Kesembuhan

Mekar indah dalam lumpur penderitaan…

Ditulis oleh Gede Prama

“Penderitaan berawal dari pikiran. Berkah juga berawal dari pikiran”, begitulah pengalaman banyak jiwa-jiwa yang bijak. Banyak hal dapat menjadi sumber penderitaan, ketika seseorang berpikiran sempit dan tertutup. Mereka bahkan lebih menderita, jika pikiran terus membandingkan diri dengan orang yang lebih sukses. Bahkan hal-hal kecil dapat dilihat sebagai berkah, jika Anda melihat dari sudut pandang yang positif, fokuslah pada pelajaran bukan hukumannya. Anda akan diberkati oleh berkah yang tak terhitung jumlahnya, jika pikiran diterangi oleh banyak rasa syukur.

Dengan dibimbing oleh wawasan terakhir, sekarang mari kita renungkan bersama sisi berkah dari penderitaan. Begitu pikiran dilatih secara mendalam untuk melihat penderitaan sebagai berkah, Anda akan lebih sedikit menderita. Jika Anda diberkati untuk mencapai pencerahan, Anda dapat terbebas dari penderitaan. Tubuh pasti akan menua, mengalami penyakit, tetapi Anda dapat tersenyum terhadap semua penderitaan. Karena penderitaan itu seperti terik matahari yang membuat bunga mekar, mirip dengan tiupan angin yang membuat layang-layang dapat terbang tinggi.

Paradoks namun mendalam…

Konsep penderitaan sebagai berkah bersifat paradoks namun mendalam, bergema dalam berbagai kerangka filosofis, agama, dan pertumbuhan pribadi. Meskipun penderitaan biasanya dipandang negatif, penderitaan sering kali berfungsi sebagai katalisator perubahan, ketahanan, dan wawasan yang signifikan.

Dari perspektif filosofis, penderitaan dapat dilihat sebagai bagian berkesinambungan dari pengalaman manusia yang mendorong pada pertumbuhan. Nietzsche yang terkenal menyatakan, “Apa yang tidak membunuh kita dapat membuat kita lebih kuat.” Sudut pandang ini menunjukkan bahwa menanggung setiap jenis kesulitan dapat menghasilkan peningkatan kekuatan dan karakter, yang memungkinkan individu menghadapi tantangan masa depan dengan ketabahan yang lebih besar.

Penderitaan sebagai matahari terbit…

Agama-agama di seluruh dunia menggemakan sentimen ini. Dalam agama Kristen, penderitaan sering kali dianggap sebagai sarana pemurnian spiritual dan kedekatan dengan Tuhan. Kisah Ayub, misalnya, menggambarkan bagaimana menanggung penderitaan ekstrem dengan iman dapat mengarah pada penebusan akhir dan cinta kasih ilahi. Sebaliknya, agama Buddha mengajarkan bahwa penderitaan adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan (dukkha) dan memahaminya sangat penting untuk mencapai pencerahan.  Melalui Empat Kebenaran Mulia, umat Buddha belajar bahwa penderitaan muncul dari keterikatan dan keinginan, dan melalui penghentian hal-hal tersebut seseorang mencapai Nirwana.

Pada tingkat pribadi, banyak individu menemukan bahwa periode pertumbuhan dan penemuan jati diri terbesar mereka muncul dari pengalaman yang paling menantang. Penderitaan sering kali mendorong introspeksi dan evaluasi ulang prioritas, yang mengarah pada pemahaman yang lebih dalam tentang diri sendiri dan tujuan hidup seseorang. Hal ini dapat menumbuhkan empati dan cinta kasih, karena mereka yang telah menderita cenderung lebih menghargai dan mendukung orang lain dalam perjuangan mereka.

Penderitaan sebagai berkah tersembunyi…

Intinya, meskipun penderitaan tidak dapat disangkal menyakitkan dan sering kali tidak diinginkan, penderitaan dapat bersifat transformatif. Penderitaan adalah amplas yang menghaluskan, memaksa individu untuk menghadapi jati diri mereka yang sebenarnya dan memberikan makna yang lebih dalam di dalam kehidupan. Penderitaan memang menyakitkan, asal cerdas menjalaninya, penderitaan juga membuat jiwa mengalami transformasi. Dari kepompong yg buruk, menjadi kupu-kupu yg indah.

Foto milik: Akun Fb The perfect pictures, Nature
Pusat meditasi Shambala: bellofpeace.org, belkedamaian.org
#bali #cinta #perdamaian #meditasi #penyembuhan #perjalananpenyembuhan #harmoni #gurujigedeprama

Tentang Penulis

Gede Prama

Guruji Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Detil dan kontak di https://www.gedeprama.com/

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.