Kesembuhan

Ringkasan cerita live Guruji hari ini: Musik sebagai Sarana Kesembuhan

Ditulis oleh Gede Prama

Terimakasih dari lubuk hati yg terdalam pada ribuan sahabat yg bergabung pada acara live baik hari ini maupun kemaren.

Utk menyempurnakan pelayanan, berikut ringkasan cerita Guruji di hari ini:

  1. Tubuh sebagai tempat suci kesembuhan

Karena tubuh manusia adalah mesin paling rumit di alam ini, belajar menyembuhkan diri dg kesederhanaan: “Tubuh adalah aliran energi”.

Cermati tempat bocornya energi paling besar, yakni pikiran negatif yg penuh kritik. Temukan sumber energi di dalam yg tidak pernah kering.

Dari rasa berkecukupan, rasa terimakasih, sampai rasa syukur mendalam. Agar sehat selamat sampai tua, kenali God as a law (Tuhan sebagai hukum).

Bayangkan lingkaran Yin-Yang, ia yg mengambil bagian putih sangat banyak (kekayaan, keterkenalan, pujian, dll), siap-siap membayaranya dg bagian hitam (kesialan, cacian, keluarga terbakar, dll) juga dalam jumlah banyak.

Jika tidak yakin akan siap menghadapi beban gelap yg banyak, ambil bagian putih secukupnya saja. Sehingga beban hitamnya juga secukupnya saja.

Intinya tidak jauh dari hukum keseimbangan. Mengutip dari ayur veda (the science of longevity): “Ada sebuah tempat dalam tubuh manusia yg bebas dari penyakit. Ia bernama kesehatan sempurna. Kesehatan sempurna mungkin terjadi jika keseimbangannya juga sempurna”.

  1. Daya sembuh musik

Musik berfungsi sebagai cermin (music as mirror), sekaligus kekuatan yg menyembuhkan (music as healer). Sebagai cermin, musik memberi masukan tentang chakra-chakra.

Ia yg banyak halangan di chakra 1 dan 2 (tidak jauh dari sex), biasanya suka musik dg suara drum yg dominan. Tidak kebetulan upacara orang Shaman, upacara orang Bali juga ditandai oleh suara drum yg dominan.

Karena ia menentramkan alam bawah. Anda yg halangan energi di chakra 3, biasanya suka suara gitar atau harpa. Ia yg panggilan alaminya berkaitan dg hati (chakra 4), atau punya kelebihan di suara (kerongkongan) suka seruling (biola).

Sedangkan Anda yg chakra 6 dan 7 suka bergetar, biasanya menyukai suara Genta (bel). Tidak kebetulan jika di Hindu-Buddha orang suci berdoa menggunakan Genta. Di Gereja juga ada bel suci yg bentuknya mirip Genta.

Karena suara bel memang mengangkat perjalanan jiwa. Khususnya bagi ia yg halus dan lembut, kemudian bisa merasakan jeda diantara dua suara.

Agar tersembuhkan oleh musik, baik ia yg suka drum maupun gitar, latih diri utk semakin lama mendengarkan suara drum (gitar) yg semakin lembut dan halus.

Sehingga jiwa di dalam ketularan semakin lama semakin halus dan semakin lembut. Bagi pencinta seruling, dalami pesan spiritual di balik seruling.

Seruling dibuat dari bambu yg disakiti. Pesannya, rasa sakit memang memurnikan dan menyempurnakan. Ajakannya, tiap kali disakiti, ingatkan diri, nanti akan menjadi seruling yg semakin indah dan semakin cantik.

Pencita suara Genta, itu simbol perjumpaan energi feminin (bagian bawah Genta) dg energi maskulin (bagian atas Genta). Orang Shiva-Buddha menyebutnya perjumpaan Buddha (stupa bagian bawah) dg Linggam (bagian atas Genta).

Sebuah perjumpaan yg sangat menyempurnakan: “Tatkala feminin dan maskulin menyatu sempurna di dalam. Itulah pencerahan”.

Semoga semua mahluk berbahagia. Semoga semua mahluk berbahagia. Semoga semua mahluk berbahagia. Semoga semua mahluk berbahagia.

Foto: Tangga turun dari Secret Temple di Ashram

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.