Kesembuhan

Puncak Semua Kemenangan

Ditulis oleh Gede Prama

Di zaman dulu karena tidak ada perangkat baca tulis, tetua mewariskan ajaran suci melalui simbol-simbol. Itu terjadi di seluruh dunia.

Di pulau cinta kasih Bali, hari ini hari penampahan Galungan. Simbolnya memotong babi ketidaktahuan (avidya). Jika berhasil, besok di Galungan bisa menjadi seorang pemenang.

Sebagaimana belajar fisika, ketidaktahuan juga ada banyak tingkatannya. Tapi diantara semua ketidaktahuan, yg paling berbahaya adalah menganggap dualitas itu ada dan nyata.

Sebagaimana diteliti di dunia neuro-science (otak), dualitas seperti salah-benar, sedih senang, itu cara otak mengerti realita. Bukan realita.

Otak manusia hanya bisa mengerti Cahaya jika ada kegelapan, baru mengerti warna putih jika ada warna bukan putih. Tanpa dualitas, otak akan gagal mengerti.

Cerita sedihnya, sejak dulu banyak manusia yg tidak bisa membedakan ini: “Mana realita, mana cara otak mengerti realita”. Ujungnya adalah penderitaan yg tidak berujung.

Perhatikan mata manusia sejak dulu sampai kini, nyaris semuanya penuh penderitaan: “Menangis saat kehidupan tidak sesuai harapan, tertawa tatkala kehidupan sesuai dg harapan”.

Padahal, kehidupan selalu bergerak melampaui semua harapan. Sekali lagi, melampaui semua harapan. Penderitaan terjadi, karena memaksa kehidupan harus sama dg harapan.

Benih kesembuhan dan kedamaian mulai tumbuh indah di dalam, begitu seseorang meletakkan harapan di tempat semula sebagai pelayan.

Harapan hanya pelayan sementara. Yg membuat bangun pagi lebih indah, yg membuat hidup berisi banyak energi, yg membuat langkah ke depan jadi bertenaga.

Tapi jangan lupa, begitu harapan tidak terpenuhi, kembalilah ke sifat alami kehidupan yg selalu mengalir. Apa saja yg terlahir, pasti mati suatu hari.

Semenjengkelkan dan semenyenangkan apa pun seseorang, ia pasti berpisah. Ingat, secantik apa pun bunga indah, ia akan jadi sampah.

Makanya, keluarga spiritual Compassion sejak awal telah dibimbing dg pesan ringkas tapi apik: “Terima, mengalir, senyum”. Semua adalah tarian kesempurnaan.

Begitu menyatu dg tarian suci di alam, di sana seseorang baru mengerti pesan GA Buddha berupa anatta. Tidak ada diri yg tetap, ada diri yg mengalir.

Tidak ada diri yg terpisah, ada diri yg serba terhubung. Dalam bahasa fisika, semuanya hanya energi yg serba terhubung. Fisikawan bernas Dr. David Bohm menulis: “Health comes from whole”.

Kesembuhan dan kedamaian hanya bisa dicapai oleh ia yg tinggal di rumah indah ke-u-Tuhan. Di tingkatan ini, kematian tidak disertai tangisan, ia terbukanya pintu kebebasan.

Sehingga bisa dimaklumi, tetua suku Indian di Amerika pernah berpesan: “Back home as a hero”. Tatkala wafat, ingat utk pulang sebagai pememang.

Dan diantara semua kemenangan, yg paling menyelamatkan perjalanan jiwa adalah kebebasan. Krisnamurti menyebutnya Freedom from the known.

Tetua di China memberinya nama Tao. Di atap bumi Tibet disebut Rigpa. Tetua Bali menyebutnya Embang (the ultimate silence). Semoga semua mahluk berbahagia.

Photo courtesy: Pexels

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.