Kesembuhan

Mekar sempurna dalam cinta kasih

Ditulis oleh Gede Prama

Di kelas-kelas meditasi khususnya, kadang terdengar keluhan seperti ini: “Saya sudah punya anak-cucu, tapi tetap saja tertarik dengan lawan jenis yang penampilannya sesuai dengan selera”. Begitulah kisah banyak manusia sejak dulu. Dikacaukan oleh energi seks sebagai salah satu wajah cinta kasih, bukan diangkat naik oleh cinta kasih. Tidak sedikit manusia yang berbahaya karena energi seks. Termasuk Guru-Guru spiritual. Padahal seks adalah energi dari mana banyak mahluk berasal. Dengan kata lain, ia adalah salah satu wajah Tuhan ketika mencipta alam ini. Makanya, di beberapa tradisi tua seperti Tantra, seks sangat disakralkan. Salah satu tokoh yang dibikin sangat bercahaya dalam hal ini bernama Saraha. Yang tidak saja berhasil membuka banyak ajaran rahasia, tapi menemukan melalui pengalaman pribadi, ternyata tubuh manusia adalah tubuh yang sangat bercahaya. Makanya semua Buddha mengalami pencerahan ketika mengenakan tubuh manusia. Dalam bahasa Saraha: “Pada akhirnya, tubuh saya adalah tempat suci tertinggi untuk diri saya sendiri”.

Jatuh cinta

Kebanyakan manusia mengalami perasaan jatuh cinta ketika masih remaja. Kesadaran seseorang jatuh dari kepala menuju hati. Logika sepertinya diambil alih oleh rasa. Banyak hal tidak masuk akal menjadi masuk akal, khususnya karena didorong oleh energi sangat kuat dari dalam. Karena energi ini sangat kuatlah maka oleh agama-agama (khususnya di tingkat pemula), seks sangat dilarang. Bisa dimaklumi, karena tanpa bekal kesadaran yang cukup, seks bisa sangat mengacaukan. Tidak sedikit perang zaman dulu yang didorong dan dikacaukan oleh energi seks. Tidak sedikit manusia yang gagal bertumbuh di jalan spiritual, lagi-lagi karena dikacaukan oleh energi seks. Dalam bahasa psikologi, ada lubang jiwa (soul holes) di dalam yang minta ditutupi. Dan di permukaan kelihatannya seks bisa menutupi lubang jiwa ini. Sebagaimana dialami banyak orang di jalan ini, semakin lubang jiwa ini mau ditutupi dengan seks, semakin lebar lubang jiwa tadi (baca: semakin banyak hal yang terasa kurang di dalam). Semakin banyak juga pintu bahaya yang terbuka.

Konsep belahan jiwa yang pertama kali terdengar di Yunani kuno juga datang dari lubang jiwa jenis ini. Karena serangkaian kekuatan di luar, jiwa manusia diduga terbelah dua. Dikira ada orang di luar yang diduga bisa menutupi jiwa manusia yang terbelah di dalam. Dan dalam sejarah manusia yang demikian panjang, sangat jarang terdengar, kalau tidak mau dikatakan tidak ada manusia yang betul-betul menemukan belahan jiwa yang sesungguhnya di luar sana. Ringkasnya begini, saat jatuh cinta khususnya manusa membuat bayangan di dalam tentang sosok belahan jiwa. Bayangan di dalam relatif tetap – dalam kisah banyak wanita ia muncul dalam bentuk sosok yang kebapakan, sabar dan bijaksana. Dalam kisah banyak pria, ia muncul dalam sosok wanita lembut keibuan, sabar, pemaaf dan penuh penerimaan – tapi realita di luar bertumbuh. Maksdunya sosok manusia di luar yang dibayangkan sebagai belahan jiwa, kadang cocok dengan bayangan di dalam, kadang tidak cocok. Itu sebabnya kenapa banyak orang jadi kecewa. Tidak sedikit yang keluarganya bubar. Yang paling sedih, tidak sedikit yang mengakhiri hidup di usia tua dengan perasaan kosong tidak mendapatkan apa-apa yang dicari. Ringkasnya, perasaan kurang di dalam hanya sejenis kompas (petunjuk arah perjalanan). Kecelakaan kehidupan terjadi, karena manusia “memakan” kompasnya. Bukan bertumbuh ke arah yang ditunjukkan. Saraha jelas sekali dalam hal ini, lubang-lubang dalam tubuh manusia (termasuk lubang organ seks) sejenis pintu masuk. Sedihnya, banyak orang hanya berdiri di pintu. Tidak melangkah masuk ke dalam.

