Kesembuhan

Anda adalah Nirvana yang Berjalan

Ditulis oleh Gede Prama

Ada satu hal yang aneh dalam hidup manusia sejak dulu. Manusia melakukan persiapan yang sangat rapi untuk menghadapi kehidupan yang tidak pasti. Tapi nyaris tidak melakukan persiapan sama sekali untuk menghadapi kematian yang pasti terjadi. Ujungnya mudah ditebak, di depan kematian nyaris semua manusia ditemani oleh penderitaan mendalam. Padahal, energi kebiasaan yang paling kuat di saat kematian akan menentukan di mana seseorang akan terlahir di kehidupan berikutnya. Jika energi terkuat saat kematian adalah penderitaan, sangat mungkin yang bersangkutan akan terlahir kembali di alam yang juga penuh penderitaan. Bahasa ilmu pengetahuannya, semuanya energi. Dan energi tidak mengenal istilah mati. Ia hanya berpindah dari satu tempat ke tempat lain.

Karena demikian keadaannya, kendati umur masih muda, tidak ada salahnya melakukan latihan kematian setiap hari. Untuk direnungkan lebih dalam, tiap orang yang nyaris sempurna di bidangnya masing-masing, di awal latihannya sangat mengagumkan. Michael Jordan di basket, Tiger Wood di golf, Kitaro di musik semuanya mengawali perjalanan dengan tekun berlatih. Perhatikan detik-detik ketika Mahatma Gandhi di India wafat ditembus peluru panas. Yang pertama keluar dari bibir beliau adalah nama Tuhan: “Shri Ram, Shri Ram, Shri Ram”. Itu pasti latihan wafatnya bagus sekali. Abu Jetsun Milarepa di Tibet saat wafat tidak saja diperebutkan oleh muridnya, tapi juga diminta dengan hormat oleh alam Cahaya. YMA Lama Padmasambawa setelah hidup selama seribu tahun, ketika meninggalkan Tibet (tidak wafat) mengendarai Cahaya matahari ke arah Barat. Lagi-lagi mau dibagikan di sini, pencapaian mengagumkan seperti itu pasti didahului oleh latihan wafat yang juga mengagumkan.

Untuk itu, mari berlatih mati setiap hari. Terutama karena kematian bisa datang kapan saja. Tidak saja menjemput orang tua, tapi juga menjemput anak-anak muda. Latihan yang sederhana adalah melihat sifat alami semuanya yang tidak kekal. Sampah berubah menjadi bunga indah. Bunga indah berubah menjadi sampah. Demikian juga dengan tubuh manusia. Sekaya dan seterkenal apa pun seseorang, suatu hari tubuhnya pasti tidak berdaya di depan kematian. Latihan lebih dalam, semua yang muncul di alam ini akan lenyap. Sehingga tiap kali melihat orang yang lalu lalang di tempat publik seperti bandara, demikian juga dengan pikiran dan perasaan, semuanya hanya numpang lewat serta muncul lenyap. Saat meninggalkan rumah menuju kantor, bisikkan ke dalam diri: “Saya wafat di rumah, sebentar lagi lahir di kantor”.

Bila mau lebih dalam lagi, dekati kematian dengan cara sering melayat ke keluarga (kerabat) yang mengalami kematian. Hadirlah di sana ditemani oleh rasa. Latihan hening tidak bicara selama beberapa hari adalah latihan wafat yang dalam. Anda punya logika, alam sekitar punya logika. Keduanya sering tidak sejalan. Untuk diendapkan bersama, nanti saat wafat juga seperti itu. Anda punya logika, orang lain punya logika. Dan keduanya sering tidak sejalan. Jika sering latihan hening berhari-hari, seseorang bisa tersenyum indah di hari-hari pertama kematian. Karena energi terkuat saat kematian adalah senyuman indah, yang bersangkutan sangat mungkin terlahir di alam yang berisi banyak senyuman indah.

Latihan wafat yang sangat dalam adalah merenungkan empat “no”. No self, no person, no living being, no life span. Tidak ada diri yang terpisah, tidak ada orang yang terpisah, tidak ada mahluk hidup yang terpisah, tidak ada kelahiran tidak ada kematian. Untuk mudahnya, perhatikan gelombang lautan. Saat ia mati di bibir pantai, sesungguhnya ia tidak mati. Tapi melanjutkan tugas berikutnya. Ia akan muncul lagi dalam bentuk gelombang yang baru. Jiwa-jiwa gelisah mirip gelombang yang mencari air. Padahal dalam diri gelombang sudah ada air. Contoh lain, jiwa gelisah mirip air sungai yang buru-buru mau sampai di samudera. Padahal dalam diri air sungai sudah ada samudera. Makanya, salah satu pengertian pencerahan adalah seseorang yang telah bebas dari segala konsep. Termasuk bebas dari kosep lahir-mati, bebas dari konsep neraka-surga. Cukup mengalir saja. Ringkasnya, menyatulah secara sempurna bersama apa-apa yang ada sekarang. Sekali lagi sekarang.

Keadaan empat “no” tercapai ketika seseorang mengerti melalui pencapaian, manusia tidak perlu mengejar Tuhan, tidak perlu mencari Nirvana. Sebagaimana sifat alami gelombang adalah air, sifat alami air sungai membawa samudera di dalam dirinya, sifat alami seseorang di dalamnya adalah Tuhan. Sifat alami seseorang di dalamnya adalah Nirvana. Sehingga tidak perlu menjadi gelombang yang rindu akan air. Tidak perlu menjadi air sungai yang rindu akan samudera. Tidak perlu menjadi sampah yang heran berlebihan dengan bunga indah. Ini sebabnya kenapa di sesi-sesi bimbingan meditasi, para sahabat sering dibimbing dengan pesan seperti ini: “Istirahat jiwa-jiwa yang indah. Semua adalah tarian kesempurnaan yang sama”. Di Ashram, sahabat dekat Guruji setiap hari adalah daun kering yang jatuh. Di filosofi Timur ia diberi nama Sarmapan. Perfect surrender to wholeness. Daun kering adalah simbol keikhlasan sempurna di depan ke-u-Tuhan. Itu cara lain untuk mencapai empat “no” dalam keseharian.

Keterangan foto: Salah satu pojokan Ashram tempat Guruji bermukim di perbukitan di Bali Utara. Di kejauhan terlihat miniatur candi Borobudur (berwarna kuning keemasan) yang dikelilingi oleh sawah. Padi di sawah selalu dipanen oleh burung-burung liar. Di dalam miniatur Borobudur ini disimpan potongan kuku dan potongan rambut Guruji selama lebih dari 10 tahun. Ia mirip “kuburan” Guruji. Di sana juga Guruji nyaris setiap hari merenungkan kematian. Dalam bahasa tetua Bali, setiap hari mengabenkan diri di sana.

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.