Kesembuhan

Mengaktifkan Saklar Pikiran

Ditulis oleh Gede Prama

Di dunia yang dibikin sangat terbuka oleh social media, sulit mengingkari ada terlalu banyak manusia yang diracuni oleh pikirannya sendiri. Amerika Serikat adalah salah satu Guru dunia. Jika di negeri yang jumlah penyandang gelar doktor per kapitanya tertinggi di dunia, ada sangat banyak manusia yang diracuni oleh pikirannya sendiri, apa yang terjadi dengan negeri-negeri yang masih terbelakang pendidikannya. Sebagai seseorang yang telah melayani banyak orang di jalan meditasi khususnya, terlihat terang benderang, bagaimana sahabat yang sakit begini sakit begitu, tanpa disadari telah meracuni dirinya dengan pikiran negatif setiap hari. Ciri dominan orang-orang jenis ini, mereka sangat bermusuhan dengan kehidupan. Ada saja yang ditolak dan dikeluhkan. Dari hidung yang mancung ke dalam, orang tua yang kurang kasih sayang, mertua yang bermusuhan, sampai dengan pemerintah dengan sikap yang tidak indah. Tidak banyak yang menyadari, jalan hidup yang bermusuhan dengan kehidupan membuat otak melepaskan banyak racun seperti cortisol setiap hari. Akibatnya, tubuh keracunan kemudian membuat perasaan juga keracunan. Sebelum dijemput bahaya, mari belajar mengaktifkan saklar pikiran.

Mendalami Pikiran

Banyak orang mengira pikiran sama dengan otak. Tentu saja tidak. Otak hanya salah satu kendaraan pikiran. Caroline Leaf dalam buku “Your mental mess” agak jernih dalam hal ini: “Pikiran adalah ladang energi baik di dalam tubuh maupun di luar tubuh”. Setelah menghabiskan waktu bertahun-tahun di jalan meditasi, memperhatikan gerak pikiran di dalam, di sana terlihat jelas: “Pikiran adalah hasil interaksi dinamis antara kecerdasan, memori dan interaksi”. Apa yang terjadi dengan orang yang kehidupannya berbahaya (bunuh diri, depresi sampai terkena penyakit kronis), sudah kecerdasannya sangat terbatas (baca: sangat dualistik serta menabrakkan dualitas seperti salah-benar), kemudian tidak cerdas mengelola memori, serta berinteraksi di tengah lingkungan yang sangat beracun. Perhatikan orang-orang desa yang tidak sekolah, tidak pernah merantau, serta diracuni oleh media sosial. Pendidikan dan pergaulan yang terbatas membuat kecerdasan juga terbatas. Ditemani ruang pengertian yang sempit kemudian berinteraksi di dunia media sosial yang kisruh dan kacau. Interaksi yang tidak sehat melahirkan banyak memori buruk. Nasibnya mudah ditebak, serupa daun kering yang bermain-main di tengah api, sedikit-sedikit kesehariannya akan terbakar. Dalam bahasa pakar otak, orang jenis ini setiap hari meracuni diri tanpa disadari.

Di kota yang berisi banyak orang pintar juga serupa. Dibekali kecerdasan yang terbatas, tidak sedikit orang kota yang terkena sakit mental bernama rigid positivity. Kaku sekali menerapkan pikiran positif. Karena merasa diri benar kemudian bermusuhan berlebihan dengan orang-orang yang dianggap tidak benar. Setelah membaca buku suci lengkap dengan kriteria baiknya, kemudian bermusuhan berlebihan dengan orang-orang yang dianggap tidak baik. Sebagai hasilnya, pengetahuan dan buku suci tidak melahirkan obat di dalam, namun melahirkan banyak racun di dalam. Sedikit diantara mereka yang menyadari, hal-hal buruk yang ditekan-tekan di dalam akan semakin kuat jika ditekan. Akibatnya ia akan muncul dalam berbagai wajah yang tidak bersahabat seperti memori buruk, bad mood, marah tanpa alasan, sampai dengan mimpi buruk. Jika itu berlangsung selama bertahun-tahun, tidak tertutup kemungkinan seseorang bisa terkena penyakit berbahaya seperti stroke dan serangan jantung. Dalam bahasa neuro-science, orang jenis ini mengalami thinking-feeing loop. Pikiran negatif dan perasaan negatif saling menggulung di dalam. Kemudian melahirkan banyak racun di dalam.

