Kesembuhan

Renungan Waisak: Perjumpaan pribadi dg agama Buddha

Ditulis oleh Gede Prama

“Bagaimana Guruji berjumpa agama Buddha?”, itu pertanyaan yg ditanyakan banyak orang. Di umur 18 tahun tatkala masih semester 1 di Udayana, ada satu hal yg sangat aneh terjadi.

Yakni mata kuliah agama Hindu tidak lulus. Setelah pernah kuliah di Denpasar, Jakarta, Inggris dan Perancis, seingat Guruji itu satu-satunya mata kuliah yg tidak lulus. Sehingga kejadian itu membekas sekali di kepala.

Dg tidak ditemani pikiran tidak positif tentang agama Hindu, Guruji sumber bacaannya kebanyakan dari Barat, sekolahnya pun di Barat. Dan sebagaimana kita tahu, di Barat yg inteleknya berkembang pesat, banyak orang jatuh cinta dg agama Buddha.

Maklum, karena agama Buddha memberikan ruang yg sangat lebar utk bertumbuhnya intelek. Serta sedikit dogma yg menakut-nakuti. Guruji termasuk bagian dari mainstream seperti itu. Dalam bahasa Hindu, ini disebut jnana yoga.

Bom Bali di tahun 2002 kemudian membuat kehidupan Guruji jungkir balik. Dari dunia material menuju dunia spiritual. Dari dunia luar menuju dunia di dalam. Dibimbing kesedihan bom Bali, kemudian menggali ke dalam diri.

Buku suci tua di hutan tua di Peru, yg lokasinya persis di balik pulau Bali benar ketika menulis: “Tidak ada kebetulan, hanya bimbingan-bimbingan”. Di awal belajar pulang ke Bali setelah bom Bali, lagi-lagi ada kejadian unik.

Salah seorang mantan Guru SMA mengirim pesan berkali-kali, agar Guruji datang ke rumahnya. Setelah didatangi, ternyata beliau seorang paranormal. Begitu melihat Guruji, beliau langsung berbicara dg suara terputus-putus.

Kerongkongannya sebesar bola ping pong, tapi pesan yg keluar lebih besar dari bola mana pun. Karena tidak jelas, mantan Guru matematika ini mengambil kertas dan pulpen. Menulis sendiri pesannya.

Dan meminta Guruji datang ke Borobudur di Jawa Tengah di tanggal, bulan, tahun, jam, menit bahkan ada detiknya. Ternyata benar, di detik itu ada “SESUATU” di Borobudur yg sangat dirahasiakan sampai sekarang.

Setelah kejadian itu, Guruji sering menyempatkan diri menginap di hotel Manohara yg berlokasi persis di sebelah Borobudur. Anehnya, selau berjumpa Guru-Guru Tibet di sana. Padahal tidak pernah janjian.

Di sebuah pagi, ada Bhiksu Tibet melakukan Puja di puncak Borobudur. Karena getaran dan vibrasinya damai sekali, Guruji duduk di belakang. Ternyata beliau adalah chanting master-nya YMM Dalai Lama. Dg kata lain, itu pemimpin upacaranya YMM Dalai Lama.

Karena demikian keadaannya, Guruji ikut retreat meditasi yg dibimbing Guru Tibet di Jakarta selama 5 hari. Masih di awal tahun 2000-an. Dan selama 5 malam berturut-turut, selalu mimpi terbang. Persis seperti pengalaman masa kecil yg kerap mimpi terbang.

Dibimbing keingintahuan seperti ini, kemudian Guruji melakukan yoga mimpi (dream yoga) berkali-kali selama bertahun-tahun, minta ditunjukkan siapa Guru hidup yg sebaiknya dihormati dan diikuti. Dan tidak pernah muncul Guru lain. Selalu yg muncul Guru yg sama yakni YMM Dalai Lama.

Di mimpi hubungan kami semakin dekat, sampai di sebuah malam Shivaratri beliau datang di mimpi memberikan huruf suci. Di malam Shivaratri tahun berikutnya, lagi beliau datang di mimpi menerangkan makna di balik huruf suci yg diberikan.

Karena demikian terang pesannya, Guruji berangkat ke Himalaya di tahun 2008 berjumpa YMM Dalai Lama. Di malam sebelum mengikuti kelas Dharma, ada sesuatu sangat rahasia terjadi. Yg biasanya dialami oleh Guru-Guru Tantra di zaman dulu.

Benar saja, tatkala melihat YMM Dalai Lama secara langsung, air mata mengalir deras sekali selama sejam lebih. Sehingga baju bagian depan basah kuyup oleh air mata. Begitu turun dari tempat mengajar, YMM Dalai Lama berjalan ke arah kami.

