sanitasi oksigen dalam darah, tekanan darah, serta kadar gula dalam darah menunjukkan kecenderungan nyaris selalu berada dalam standar normal. Sulit diingkari, ketekunan untuk mendengarkan tubuh, serta berespon cerdas terhadap tubuh adalah faktor menentukan di jalan kesembuhan. Yang dimaksud berespon cerdas sederhana, tubuh terus berubah. Bahkan tubuh yang sama pun memerlukan nutrisi berbeda di waktu berbeda. Tidak ada pilihan lain selain peka mendengarkan tubuh. Khususnya perut.

Tidak kalah pentingnya dengan nutrisi biologi, nutrisi mental dan nutrisi spiritual pun penting. Di zaman kita, nutrisi mental yang paling dicari adalah kebahagiaan. Bahkan PBB pun melakukan ranking negara-negara bahagia sudah cukup lama. Yang perlu dicatat, di tingkat pemula kebahagiaan sangat tergantung pada pujian orang dari luar. Begitu bertumbuh dewasa, apa lagi bercahaya, kebahagiaan lebih banyak tergantung pada rasa berkecukupan dan rasa syukur di dalam. Sejenis kebahagiaan yang sulit dicuri oleh orang luar. Kedamaian lain lagi, ia lebih terkait dengan ketekunan seseorang untuk melihat semua sempurna apa adanya. Burung di pohon, ikan di air. Saat hujan, ayam menjauh dari air, bebek mencemplungkan dirinya di kolam. Keduanya berbeda, tapi keduanya damai di tempat alaminya masing-masing. Inilah pikiran yang “istirahat”. Jauh dari konflik dan kritik. Akibat langsungnya, energi yang bocor melalui pikiran jadi jauh lebih sedikit. Nutrisi jenis ini juga yang Guruji badankan setiap hari. Terutama setelah pulang dari rumah sakit. Hasilnya, beyond words. Di luar kata-kata.

Komunikasi telepatik dengan virus corona

Tiap kali Guruji mengalami kesulitan untuk mengajak orang dekat untuk bertumbuh, selalu dilakukan komunikasi telepatik. Khususnya dengan cara membayangkan memori indah bersama, kebaikan yang pernah dilakukan, serta pelajaran-pelajaran yang telah diberikan. Hasilnya, nyaris semuanya berubah indah. Sekaligus membuat perjalanan melewati the dark nights of the soul (malam-malam gelap bagi sang jiwa) jadi jauh lebih mudah. Karena demikian pengalamannya, sejak dari rumah sakit Guruji sudah sering melakukan komunikasi telepatik dengan virus corona yang telah memasuki tubuh. Baik saat berdoa menggunakan Genta (bel suci) maupun doa kecil kecil di kesempatan lain seperti baru bangun dan mau tidur, sebelum mendoakan semua mahluk dari alam bawah sampai alam atas, selalu disempatkan untuk merenungkan kebaikan sempurna yang dibawa oleh virus corona terhadap perjalanan jiwa pribadi Guruji. Komunikasi telepatiknya seperti ini, sebelum melanjutkan doa untuk semua mahluk, izinkan Guruji merenungkan kebaikan sempurna yang telah diberikan oleh virus corona.

1. Virus corona telah mendekatkan jiwa dengan Tuhan. Terutama karena pengalaman langsung berjumpa raja segala ketakutan bernama kematian di hari-hari pertama masuk rumah sakit. Di mana ada sejumlah mayat korban virus corona lewat di depan mata.

2. Virus corona telah membukakan pintu pengalaman nyata menuju ke-u-Tuhan (wholeness). Di mana ada kelahiran, di sana ada kematian. Dari mana seseorang mengambil rasa enak, dari sana ia akan membayarnya dengan rasa sakit.

3. Virus corona telah membuat banyak ajaran suci (khususnya compassion) membadan secara jauh lebih sempurna dari sebelumnya. Terutama dengan melihat melalui mata sendiri, bagaimana banyak manusia di rumah sakit sangat menderita oleh virus corona. Di sana lahir bayi belas kasih yang jauh lebih kuat dan lebih indah dibandingkan sebelumnya.

