Kesembuhan

Malam Shiva sekaligus gerhana

Ditulis oleh Gede Prama

Malam ini 8/4 2024 malam unik. Jarang terjadi!. Di satu sisi, ia malam tanpa bulan, malam waktu ketika pemuja Shiva banyak berdoa.

Di tengah malam ada gerhana. Sebuah ramuan unik yg jarang terjadi. Di waktu seperti ini, sebaiknya melakukan perenungan yg dalam.

Utk membantu para sahabat, di alam ini ada banyak ajaran. Buddha menyukai bulan Purnama. Sahabat Muslim menyenangi bulan sabit.

YMA Lama Padmashambawa senang dg setengah bulan. Pemuja Shiva juga menyenangi bulan sabit yg dekat dg malam tanpa bulan.

Yg sifatnya sangat rahasia, ajaran suci yg dekat dg Gerhana. Tidak banyak orang boleh memasuki wilayan ini. Bagi orang biasa sangat berbahaya.

Utk konsumsi publik, tidak disarankan utk menyebut yg satu lebih begini dibandingkan yg lain. Yg dianjurkan adalah melihat dg wawasan yg luas.

Bagi publik pemula, mengikuti jalan orang tua adalah jalan yg aman. Apa pun agama yg diwariskan orang tua, diikuti saja dg tulus dan ikhlas.

Bagi jiwa-jiwa yg peka, dianjurkan utk sensitif merasakan tiap putaran waktu. Gunakan kenyamanan di dalam sebagai kompas.

Jika rasa nyaman menunjukkan ajaran yg berbeda dg yg diwariskan orang tua, tidak perlu radikal dg cara pindah agama. Tidak perlu!

Cukup laksanakan ajaran yg cocok. Hormati ajaran lain yg berbeda. YM Thich Nhat Hanh adalah salah satu tokoh di jalan ini.

“Buddhism is not religion. Budhhism is a practice like yoga. You can practice Buddhism and at the same time become a catholic priest”.

Buddha bukan agama, begitu cerita YM Thich Nhat Hanh. Melainkan sebuah praktik spiritual mirip yoga. Orang bisa melaksanakan ajaran Buddha.

Pada saat yg sama tetap menjadi Romo Katolik misalnya. Utk putaran zaman ini, pendekatan ini relatif nyaman dan aman.

Kapan saja seseorang tercerahkan secara sempurna, di sana ia akan mengerti: “Pikiran tercerahkan serupa ruang, agama mirip kotak”.

Dan tidak ada kotak yg bisa menampung seluruh ruang di alam ini. Makanya, orang tercerahkan merasa lebih nyaman di keheningan.

Di Islam ada Rumi: “Silence is the only language of God. The rest is only poor translation”. Keheningan adalah satu-satunya bahasa Tuhan.

Selebihnya hanya kekeliruan dalam penterjemahan. Seorang pengembara pernah bertanya ke Buddha: “Yg benar, ada atman atau tidak ada atman?”.

Buddha hanya diam! Tiap kali ada konflik yg tidak terselesaikan, Mahatma Gandhi selalu memilih diam tanpa kata-kata sama sekali.

Berita indah dari Bali, tetua Bali yg memutuskan tahun baru sebagai Nyepi, menyebut Tuhan dg nama Hyang Embang (keheningan yg maha sempurna), tidak diragukan, ia telah tercerahkan.

Dan di sepanjang sejarah Bali, nyaris tidak terdengar ada tokoh spiritual Bali yg sepadan dg pencapaian ini. Selamat berdoa para sahabat.

Photo courtesy: Unsplash
Shambala meditation center: bellofpeace.org, belkedamaian.org

bali #love #peace #meditation #healing #healingjourney

Tentang Penulis

Gede Prama

Guruji Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Detil dan kontak di https://www.gedeprama.com/

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.