Kecerdasan yang lebih tinggi

Agar sehat selamat di zaman tidak sehat ini, penting sekali mengembangkan kecerdasan yang lebih tinggi. Tidak lagi dibikin sakit oleh dualitas seperti buruk-baik, salah benar, melainkan berjarak secara sehat dengan segala bentuk dualitas, kemudian berselancar di atas keduanya. Papan selancaranya bernama kesadaran penuh (mindfulness). Ceritanya sederhana, tapi langkah kesehariannya tidak sederhana. Terutama karena pikiran orang dewasa khususnya telah terlanjur dibuat sangat rumit oleh ini dan itu. Kendati rumit, tidak ada salahnya menguraikannya dengan kesederhanaan. Pertama, sesulit apa pun rasanya di dalam belajar memaafkan. Memaafkan akan mengurangi secara signifikan jumlah memori buruk yang datang. Memaafkan juga melonggarkan cengkraman pikiran dualistik yang sangat meracuni. Memaafkan membuat otak melepaskan jauh lebih sedikit racun di dalam. Memaafkan membuat percakapan di dalam akan jauh lebih sehat. Memaafkan membersihkan diri di dalam dari banyak sekali sampah yang tidak perlu. Memaafkan membebaskan seseorang dari banyak sekali hal negatif. Memaafkan adalah salah satu jenis peace intelligence (kecerdasan kedamaian). Memaafkan membuat otak kiri dan otak kanan lebih seimbang. Kedua, latih diri untuk lebih holistik dalam memandang kehidupan. Sebagaimana malam-siang tidak bisa dipisahkan, sedih-senang, duka-suka- cacian-pujian juga tidak bisa dipisahkan. Ia dua muka dari koin yang sama, ia sayap berbeda dari jiwa yang sama.

Ketiga, penting sekali membekali diri dengan pandangan multi perspektif. Tidak sempit dan kaku seperti kaca mata kuda. Bayangkan tiga orang buta yang memegang badan gajah yang sama. Yang memegang belalai mengira ini ular, yang memegang kaki menyimpulkan bahwa itu batang pohon, yang memegang tubuh gajah akan mengira itu tembok. Jika orang buta dibatasi oleh ketidakmampuannya dalam melihat, orang biasa juga dibatasi oleh keterbasan pengetahuan dan pengalamannya. Untuk dicatat bersama, tidak ada manusia yang tahu dan mengerti semuanya. Tidak ada. Ajakannya kemudian, saat berinteraksi dan berdialog, latih diri untuk tidak ngotot dan tidak kaku. Filsuf jernih bernama Richard Rorty dalam “Philosophy and the mirror of nature” jernih sekali menyimpulkan: “Kebenaran seperti kaca cermin yang telah pecah. Tiap orang memegang pecahan cermin yang berbeda”. Untuk itu, kurangi merasa diri selalu benar. Apa lagi selalu menyalahkan orang lain yang berbeda. Kurangi. Kembali ke pengandaian tiga orang buta yang memegang tubuh gajah yang berbeda, ganti pertanyaannya dari “siapa yang benar” menjadi “apa hubungan antara satu pendapat dengan pendapat yang lain”. Dalam kisah tiga orang buta ini, pertanyaannya berbunyi seperti ini: “Mahluk apa yang di satu bagian mirip ular, di bagian lain mirip batang pohon dan tembok?”. Hal yang sama juga terjadi dengan kehidupan. Pakar hukum, pakar ekonomi, pakar teknologi akan memandangnya dari segi yang berbeda. Kurangi menganggap bidang sendiri yang paling benar, belajar melihat “interaksi” dari berbagai pandangan berbeda.