4. Virus corona telah membuat Guruji jauh lebih menghargai kehidupan. Sekecil apa pun. Sejak dulu Guruji telah terbiasa mengambil semut atau lalat yang mengambang di air closet menggunakan pembersih closet sebelum closetnya disiram, menyelamatkan lalat, kupu-kupu, lebah, tawon, dll di kaca di depan tempat Guruji menulis, memberikan makan pada burung-burung liar, dll. Tapi sekarang setelah pernah dibuat sangat dekat dengan kematian oleh virus corona, tindakan yang sama membawa getaran-getaran spiritual yang jauh lebih dalam.

5. Virus corona telah membuat kualits ikigai (reason for living) Guruji jadi jauh lebih baik. Sejak muda dulu telah diberikan tanda berkali-kali dan berulang-ulang, Guruji lahir untuk berbagi Cahaya. Khususnya melalui tulisan. Itu ikigai inti Guruji. Setelah mengalami near death experience bersama virus corona, ikigai jenis ini seperti pohon yang sangat kokoh di dalam hati. Ia melahirkan janji kuat untuk terus memperbaiki dan menyempurnakan diri.

Sebagian para sahabat pasti bertanya, dari mana belajar ilmu jenis ini. Bisa-bisanya berterimakasih secara sangat mendalam pada virus yang nyaris membunuh. Awalnya belajar dari jiwa yang Agung bernama Mahatma Gandhi. Tatkala ribuan pengikut Mahatma Gandhi telah siap mendukung demonstrasi berkaitan dengan kebijakan garam pemerintah Inggris, pria kurus sederhana tanpa rambut ini malah meditasi berhari-hari. Begitu selesai meditasi, beliau turun memimpin demonstrasi. Tatkala ditanya kenapa meditasi lama sekali, Gandhiji menjawab terang sekali: “Tidak boleh ada kemarahan sedikit pun di dalam”. Buktinya, setelah itu tentara terkuat di dunia yakni tentara Inggris harus angkat kaki dari India. Pelajaran kedua diperoleh dari Lama Atisha. Orang suci dari India yang mengalami pencerahan sempurna di Indonesia di zaman Sriwijaya. Dalam perjalanan menuju Indonesia, Lama Atisha dicegat oleh mahluk sangat menakutkan di tengah lautan. Dengan tenang sempurna Bhiksu Buddha ini menjumpai mahluk menakutkan ini di dek kapal: “Ibu, jika sedang haus, darah saya ini memang untuk diminum. Jika Ibu sedang lapar, daging dan tulang saya ini memang untuk dimakan”. Begitu selesai bergumam seperti itu, mahluk sangat menakutkan ini malah namaskara (menghormat secara sangat dalam) di depan kaki Padma Lama Atisha. Dari sana spirit komunikasi telepatik dengan virus corona diperoleh. Syukurnya ia berbuah indah, tubuh jadi lebih cepat sehat, perjalanan jiwa jadi selamat. Kesimpulannya, compassion heals. Belas kasih tidak saja menyembuhkan, tapi juga menyelamatkan.

Daya sembuh keluarga sangat dekat

Dr. Robert Waldinger dari Universitas Harvard, yang mempresentasikan hasil riset Universitas Harvard selama 75 tahun terhadap 724 responden yang dimonitor dari dekat membuat kesimpulan yang sangat indah di youtube. Pada akhirnya, yang membuat hidup manusia sehat selamat adalah “kualitas hubungan yang bersangkutan dengan orang-orang dekat”. Di hari-hari awal Guruji masuk rumah sakit karena virus corona di sebuah rumah sakit di Singaraja, keadaan lingkungan sekitar khususnya memang sangat menyentuh. Ada banyak pasien virus corona yang tidak berdaya, sendirian tanpa ditemani keluarga, pada saat yang sama mayat orang wafat karena virus corona berseliweran melahirkan banyak ketakutan. Di saat-saat seperti itu, Ibu (istri Guruji) dengan gagah berani menjaga Guruji seorang diri. Ibu masuk ke dalam ruangan tempat Guruji dirawat. Siang dan malam. Kendatipun harus kena bentak berkali-kali oleh perawat. Pada saat yang sama ada dua dokter (yakni dr. Eka Imbawan dari Denpasar, serta dr. Yogi Rangga dari Amlapura) yang telaten sekali ikut merawat Guruji. Kendati harus nyetir mobil sendiri malam-malam lebih dari 2 jam sekali perjalanan. Tetap dua dokter ini tekun dan tulus merawat Guruji. Di situ kesimpulan pakar epi genetika Dr. Kenneth Pelletier benar: “Good friends are good medicine too”. Sahabat adalah obat.

