Kesembuhan

Ucapan terimakasih dari lubuk hati yg terdalam…

Ditulis oleh Gede Prama

Menyusul selesainya Compassion Day yg merayakan ulang tahun Guruji yg ke-61, terimakasih yg sangat dalam diucapkan pada:

  1. Keluarga Compassion Jakarta diwakili pak Sudarmin Sun & keluarga Compassion Bali yg diwakili pak Adi Wiryawan , keduanya menjadi motor utama dalam acara super meriah ini
  2. STAHN Mpu Kuturan Singaraja, STIE Satya Dharma Singaraja yg meminjamkan tempat mereka yg sangat indah
  3. Ribuan sahabat di medos, sebagian bahkan mengirim banyak bintang di jaringan medsos keluarga Compassion, serta komentar-komentar yg sangat memotivasi.

Utk menyempurnakan pelayanan pada para sahabat, berikut diringkaskan pesan yg disampaikan di Compassion Day 2024 ini.

  1. The future of education

Di zaman kita, teknologi adalah sumber bahaya sekaligus sumber Cahaya. Agar menjadi sumber Cahaya, belajar cerdas di depan teknologi.

Manusia yg menjadi tuan, teknologi yg menjadi pelayan. Bukan sebaliknya!. Sisi kecerdasan, kecermatan, kecepatan pendidikan memang diambil oleh AI (artificial intelligence).

Guruji sendiri mengalaminya secara pribadi. Bagaimana kursus bahasa Inggris melalui AI bisa memberi manfaat yg cepat, akurat dan sangat cerdas.

Jika tidak cerdas di depan teknologi AI, tidak tertutup kemungkinan sekolah semuanya akan tutup. Gedung sekolah akan mangkrak.

Berita baiknya, ada peluang yg terbuka. Secerdas apa pun AI, ia tanpa “roh” (soul). Anjurannya, seawal mungkin kembangkan pendikan yg ada “roh”-nya.

Salah satu cara dalam hal ini adalah “brain-heart harmony”. Pendidikan yg menyeimbangkan antara otak dan hati. Kepintaran dan kebaikan.

Karena zaman medsos miskin keakraban (intimacy), kembangkan sekolah yg penuh keakraban. Bila perlu, bikin sekolah lebih indah dari keluarga di rumah.

Sehingga anak didik bisa menemukan “home” (rumah betah di sekolah). Dan yg disentuh tidak saja otak tapi juga hati.

Tanpa langkah cerdas seperti ini, sekolah hanya akan berfungsi sebagai lembaga sertifikasi. Gedung-gedungnya akan mangkrak.

  1. Kaya di luar, kaya di dalam

Survey Gall Up dg sampel seluruh dunia bercerita, aspirasi anak muda zaman ini sederhana: “Cepat kaya dan terkenal”. Tidak salah tentu saja!

Sekali lagi tidak salah!. Catatannya, kaya dan terkenal di luar saja tidak cukup. Bahkan bisa berbahaya. Tidak sedikit orang terkenal dunia yg bunuh diri.

Tidak sedikit yg keluarganya bubar setelah kaya dan terkenal. Tidak sedikit anak muda yg terkena penyakit kronis saat usianya belum 40 tahun.

Jalan keluarnya, imbangi “mencari materi” dg “mencari energi”. Sekali lagi: “Mencari energi”. Materi ukurannya jelas: “uang, tabungan, keterkenalan”.

Energi ukurannya lebih halus: “Rasa aman, nyaman, tenang seimbang”. Damai di dalam, berbagi kedamaian ke luar. Jauh dari ketegangan.

Dg kata lain, saat mengejar kekayaan, dengarkan juga rasa nyaman di dalam. Rasa tidak nyaman yg menumpuk bertahun-tahun bisa bertumbuh menjadi bahaya.

Dari sakit kronis sampai bunuh diri. Dari keluarga bubar sampai masa tua yg terbakar. Utk itu, seimbanglah antara kaya di luar dg kaya di dalam.

Jika tempat kerja terlalu panas, apa lagi sering gelisah dan marah, tidak ada salahnya mencari tempat kerja yg lebih nyaman dan tenang.

Kalai tidak bisa, bikin rumah jadi nyaman dan tenang. Setidaknya bikin akhir pekan jadi nyaman dan tenang. Tanpa keseimbangan jenis ini, generasi baru terancam bahaya.

Jika ditemani keseimbangan jenis ini, generasi baru bisa penuh Cahaya. Sekaligus membawa dunia jadi jauh lebih bercahaya.

Video cantik ini dipersembahkan oleh kel.Compassion Rina Rbi
Shambala meditation center: bellofpeace.org, belkedamaian.org

bali #love #peace #meditation #healing #healingjourney

Tentang Penulis

Gede Prama

Guruji Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Detil dan kontak di https://www.gedeprama.com/

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.