Dikira YMM Dalai Lama akan menjumpai orang lain, ternyata beliau menyentuh kepala Guruji dg pertanyaan sederhana: “Anda dari mana?”. Tatkala dijawab dg jawaban dari Bali, pemenang hadiah nobel perdamaian ini berbisik pelan ke telinga.

“Tidak seharusnya Anda ada di sini, karena kebanyakan orang Bali beragama Hindu”. Dg spontan Guruji menjawab balik: “Saya memimpikan Yang Mulia berkali-kali”. Kali ini pun warga negara kehormatan senat AS dan Kanada ini menjawab spontan: “Kita punya hubungan karma yg sangat kuat dari masa lalu”.

Sepulang dari Himalaya, Guruji telusuri pulau Bali pelan-pelan meniru apa yg dilakukan Mahatma Gandhi sepulang dari Afrika Selatan. Ternyata, ada banyak Pura yg masih menyimpan jejak-jejak agama Buddha Mahayana.

Yg paling menonjol adalah Pura Pegulingan di Tampak Siring Bali. Di sana pelinggih utamanya adalah Genta. Sebuah simbol yg sangat disakralkan di Buddha Tantrayana. Di Karangasem juga ada sejumlah Pura tua dg pelinggih Stupa.

Dalam bahasa Buddha dharma, Genta itu perjumpaan wisdom dg compassion. Ia simbol pencerahan. Di jalan Shiva, itu perjumpaan Shiva (kesadaran) dg Shakti (energi). Begitu setiap gerakan energi diterangi kesadaran, itu pencerahan.

Dibimbing oleh Guru simbolik, beberapa kali Guruji berjumpa pemimpin dan dosen Universitas Warmadewa Denpasar, mereka hormatnya mendalam sekali. Setelah dibuka catatan sejarah, di abad 7 saat Nusantara dipimpin Sriwijaya, di Bali yg memimpin adalah wangsa Warmadewa, yg pernah mengumumkan bahwa agama resmi pulau Bali ketika itu adalah Buddha Mahayana.

Karena diundang oleh sebuah Vihara di Jakarta, Guruji pernah mengikuti ceramah YA Thich Nhat Hanh di Jakarta. Duduk dalam jarak kurang dari 5 meter dari tempat Zen Master ini berbagi Cahaya. Lagi-lagi air mata mengalir deras sekali, membasahi baju bagian depan.

Setelah umur tidak lagi muda, di sana baru mengerti salah satu pesan Vivekananda: “Buddha cerdas sekali tatkala mengambil intisari Weda”. Seperti mengambil madu dari intisari bunga, seperti itulah rasanya setelah belajar dan melaksanakan Buddha Tantrayana selama lebih dari 20 tahun.

Hasilnya sangat layak disyukuri, tubuh relatif sehat, perjalanan jiwa relatif selamat. Keluarga dekat juga ketularan sehat selamat. Belakangan keluarganya melebar menjadi keluarga spiritual Compassion yg kesetiaannya sangat mengagumkan. Beyond words.

Menyegarkan ingatan para sahabat dekat khususnya, jangan gunakan pengalaman pribadi ini utk mengganti judul agama. Karena perjalanan spiritual tiap orang unik-unik. Tidak bisa dibandingkan.

Meminjam sarannya YMM Dalai Lama pada sahabat Gereja di Barat: “Don’t be a second Buddhist, be the first Chistian”. Jika bule datang ke Vihara, tidak bisa dihindari ia akan jadi warga kelas dua. Tapi jika melaksanakan cinta kasih secara sempurna, sahabat bule akan menjadi warga Gereja kelas satu.

Saran yg sama juga pernah diberikan oleh Mahatma Gandhi. Di sebuah pertemuan di London, ada bule bertanya begini: “Mahatma, apakah boleh saya menjadi penganut Hindu seperti Anda?”.

Pria sederhana berhati sangat mulya ini langsung menjawab: “Boleh, tapi dengan cara menjadi warga Gereja yg berhati sangat mulya”. Itu sebabnya, sahabat dekat yg minta izin pindah agama, entah menjadi Buddha atau menjadi Hindu, semuanya diberikan saran yg sama.

“Bloom where you are planted”. Mekarlah di mana pun kehidupan melahirkan Anda. Gunakan ajaran meditasi yg mengalir melalui Guruji utk mempercantik taman jiwa di dalam. “Bertumbuh dari hati yg pemarah menuju hati yg pemurah”, itu sudah lebih dari cukup.

Selamat hari Tri Suci Waisak. Semoga semua mahluk berbahagia. Semoga semua mahluk berbahagia. Semoga semua mahluk berbahagia. Semoga semua mahluk berbahagia. Semoga semua mahluk berbahagia.

Foto: Patung-patung Buddha yg ada di Ashram tempat Guruji bermukim di perbukitan di Bali Utara.

Music courtesy: Youtube Meditative Mind

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.