Lebih-lebih ketika terjadi krisis sehingga Guruji harus dipindahkan ke rumah sakit di Denpasar, malam-malam di dalam ambulans menuju Denpasar Guruji ditemani Ibu seorang diri, di belakang dikawal oleh mobil pak Kadek Irawan (panggilannya Kadek Optimis) yakni kepala urusan rumah tangga Ashram,  sekitar jam 02 pagi disambut oleh dr. Eka Imbawan di Denpasar. Tidak kebayang apa yang terjadi jika dukungan keluarga dekat dan sahabat dekat tidak demikian hebat. Sekali lagi tidak kebayang. Saat terowongan gelap ini dilalui, di sana ada pesan suci dari dalam: “Ketulusan pelayanan orang lain adalah pantulan dari ketulusan Anda merawat mereka selama puluhan tahun”. Di hari berikutnya, matahari cerah kehidupan mulai terbit. Keluarga spiritual Compassion menyewa perusahaan Home Care yang menyediakan perawat selama 24 jam sehari tanpa putus. Ada tiga keluarga dekat Compassion yang bergantian membawa makanan enak kesukaan Guruji. Setelah ada waktu senggang sebentar, ketika membuka media sosial, FB khususnya, di sana terlihat doa dan dukungan para sahabat dalam jumlah yang banyak sekali. Lagi-lagi ia bercerita, sahabat dekat sungguh-sungguh telah menjadi obat. Di saat seperti itu sering terdengar pesan suci dari dalam: “To love and to be loved is the highest happiness”. Mencintai dan dicintai adalah wajah kebahagiaan yang paling mengagumkan. Dari sana juga mengalir obat indah dari dalam. Perasaan dicintai melahirkan rasa syukur, rasa syukur tidak saja melahirkan obat di dalam, tapi juga membantu untuk melakukan keterhubungan.

Rasa keterhubungan terakhir inilah yang membuat pengalaman dirawat di rumah sakit Surya Husada Nusa Dua Denpasar Bali menjadi jauh lebih ringan. Makannya mulai terasa agak enak, kendati kedua  tangan penuh dengan beban infus dan kabel lainnya, tubuh mulai bisa tidur. Dari sana titik balik kesembuhan terjadi. Lagi-lagi harus diceritakan di sini, itu mungkin terjadi karena ada dukungan hebat dari keluarga dekat dan sahabat dekat. Lebih-lebih ketika diizinkan boleh pulang dari rumah sakit. Rasanya seperti mau membuka pintu surga di bumi. Di sepanjang perjalanan dari Denpasar menuju Singaraja yang diantar oleh pak Koming Sudiarta, dikawal oleh pak Adi Wirawan serta Nyoman Ariana rasanya seperti sebuah perjalanan pulang ke rumah sejati. “Back home as a hero”, begitu salah satu pesan tetua suku Indian di Amerika. Sesampai di Ashram tempat Guruji bermukim, si bungsu Ram membuatkan video menyentuh “Welcome Home” oleh 5 cucu Guruji. Cucu tertua Nanda mengawali video dengan pesan seperti ini: “Welcome home Grandpa, everyday we love you”. Artha yang masih kecil menggunakan bahasa Inggris yang indah: “I love you Granpa”. Cucu ketiga Prajna memeluk secara sangat indah di video. Ia membuat air mata menetes berkali-kali. Ia sedang menulis kesimpulan melalui pengalaman nyata: “Home is not a place. It is a feeling of being unconditionally accepted”. Rumah bukan tempat, melainkan sebuah perasaan diterima secara total, tanpa syarat apa-apa. Sementara di tempat lain orang yang terkena virus corona diperlakukan secara jauh di bawah layak, di keluarga dekat Guruji (biologi maupun spiritual), perlakuannya sangat menyentuh hati. Dan itu melahirkan tidak berhingga obat di dalam. Dari rasa syukur sampai rasa terimakasih yang tidak berhingga. Benar sebagaimana yang Guruji sering tulis, keluarga memang tempat berteduh paling indah di zaman ini. Berkah Guruji lebih berlimpah karena tidak saja punya keluarga biologi yang hebat seperti Ibu dan mbak Wika, tapi juga punya keluarga spiritual Compassion yang daya selamatnya amazing (mengagumkan). Syukurnya, astungkara, Ibu sampai hari ini  di hari ulang tahunnya yang ke-59 dalam keadaan sangat sehat, serta sangat ceria. Dan semua biaya yang tidak murah ini, untuk merawat Guruji selama nyaris 3 minggu di rumah sakit, semuanya ditanggung oleh keluarga Compassion. Lagi-lagi suara dari dalam menguatkan: “Hanya ia yang merawat orang lain secara teliti, yang juga dirawat secara teliti”.  Mudah-mudahan pengalaman pribadi ini bermanfaat bagi semua sahabat.