Saklar pikiran di dalam

Sebagaimana cahaya listrik yang lahir sebagai hasil sintesis dari energi negatif dan positif, cahaya di dalam juga serupa. Untuk itu, belajar melakukan sintesis negatif-positif di dalam. Sekuat apa pun seseorang berdoa, sedalam apa pun manusia bermeditasi, di dalam akan selalu ada hal-hal negatif dan positif. Sebagaimana ditulis indah dalam buku “Dopamine Nation: Finding balance in the age of indulgence” karangan Anna Lembke, MD, kecenderungan banyak manusia yang hanya mau kesenangan melalui media sosial, serta mau menekan secara berlebihan emosi negatif seperti bad mood, telah membuat banyak sekali orang mengalami sakit mental. Yang dianjurkan di sini, kurangi manja hanya mau pikiran dan perasaan positif seperti benar dan senang. Latih diri untuk “mensintesiskan” negatif-positif di dalam. Sebagaimana malam-siang yang datang secara bergantian, demikian juga salah-benar, sedih-senang, memori buruk serta memori indah. Langkah sintesisnya, berjaraklah secara sehat dengan keduanya. Sadari dalam-dalam sifat semuanya yang tidak kekal. Bimbing diri untuk menjadi seorang saksi yang penuh harmoni. Setua apa pun umur seseorang, sebijaksana apa pun manusia di dalam, ia akan senantiasa memiliki gelombang turun-naik di dalam.

Saklar di dalam akan mulai aktif, begitu seseorang tekun dan tidak mudah menyerah untuk menjadi seorang peselancar. Papan selancar terindah yang pernah ada adalah senyuman. Saat dikunjungi memori buruk, tersenyumlah. Ketika dikunjungi memori indah, tersenyumlah. Sambil ingat, semua gelombang merunduk rendah hati di pantai kedamaian yang sama. Agar tidak ditarik ke sana ke mari oleh memori, perasaan, bentuk-bentuk pikiran, selalu bawa pikiran dan perasaan untuk kembali ke saat ini. Gunakan nafas, persisnya jeda diantara dua nafas, sebagai jangkar untuk mengikat kapal pikiran dan perasaan agar senantiasa terhubung dengan saat ini. Dalam bahasa para penekun meditasi mendalam: “Saat ketika Anda mengembalikan pikiran dan perasaan kembali ke nafas, itulah saat-saat pencerahan”. Pesan terdalam datang dari YMA Lama Padmasambawa: “Release samsara within itself. Until there’s no spiritual attainment to be attained. Ultimately, samsara and nirvana are one”. Begitu cengkraman pikiran (perasaan) dualistik lepas, di sana seseorang bisa melepaskan alam samsara ini dalam sifat alaminya. Tidak perlu marah sama api yang panas, sifat alami api memang panas. Tidak perlu marah sama orang iri, sifat alami kelebihan memang mengundang segelintir orang untuk iri. Akibatnya, pikiran dan perasaan bisa istirahat sempurna di saat ini apa adanya. Sehingga tidak ada lagi pencapaian spiritual yang perlu dicapai. Terutama karena samsara dan nirvana ternyata satu. Sebagaimana sifat alami bunga yang indah, sebagaimana sifat alami air yang basah, sifat alami manusia yang telah sampai di sini, keseharian dan sikapnya indah. Inilah persisnya yang disebut dengan saklar pikiran di dalam yang mulai hidup dan aktif.

*) Ini ringkasan pembicaraan Guruji di acara sosial media live di hari selasa dan rabu tanggal 12 dan 13-10-2021. Ia dibuat untuk membantu para sahabat yang tidak bisa bahasa Inggris. Terutama karena Guruji akan menyampaikan pesannya dalam bahasa Inggris

Keterangan foto: Pintu menuju “secret temple” di Ashram Avalokiteshvara tempat Guruji bermukim di perbukitan di Bali Utara

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.