Kesembuhan

Mahluk suci dari langit yg meminjam tubuh manusia…

Ditulis oleh Gede Prama

Di tahun 1930-an,  pemenang nobel sastra Rabindranath Tagore pernah berjumpa wanita berhati sangat indah bernama Helen Keller di AS.

Wanita yg tidak bisa melihat dan tidak bisa mendengar ini bercerita: “Sitting beside Tagore and sharing his thoughts is like spending one’s days beside the Sacred River, drinking deep of honeyed wisdom”.

Berada di dekat jiwa yg Agung seperti Tagore mirip dg duduk di pinggir “Sungai Suci” yg penuh dg madu kebijaksanaan dan keindahan.

Sedihnya, sangat sedikit ada jiwa sangat indah seperti Helen Keller. Yg bisa merasakan keindahan jiwa-jiwa yg Agung seperti Rabindranath Tagore.

Ia mirip dunia binatang. Hanya kupu-kupu indah  dan lebah yg bisa mengerti indahnya bunga indah. Hanya jiwa yg indah yg bisa menghormati jiwa yg indah.

Di youtube ada cerita indah dari Dolores Cannon tentang 12 ciri manusia yg datang dari keluarga bintang-bintang di langit (stars family).

Tatkala pertama kali menonton video ini, Guruji menangis terharu sekali, karena semua 12 ciri itu Guruji alami sejak kecil.

Tatkala berumur sebelum sekolah, sering menangis sendiri di rumah orang tua, memanggil-manggil ke langit. Seperti bercerita: “Rumah saya tidak di sini”.

Setelah dipelajari, ternyata jiwa-jiwa suci yg datang dari keluarga bintang-bintang di langit mulai ramai lahir ke bumi sejak tahun 1940-an.

Setelah bom atom meledak di Hiroshima Jepang. Tidak sedikit mahluk dari alam bintang-bintang ini penuh empati ke mahluk-mahluk bumi.

Karena mahluk-mahluk bumi sedang menghancurkan dirinya dan planetnya dg kekuatan seperti bom atom. Dari sanalah mahluk-mahluk langit berdatangan ke bumi.

Semuanya datang dg misi yg sama: “Membantu mahluk-mahluk bumi agar hidup harmoni. Merawat planet bumi menjadi planet yg penuh harmoni”.

Dan tantangannya sangat tidak mudah, sebagian bahkan dibunuh orang. Mengacu pada pengalaman Buddha Avalokiteshvara di Tibet.

Setelah berkali-kali lahir di Tibet, tetap saja orang Tibet tidak berubah. Kemudian beliau menangis. Air matanya berubah menjadi Dewi Tara.

Bayangkan, bahkan seorang Buddha pun tidak mudah berbagi Cahaya di bumi. Kendati demikian, terus saja lahir jiwa-jiwa suci dari langit meminjam tubuh manusia.

Meminjam kearifan tua pulau Bali: “Hidup seperti menyapu lantai”. Kendati debunya terus disapu, debunya datang lagi dan lagi.

Kendati kedamaian terus disebarkan, kekerasan datang lagi dan lagi. Meskipun demikian, teruslah sebarkan kedamaian.

Mengulangi pesan sebelumnya, pada akhirnya perjalanan itulah tujuan. Semoga semua sahabat dijumpai dalam keadaan sehat bahagia bersama keluarga.

Photo courtesy: Fb account of Nobel Prize. Hellen Keller & Rabindranath Tagore berjumpa di AS tahun 1930
Shambala meditation center: bellofpeace.org, belkedamaian.org
#bali #love #peace #meditation #healing #healingjourney

Tentang Penulis

Gede Prama

Guruji Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Detil dan kontak di https://www.gedeprama.com/

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.