Diangkat naik oleh cinta

Cerita gembiranya, ada manusia yang tidak menemukan belahan jiwa di luar, kemudian mengekspresikan rasa cintanya dengan cara memberi (baca: mencintai). Bukan terus menerus meminta untuk dicintai. Ibu-Ibu yang penuh cinta pada putera-puterinya adalah contoh konkrit dalam hal ini. Pria yang sangat setia pada istri dan anak-anaknya juga cerita lain. Jiwa-jiwa suci seperti Bunda Teresa dan Mahatma Gandhi yang memperuntukkan seluruh hidupnya buat orang lain adalah contoh terindah dalam hal ini. Perasaan kurang di dalam tidak mau ditutupi dengan cara menjadi pengemis di depan orang lain yang cocok dengan bayangan di dalam, melainkan diekspresikan dengan cara memberi. Dari memberi perhatian, tulus mendengarkan, meringankan beban penderitaan orang lain, sampai dengan jalan mulya pelayanan. Ini yang dimaksud dengan “diangkat naik oleh cinta”. Perasaan serba kurang di dalam mengangkat naik perjalanan jiwa. Manusia menjadi mahluk yang lebih mulya. Tidak saja melihat dirinya sebagai kumpulan daging yang terpisah, tapi juga sebagai jiwa mulya yang terhubung dengan mahluk lain secara sangat indah.

Dalam bahasa Inggris, orang-orang yang diangkat oleh cinta keadaannya seperti ini: “Being healed by love, being wholed by love”. Jiwa tersembuhkan, sekaligus dibuat semakin dekat dengan ke-u-Tuhan. Terutama karena manusia mulai “melangkah masuk ke dalam”. Tidak hanya berdiri di pintu. Apa lagi memakan kompas. Sebaliknya, arah ke dalam yang ditunjukkan kompas diikuti. Dengan cara melangkah secara nyata. Energi pemuas yang bisa menutupi lubang jiwa tidak tersedia di luar, melainkan di dalam. Tidak diperoleh dengan cara meminta dari pihak lain di luar, tapi dengan cara menemukan energi besar di dalam. Serta mengekpresikannya ke luar dalam bentuk pelayanan. Yang kemudian menjadi jembatan keterhubungan yang sangat kokoh sekaligus sangat meyakinkan. Sebagaimana sering dibagikan, keterhubungan adalah akar semua kesembuhan dan kedamaian. Ditemani jembatan keterhubungan yang kuat dan kokoh, tubuh mudah sembuh, jiwa mudah bertumbuh. Seseorang akan dihormati di keluarga, disegani di masyarakat. Mudah bahagia di usia muda, serta ditunggu oleh masa tua yang indah di usia tua.

Mekar dalam cinta

Berita lebih gembiranya, ada segelintir manusia yang tidak saja “melangkah ke dalam”, tapi juga berhasil “menikahkan” energi maskulin-feminin di dalam. Dalam bahasa orang Hindu, menemukan Lingga-Yoni di dalam. Tetua Bali menyebutnya, nyegara gunung di dalam. Perjalanan ke dalam jenis ini mirip menyentuh listrik tegangan tinggi. Begitu tersentuh, hanya ada dua kemungkinan yang terjadi: “Seseorang wafat secara mendadak, atau tercerahkan secara mendadak”. Itu sebabnya, ajaran ini sangat dirahasikan. Hanya diajarkan pada murid-murid dengan bhakti tingkat tinggi, sekaligus pada murid-murid dengan kecerdasan juga tingkat tinggi. Sebuah kombinasi yang super langka. Makanya, di semua zaman orang yang diizinkan melalui jalan setapak ini sangat sedikit. Bahkan sering tidak ada. Hanya sebagai gambaran awal dan kasar, publik pemula tidak apa-apa mengetahui langkah-langkah dasar seperti ini. Awalnya hanya sekadar pengetahuan. Mana tahu nanti menjadi pencapaian. Intinya adalah menikahkan chakra-chakra di dalam. Sebagai tambahan pengetahuan, jiwa-jiwa gelisah tidak saja gagal menikahkan chakra-chakra di dalam, tapi juga mengalami banyak halangan energi (energy blockage) di chakra-chakra bawah khususnya. Sehingga kehidupan bertumbuh dari rasa bersalah menuju perasaan yang serba gelisah.