Foto diambil dan diedit oleh si bungsu Ram (Ram Publications)

Catatan: Karena tulisan ini adalah kelanjutan dari tulisan sebelumnya yang berjudul “Perjalanan spiritual Guruji sembuh dari virus corona”, tidak ada salahnya diringkaskan sedikit inti dari tulisan sebelumnya:
1. Mind medicine (pikiran sebagai obat). Pikiran akan jadi racun jika seseorang pikirannya sangat negatif. Dalam hal ini, kegelapan penyakit dari luar akan melahirkan kegelapan berbahaya di dalam. Pikiran akan jadi obat jika positif-holistik dalam memandang kehidupan. Di mana ada puncak gunung, di sana ada jurang. Di mana ada rasa senang, di sana ada rasa sakit. Menyegarkan ingatan para sahabat, pikiran adalah hasil interaksi dinamis antara kecerdasan, memori dan interaksi. Yang terpenting adalah kecerdasan. Dan diantara semua kecerdasan, yang paling dianjurkan adalah mindfulness (kesadaran penuh). Yang diperkuat melalui meditasi.
2. God as beauty (Tuhan sebagai keindahan). Secara jujur harus diungkapkan ke para sahabat, Tuhan itu ada dan nyata. Di tengah rasa sakit yang panjang ini, wajah Tuhan yang sering datang dan menyembuhkan adalah Tuhan sebagai keindahan. Bentuk konkritnya, Ia muncul dalam bentuk rasa syukur yang mendalam. Ada dorongan keras untuk menulis daftar panjang hal-hal yang layak disyukuri. Wajah lain, dari dalam suka bernyanyi. Setidaknya bernyanyi di dalam hati. Lebih-lebih sepulang dari rumah sakit serta sampai di Ashram, semua hal yang ada di Ashram melahirkan rasa syukur. Itulah wajah Tuhan yang sangat menyelamatkan di zaman ini. Yakni Tuhan sebagai keindahan.
3. Jalan spiritualitas mendalam kelihatannya seperti setengah bertempur. Sebagian jiwa suci seperti Sang Rama di Hindu betul-betul berperang, YMA Lama Padmasambawa di Buddha bahkan dibakar orang hidup-hidup sampai tiga kali. Dan di ketiga waktu itu, apinya berubah menjadi kolam lotus yang sejuk. Serta beliau duduk tenag dan indah di atas lotus. Tapi setelah didalami, pertempuran sesungguhnya terjadi di dalam. Begitu seseorang menerima pihak yang menyerang sebagai bagian holistik dari diri di dalam, di sana semua pertempuran berhenti. Di agama Buddha, itulah yang disebut pencerahan.

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.