Kesembuhan

Memenangkan ke-u-Tuhan

Ditulis oleh Gede Prama

Tidak banyak orang yg “waspada” dg sejarah, kemudian mengizinkan zaman berputar tidak seimbang. Bahkan masyarakat jadi sakit.

Nyaris semua sejarah ditulis oleh pemenang. Pihak yg kalah tidak diizinkan ikut menulis sejarah. Sebut saja sejarah partai komunis di tahun 1965.

Cerita tentang pihak yg kalah nyaris semuanya buruk. Padahal, dalam tiap konflik kedua belah pihak ikut berperan. Sekali lagi kedua belah pihak.

Dg tidak menyebut orang komunis di tahun 1965 benar, sekali lagi tidak, di kelas meditasi sering terbuka rahasia betapa dalam luka jiwa orang yg orang tuanya dihabisi di tahun 1965.

Salah satunya, ada keluarga korban tahun 1965 yg Ibunya sakit mental, kakak prianya sakit mental. Dan yg menggendong keluarga ini adalah seorang wanita muda yg kemampuan ekonominya pas-pasan.

Kisah yg sama terjadi dg hari raya Galungan di Bali. Cerita tentang Mayadenawa yg wafat, nyaris semuanya buruk.

Mari ingatkan diri lagi dan lagi, sebelum dibuat sakit oleh sejarah, sejarah ditulis oleh pihak yg menang. Yg kalah tidak diizinkan ikut menulis sejarah.

Agar tidak dibuat sakit oleh sejarah, mari mengenakan kacamata ke-u-Tuhan. Maksudnya, melihat sejarah secara lebih seimbang.

Sejauh yg bisa dilihat dg mata spiritual, Mayadenawa mengikuti jalan Buddha Mahayana. Intisari ajarannya adalah Shunyata (kekosongan).

Oleh orang yg bermusuhan, dg mudah kekosongan ini disebut komunis. Kemudian digunakan sebagai alasan utk membunuh orang lain.

Yg namanya ke-u-Tuhan sederhana, Tuhan bergerak dinamis antara kosong dan isi. Pemuja Tuhan umumnya bertimbuh di wilayah “isi”.

Angkanya 1. Orang Hindu menyebutnya Atman. Tapi orang Buddha yg menggarisbawahi kekosongan menyebut Anatman. Angkanya 0.

Pikiran sempit dan dangkal yg ditunggangi kepentingan politik kemudian menyebut yg satu bermusuhan dg yg lain. Bahkan berani memusnahkan yg lain.

Wajah ke-u-Tuhan yg mau diperkenalkan pada sahabat Bali sederhana, Tuhan sesungguhnya melampaui segala ukuran.

Tapi jika mau diangkakakan, Ia bergerak dinamis antara angka 1 dan 0. Dg wawasan seperti ini, tidak perlu membenci Mayadenawa.

Tidak perlu juga mengagungkan raja yg membunuh Mayadenawa. Keduanya adalah bagian dari tarian kesempurnaan yg sama.

Dibekali wawasan seperti ini, tidak perlu membenci sebagian kecil warga Bali asli yg tidak merayakan hari raya Galungan. Tidak perlu!

Belajar saling menghormati. Dibekali pengertian, di alam ini ada banyak jalan bertumbuh. Kamboja di tanah kering, lotus di kolam basah.

Ikan di air, burung di udara. Ada yg menyukai keramaian, ada yg menyukai kesendirian. Dan semuanya bahagia di tempat alaminya.

Dg cara ini, masyarakat tidak perlu dibikin “sakit” oleh sejarah yg tidak seimbang. Pada saat yg sama, dibekali oleh ke-u-Tuhan.

Akibatnya, benih-benih buruk seperti kemarahan layu, benih-benih indah seperti kebaikan & kedamaian tumbuh mudah sekaligus indah.

Sehingga ke depan, masyarakat Bali khususnya bisa bertumbuh jauh dari sejarah yg sakit. Sebaliknya, tumbuh bersama sejarah yg lebih sehat.

Selamat hari raya Galungan pada sahabat Bali yg merayakan Galungan. Selamat libur pada sahabat Bali yg tidak merayakan Galungan.

Photo courtesy: Pexels
Shambala meditation center: bellofpeace.org, belkedamaian.org

bali #love #peace #meditation #healing #healingjourney

Tentang Penulis

Gede Prama

Guruji Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Detil dan kontak di https://www.gedeprama.com/

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.