Bagi jiwa-jiwa yang mekar dalam cinta, chakra pertama menikah dengan chakra ke dua. Ia terjadi dalam keadaan tidur yang dalam (deep sleep). Chakra ketiga menikah dengan chakra keempat dalam keadaan mimpi terang bernderang (lucid dreaming). Chakra kelima menikah dengan chakra keenam dalam keadaan terjaga (awake). Begitu ketiga pasang chakra ini menikah sempurna di dalam, di sana lotus dengan seribu kelopak mekar sangat indah di chakra ketujuh yang terletak di ubun-ubun. Ia terjadi dalam keadaan keempat yang disebut turiya (bukan tidur, bukan mimpi, bukan juga terjaga). Bhagawad Gita menggambarkan keadaan ini seperti bumi yang berisi seribu matahari. Maksudnya, jiwa menjadi terang benderang. Di setiap langkah ada Cahaya. Di sepanjang perjalanan ada lentera. Singkatnya, lubang jiwa di dalam sudah tertutupi secara sempurna. Jiwa yang tadinya terasa terbelah berubah menjadi sebuah lingkaran mandala (kesempurnaan). Ia mirip bumi, serupa bulan, tidak beda dengan matahari. Semuanya berputar melingkar di lingkaran yang sama, di keluarga spiritual Compassion, sahabat-sahabat di tingkat ini diberi gelar S3 (senyum-senyum saja). Bukan sembarang senyuman, tapi senyuman yang lahir dari pencapaian bahwa semua adalah tarian kesempurnaan. Dalam bahasa orang Tantra: “The devil and the divine are no longer unbridgeable. The devil is like mud, the divine is similar to lotus. Both are parts of the same perfection”. Bagi penekun serius di jalan ini, disarankan mengisi keseharian dengan cinta kasih: “live life with love”. Jika diberkahi, ada tangan-tangan rahasia yang akan membimbing bagaimana persisnya chakra-chakra di dalam dinikahkan.

Tanda-tanda pencapaian spiritual

Agar para sahabat lebih terang perjalanan spiritualnya, berikut tanda-tanda pencapaian hanya untuk publik pemula. Sekali lagi hanya untuk publik pemula. Pertama, seseorang mulai bertumbuh di jalan ini jika mulai merasakan bahwa lubang-lubang di tubuh (khususnya lubang di organ seks) hanya pintu masuk. Keadaan jatuh cinta adalah “bel suci” yang memanggil untuk melangkah ke dalam. Kedua, pada sahabat-sahabat yang berkeluarga khususnya, ekspresikan energi ini bersama pasangan hidup sepuas-puasnya. Terutama karena energi seks yang tertekan berlebihan seperti api dalam sekam. Pada saat yang sama, ungkapkan rasa kurang di dalam tidak dengan cara meminta, tapi dengan cara memberi. Untuk dicatat bersama, alam ini berputar dibimbing oleh hukum memberi-menerima. Begitu Anda memberi, secara alami akan menerima. Ketiga, untuk publik pemula, Anda bisa tidak tertarik pada lawan jenis di luar, hanya tertarik pada pasangan hidup yang sah, itu sudah bisa dihitung sebagai pencapaian spiritual di jalan ini. Bila keadaan chakra yang menikah di dalam belum tercapai di hidup ini, mungkin saja akan bisa dicapai di kehidupan berikutnya. Makanya, salah satu arti Tantra adalah berkelanjutan (continuation). Pencapaian di hidup ini bisa dilanjutkan di hidup berikutnya. Bagi ia yang diberkahi untuk mengalami lotus dengan seribu kelopak mekar di chakra ke tujuh, tanda utamanya cinta kasih menjadi sesuatu yang alami. Sealami air yang basah, sealami bunga yang indah. Setiap langkah keseharian menjadi langkah cinta kasih. Singkatnya, cinta kasih menjadi tanpa upaya (effortless).

***) Ini ringkasan cerita Guruji di acara social media live minggu ini tanggal 11 dan 12 desember 2021 jam 11:33 waktu Bali. Untuk membantu para sahabat yang tidak bisa bahasa Inggris. Terutama karena Guruji akan menyampaikan pesannya dalam bahasa Inggris.

Keterangan foto: Bunga teratai warna kuning keemasan mekar di dekat miniatur Borobudur di Ashram. Di mana potongan rambut dan potongan kuku Guruji selama bertahun-tahun disimpan

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.