Kesembuhan

Selamat Hari Waisak:Pahlawan sejati di zaman kita…

Ditulis oleh Gede Prama

“Tidak ada ilmuwan yang dapat memprediksi konsekuensi dari temuannya”, begitulah pengalaman banyak ilmuwan. Mari kita ambil contoh bom.  Para ilmuwan yang menemukannya tidak pernah berpikir bahwa temuan mereka akan membunuh banyak orang, akan menginspirasi terorisme yang juga merenggut banyak nyawa.

Hal serupa juga terjadi pada Prof. David Mc. Clleland dari Harvard yang menerbitkan “The Achievement Society” yang menggarisbawahi pentingnya menjadi nomor satu.  Seperti yang bisa kita lihat saat ini, baik itu peperangan yang terjadi di perbatasan Israel-Palestina dan Ukraina, penyakit-penyakit sosial seperti bunuh diri, depresi, semuanya berakar pada energi yang kuat untuk menjadi nomor satu.

Pada awalnya, gagasan untuk menjadi nomor satu menjadi sumber motivasi.  Hal ini tumbuh menjadi sumber persaingan yang berlebihan. Persaingan yang terakhir menjadi induk dari ketidakpuasan.  Hal ini merangsang penyakit sosial yang tak terhitung jumlahnya seperti depresi, kesepian hingga perang.

Di tengah kekacauan seperti itu, adalah bijaksana untuk merenungkan “Filosofi menjadi yang kedua”. Anda juga bisa sehat, bahagia dan suci ketika menjadi orang kedua.

Filosofi menjadi yang kedua…

Filosofi menjadi orang kedua berkisar pada peran yang mendukung dan melengkapi kepemimpinan, bukan berusaha menjadi tokoh utama.  Pendekatan ini mengakui nilai dan pentingnya posisi sekunder dan berupaya memahami kontribusi unik dan kekuatan yang melekat dalam peran-peran tersebut.

Menjadi orang nomor dua sering kali melibatkan pemberian dukungan penting, pelaksanaan strategi, dan memastikan kelancaran proses yang diprakarsai oleh para pemimpin. Filosofi ini mengakui bahwa kerja tim yang efektif memerlukan individu yang bahagia dan terampil dalam peran sekunder.  Hal ini memperjuangkan gagasan bahwa kepemimpinan bukan hanya tentang memegang kendali tetapi juga tentang membina lingkungan di mana setiap peran, primer atau sekunder, dihargai dan dianggap penting.

Sepanjang sejarah, banyak tokoh penting yang memainkan peran nomor dua namun memiliki dampak yang besar. Misalnya, Nikola Tesla, meskipun tidak dikenal secara luas seperti Thomas Edison pada masanya, ia telah memberikan kontribusi yang luar biasa terhadap pengembangan teknologi arus bolak-balik (Alternating Current).  Demikian pula, dalam berbagai budaya, peran penasihat atau wakil terpercaya sering kali dihormati, terlihat dari tingginya penghargaan terhadap tokoh-tokoh seperti Aristoteles, murid Plato dan guru Alexander Agung.

Dari sudut pandang filosofis, menjadi orang kedua sejalan dengan prinsip altruisme dan pelayanan.  Hal ini menunjukkan suatu bentuk kepemimpinan yang bukan tentang kejayaan pribadi tetapi tentang kebaikan kolektif.  Pendekatan ini terlihat dalam ajaran berbagai tradisi dalam filsafat.  Misalnya, Konfusianisme menekankan pentingnya peran dan hubungan dalam menjaga keharmonisan sosial.  Konfusius berpendapat bahwa memahami dan memenuhi peran seseorang dalam hierarki, baik sebagai pemimpin atau bawahan, sangat penting untuk keseimbangan dan kesejahteraan masyarakat.

Hal serupa juga terjadi pada ajaran Buddha Mahayana.  Fokusnya bukan lagi pada pembebasan pribadi, namun pada pembebasan seluruh makhluk hidup. Itu sebabnya dalam agama Buddha Mahayana ada pahlawan spiritual yang disebut Bodhisattwa.  Pahlawan spiritual ini telah bersumpah untuk bereinkarnasi lagi dan lagi, sampai suatu hari alam penderitaan ini benar-benar kosong.

Filosofi menjadi yang kedua dalam praktik keseharian..

Dalam lingkungan kontemporer, filosofi menjadi orang nomor dua dapat dilihat dalam dinamika organisasi dan tim.  Organisasi yang efektif menyadari pentingnya peran yang mungkin tidak menjadi sorotan namun sangat penting untuk kesuksesan. Misalnya, Chief Operating Officer (COO) sering kali menempati posisi kedua setelah Chief Executive Officer (CEO) namun berperan penting dalam mengelola operasi sehari-hari yang memungkinkan CEO untuk fokus pada visi strategis dan kepemimpinan.

Merangkul peran sekunder dapat mengarah pada kepuasan pribadi dan profesional.  Hal ini memungkinkan individu untuk mengkhususkan dan mengasah keterampilan mereka di bidang tertentu tanpa tekanan dan visibilitas posisi kepemimpinan utama. Selain itu, hal ini menumbuhkan budaya kerendahan hati dan kerja sama, di mana kesuksesan dipandang sebagai pencapaian kolektif dan bukan penghargaan individu.

Kesimpulannya

Filosofi menjadi orang nomor dua menantang gagasan tradisional bahwa kepemimpinan utama adalah posisi yang paling diinginkan dan didambakan. Hal ini menyoroti pentingnya peran sekunder dalam mencapai tujuan organisasi dan masyarakat, menekankan bahwa kepemimpinan sejati melibatkan pengakuan dan penilaian kontribusi setiap anggota. Dengan menganut filosofi ini, individu dan organisasi dapat mengembangkan pendekatan yang lebih inklusif dan efektif terhadap konsep kepemimpinan dan kesuksesan.

Pada tingkat pribadi, filosofi menjadi orang nomor dua membuat orang mengalami lebih sedikit stres, lebih sedikit persaingan, lebih sedikit kesepian, dan lebih sedikit konflik.  Pada level kepemimpinan, pemimpin tidak lagi menjadi pelayan kekerasan, mereka mulai belajar menjadi pelayan perdamaian.  Sejujurnya, itulah pahlawan sejati di zaman kita.  Pertama-tama, mereka menghentikan perang di dalam melalui praktik memaafkan yang mendalam.  Begitu perang di dalam berhenti, perang di luar juga bisa dihentikan.

Foto milik: Akun Fb Rumi Loves, Art Empire
Pusat meditasi Shambala: bellofpeace.org, belkedamaian.org
#bali #love #peace #meditation #healing #healingjourney #harmoni

Tentang Penulis

Gede Prama

Guruji Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Detil dan kontak di https://www.gedeprama.com/

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.